Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Budi Suhendar, tentang Bencana Longsor

“Kawasan Puncak Sangat Rawan oleh Gerakan Tanah”

“Kawasan Puncak Sangat Rawan oleh Gerakan Tanah”

Foto : koran jakarta/ teguh raharjo
A   A   A   Pengaturan Font
Longsor terjadi di beberapa titik di wilayah Jabar dan Jakarta. Di Bogor, longsor bahkan menimbulkan korban jiwa dan beberapa masih dinyatakan hilang.

 

Terkait kondisi rawan longsor di Bogor dan beberapa kota di Jabar pada umumnya, berikut wawancara dengan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Budi Suhendar.


Apa penyebab longsor di Bogor?


Kalau melihat kondisi wilayah dengan topografi lereng yang terjal, terlihat dari longsoran tanah, kawasan itu terbentuk oleh batuan muda serta tanahnya memang memiliki kerentanan tinggi.

Kemudian, ditambah dengan pemicu lainnya yakni air hujan yang turun sangat deras, masuk celah tanah sehingga beban lereng semakin berat. Bahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan hal itu adalah titik terbesar hujan di Bogor.

Karena itulah terjadi longsor. Hujan turun deras dan cukup lama di kawasan itu membuat keseimbangan alam sedikit terganggu, dampaknya longsor.


Kalau longsor yang di underpass Bandara Soekarno-Hatta?


Itu bukan karena kondisi alam. Itu hanya kegagalan sipil engineering saja. Beban semakin berat memang karena hujan masuk benteng, beton benteng tidak mampu menahan, akhirnya roboh. Itu tidak ditangani ESDM.


Kembali ke Bogor, apa yang sudah diupayakan?


Sebenarnya setiap bulan, Badan Geologi mengirimkan peta rawan pergerakan tanah ke kabupaten dan kota, tidak Bogor saja, semua wilayah di Jabar. Peta rawan sebulan ke depan.

Kalau melihat peta, kawasan puncak itu memang masuk warna merah, artinya sangat rentan gerakan tanah. Itu masuk kawasan menengah hingga tinggi. Artinya, jika ada gangguan sedikit saja maka akan longsor. Mau daerahnya terbangun atau tidak, tetap saja rawan.


Ini kan sudah terjadi, seharusnya bagaiamana tindak lanjutnya?


Untuk kami, sudah kirim tim ke lokasi untuk melihat kondisi longsoran, melakukan evaluasi dan melihat kondisi lahan sekitarnya.

Kita akan lihat potensinya apakah masih tinggi atau tidak, seberapa luas. Kita lihat apakah ada rekahan tanah lain yang berpotensi longsor.

Lalu, kita akan sosialisasikan kepada masyarakat dan pemerintah daerahnya. Antisipasi kejadian selanjutnya agar meminimalisir jumlah korban.


Apakah ada kemungkinan longsor susulan di sekitar lokasi?


Ya itu, kita masih kaji dan lihat. Yang jelas, kita sesuai peta kerawanan yang terkini. Tentu kerja sama dengan BPBD dilakukan untuk antisipasinya.


Rekomendasi untuk pemda?


Kita akan lihat dulu. Kalau ternyata memang sudah mengancam, akan koordinasi dengan pemda. Pemda yang akan lakukan evakuasi, kita hanya keluarkan rekomendasi.

Apakah evakuasi sementara atau permanen, sampai saat ini masih menunggu info dari lapangan. Sebenarnya mereka sudah baca peta, dan masyarakat sudah tahu. Hanya saja memang banyak juga masyarakat yang enggan pindah, itu kewenangan pemda.


Kabar dari BMKG, curah hujan tinggi masih akan terjadi Februari?


Betul, informasi yang kami terima sampai akhir Februari hujan masih cukup tinggi. Artinya, kewaspadaan harus terus ada.

Kalau melihat peta kawasan Bogor dan sekitarnya, yang merah itu wilayah Kecamatan Babakan Mading, Sukamakmur, Megamendung, dan Caringin. Memang longsor kemarin bukan karena pengaruh manusia, tapi karena alam. teguh raharjo/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment