Koran Jakarta | April 23 2019
No Comments

#kembalikekeluarga

#kembalikekeluarga

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

 

Najwa Shihab, pembawa acara kelas prime time, menunjuk­kan kelebihannya sebagai pemandu acara yang sangat menarik, inspiratif, lembut, dan menyenangkan. Rabu lalu melalui program acara Mata Najwa, setelah pindah dari stasiun siar sebelumnya, mewawancarai keluarga Presiden Jokowi secara leng­kap, dengan Ibu Iriana, dengan tiga putri-putri, juga menantu, dan cucu.

Temanya menyangkut keluarga— tanpa ada kaitannya dengan kam­panye, atau riuh gaduh pilpres. Yang tampil justru suasana teduh, sejuk, menginspirasi bagi penon­ton dengan kata-kata sederhana, mudah dicerna, dan mengena.

“Jangan lupa bahagia”, pesan Ibu Iriana yang benar-benar makjleb. Tayangan itu sendiri dibuat sederhana, kasual, dengan pak­aian yang biasa dikenakan sehari-hari, dan berlangsung mengalir. Paling tidak, cucu pertama Presiden, Jan Ethes Srinarendra berlangsung secara apa adanya. Sungguh ini sajian yang mengena, yang baik, bermanfaat, tanpa perlu ngotot pura-pura.

Acara ini seperti menegaskan me­masuki akhir tahun dan suasana pesta awal tahun, pusat perhatian kembali ke keluarga. Bahkan sudah agak lama ada tagar #kembalikekeluarga, kembali ke keluarga. Seperti setelah dilupakan sekian lama, keluarga menjadi ingatan penting.

Kebersamaan sebuah keluarga menjadi penting, manakala dalam hubungan yang paling inti seperti ini sekalipun, bisa terjadi permusuhan karena beda pilihan. Dalam sistem demokrasi, berbeda pilihan siapa yang dicoblos hal yang wajar.

Namun menjadi kubu yang bermusuhan, sebaiknya jangan. Nilai-nilai kekeluargaan diresapi kembali secara sadar. Nilai-nilai pertalian asal-usul, nilai kebersamaan, nilai berbagi, nilai tanpa kebencian. Apa pun yang terjadi dalam keluarga, diibaratkan berada dalam jiniwit katut”, apa yang menimpa salah satu anggota dirasakan oleh anggota yang lain.

Saya terlarut dengan tema keluarga. Bukan kebetulan pernah menulis tentang keluarga, judulnya antara lain Keluarga Cemara. Terbit pertama sebagai cerpen seri, kemudian dibukukan, dijadikan sinetron (saya yang mem­produksi), dan kini beredar di gedung bioskop, awal tahun depan.

Biasa hari Kamis, karena film Indonesia mendapat giliran hari itu setiap ming­gunya. Kini sudah beredar trailer-nya, cuplikan di gedung bioskop, dan tentu saja di media sosial. Saya tersentuh dan bangga dan haru, melihat salah satu meme yang ada, yaitu kutipan lagu theme song, namun diikuti visualisasi gambar Presiden Republik Indonesia. Dengan edit model fade out fade in, gambar nampak dan lenyap secara ritmis ditampilkan keluarga orang pertama di Republik ini.

Silih berganti. Tanpa ada konflik, tanpa ada yang mengganggu satu dengan yang lainnya. Dengan keluarga—ayah, ibu, anak-anak yang mengesankan kejujuran kepolosan, bukan pencitraan atau rekayasa.

Saya menjadi emosional. Juga kalau menonton kesekian kali, tidak malu-malu juga kalau ada air mata di sudut. Saya tidak sendirian, setidaknya kalau membaca komentar yang diberikan. Perasaan yang sama juga dirasakan orang lain. Saat itu unsur subjektif yang saya alami menjadi pengalaman objektif.

Betapa damai, betapa rukun, be­tapa membangkitkan optimistis yang menggelora jika masing-masing keluarga menemukan kekuatan ini di masing-masing keluarga. Keluarga darah daging satu nenek-kakek, atau keluarga dalam penger­tian “keluarga pencinta bola”—yang karena tak perlu gebuk-gebukan ketika bermain bola.

Saya sadar tidak mudah menjadi “bersaudara”, berada dalam satu “keluarga”. Justru karena bersaudara, perpecah­kan bisa menjadi lebih sengit, dendam dan permusuhan tak ada akhir. Seperti dalam kisah-kisah keluarga yang berperang.

Saya sadar ini bukan perkara mudah. Justru itu menandai pentingnya menjadi keluarga, berada dalam kelompok yang sama secara aman, nyaman, serta memuliakan kehidupan. Kita akan diingatkan bahwa hal itu masih ada di program acara televisi, di gedung bioskop, panggung teater, dan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Selamat Hari Keluarga Nasional. Kita rayakan kembali setelah enam bulan lalu, dan enam bulan yang akan datang.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment