“Drone” Elang Hitam Perkuat Pengawasan Menjaga NKRI | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Sains dan Teknologi I PUNA Dilengkapi Senjata Rudal

“Drone” Elang Hitam Perkuat Pengawasan Menjaga NKRI

“Drone” Elang Hitam Perkuat Pengawasan Menjaga NKRI

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Drone Elang Hitam atau atau Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Medium Altitude Long Endurance merupakan salah satu teknologi yang dimiliki pemerintah di sektor industri pertahanan. Drone ini dapat dioptimalkan untuk memperkuat pengawasan dalam menjaga kedaulatan NKRI baik di wilayah darat maupun laut melalui pantauan udara.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, mengatakan drone tersebut (PUNA) sangat efisien dan mampu meminimalisasi risiko kehilangan jiwa karena dioperasikan tanpa awak.

“Drone Elang Hitam merupakan solusi teknologi dalam menjawab tantangan terkait pengawasan kedaulatan NKRI. Diharapkan drone buatan Indonesia ini dapat mengawasi wilayah NKRI melalui wahana udara,” ujarnya pada acara pameran Industri Pertahanan yang digelar Kementerian Pertahanan, di Jakarta, Kamis (23/1).

Hammam mengatakan eskalasi peningkatan ancaman terutama yang terjadi di daerah perbatasan mulai dari penyelundupan, pembajakan, terorisme, hingga pencurian sumber daya alam membutuhkan pengawasan dari udara yang efisien.

Menurutnya, drone Elang Hitam mampu melakukan proses tersebut, termasuk membawa muatan dalam jumlah besar, serta memiliki jangkauan radius terbang yang jauh, bahkan dilengkapi oleh sistem persenjataan.

Hammam berharap seluruh pihak bangga dan mendukung kehadiran produk teknologi tersebut karena proses pengembangan drone tersebut seratus persen dilakukan oleh putra-putri Indonesia. Mulai dari proses inisiasi pengembangan drone sejak 2015 sampai proses roll out atau uji coba pada akhir tahun 2019 lalu.

Ia menyebut berdasarkan kajian awal BPPT, sebanyak 33 unit drone akan ditempatkan di 11 pangkalan, atau tiga unit per pangkalan. BPPT, lanjut ia, akan terus berupaya melakukan penguasaan dan optimalisasi teknologi tersebut.

“Inovasi drone Elang Hitam ini layak menjadi titik lompatan Indonesia menjadi negara yang memiliki SDM unggul, maju, mandiri, dan berdaya saing khususnya dalam bidang industri pertahanan,” tandasnya.

 

Produk Inovasi

 

Menurut Hammam, drone tersebut merupakan produk inovasi Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) yang terdiri dari Kementerian Pertahanan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), TNI AU, Institut Teknologi Bandung, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Drone dengan pajang 8,30 meter dan lebar 16 meter ini diperkirakan memiliki radius line of sight (LOS) sejauh 250 kilometer (km) dan mampu terbang hingga 23 ribu kaki selama 30 jam dengan kecepatan maksimal 235 km per jam.

“Drone tersebut menggunakan mesin Rotax dari Austria, memiliki flight control system (FCS) asal Spanyol, dan dilengkapi persenjataan rudal.
Pada tahun ini, rencananya akan dibuat lagi dua unit purwarupa drone Elang Hitam. Pada tahun yang sama juga akan dilakukan proses pengintegrasian sistem senjata, pengujian struktur, dan uji terbang untuk dua prototipe tersebut,” katanya.

Terkait pemanfaatan drone Elang Hitam ini, kata dia, diperlukan serangkaian sertifikasi, mulai dari sertifikasi produk militer hingga sertifikasi tipe produk. Diharapkan proses sertifikasi tersebut dapat rampung pada tahun 2023.

Kehadiran drone Elang Hitam juga harus didukung teknologi pengunci lain, seperti teknologi flight control system, mission system, dan Radar SAR.

 

ruf/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment