Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

17-08-17: Angka Cantik

17-08-17: Angka Cantik

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Tanggal 17 bulan Agustus tahun 1945 adalah hari keramat. Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap tahun diperingati secara resmi, maupun yang dirayakan, hampir, semua lapisan masyarakat.

Yang kedua ini lebih terasakan, lebih membumi, lebih menandai kebebasan, lebih menunjukkan nilai kemerdekaan. Barang kali hanya di negeri ini peringatan kemerdekaan negerinya yang dirayakan secara luas— sangat luas dan menyeluruh.

Selain upacara resmi, termasuk di setiap kantor kelurahan, di kampung, di beberapa lapangan terbuka,-- juga di gereja dan rumah ibadah, perayaan sudah dimulai pada malam sebelumnya, dengan tugur—berjaga semalaman, dan atau tirakat—

berdoa sekaligus tidak makan atau minum, ada pula yang tidak menekuk lutut alias tidak duduk, yang dilakukan secara bersama-sama. Dan tentu saja kegembiraan yang sekali lagi ditandai dengan bebas dan merdeka dalam berbagai lomba. Baik yang klasik :

lomba makan kerupuk ( kini ada modifikasinya dengan jongkok), lomba memasukkan pensil ke dalam botol dengan “pantat”, lomba membawa kelereng dalam sendok, sampai yang benar-benar berbau olah raga. Pertandingan sepak bola dengan pemain menggenakan daster. (Kini ada modifikasi “sepak bola bebek”.

Campuran antara balap karung yang dipakai pemain, dan bolanya adalah bebek yang digiring ke gawang lawan). Kalau didaftar jumlah dan jenisnya makin lama makin banyak. Kini, disebut dengan angka cantik: 17-08- 17. Angka “ajaib” yang biasa digunakan untuk memberi makna menarik.

(Dulu ada judul-judul menggunakan angka, misalnya : 7 Hari Mencari Cinta, atau Langsing dalam 2 Hari.) Penekanan menjadi “angka cantik” hidup di kalangan anak muda, yang memiliki ekspresi bebas dan merdeka dengan idiomnya.

Dan sesungguhnya, saya ingin mencatat bahwa kali ini, angka cantik itu terasakan getarnya secara keseluruhan. Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hanya dirayakan dan dirasakan maknanya di gapura-gapura jalanan, atau kantor resmi, atau Lembaga Pemasyarakatan.

(Dalam hal ini karena napi yang berkelakuan baik mendapat remisi tergantung berapa lama ditahan, dan berlaku untuk semuanya: yang beragama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, dan semua kasus, kecuali ada pengecualian tertentu).

Kali ini saya melihat sendiri di berbagai sudut di mana “pesta kemerdekaan” dirayakan. Bahkan, jauh hari ketika di meme media sosial memeriahkan dengan jenaka. Salah satu dialog pembeli yang menawar harga umbul-umbul atau bendera, dan dijawab penjual:

NKRI harga mati. Juga kaos-kaos bertulisan “NKRI dead price”, yang di balik kelucuan tergambarkan semangat merayakan dan mensyukuri tanggal keramat: 17 Agustus. Saya adalah generasi yang dibesarkan dengan upacara dan kemeriahan pawai 17 Agustus, atau dikenal sebagai rangkaian “Agustusan”.

Kini, saya tertular aura yang milenial, yang kiwari, justru dalam arti di mana busana daerah dikenakan dengan segala kebesarannya. Ekspresi demi ekspresi, dan keberagaman yang terpamerkan secara visual.

17 Agustus cantik adalah kebebasan adalah kemerdekaan adalah keberagaman yang lebih luas dan lebih kaya lebih dari luas Tanah Air—karena ada seragam negeri manca yang terlihatkan, dan semua dengan wajah-wajah dan bahasa tubuh penuh kegembiraan, penuh rasa syukur. Kebesaran negeri ini tergambarkan penuh. Saya, sungguh, trenyuh sekaligus bangga.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment