Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments
Ideologi Bangsa I Muncul Ujaran Kebencian dan Gerakan Intoleransi

Ada Upaya “Ganggu” Pancasila

Ada Upaya “Ganggu” Pancasila

Foto : Koran Jakarta/anggi ariesta
Seminar Nasional I Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Sudhamek (kiri) pada seminar nasional dengan tema Pancasila sebagai Platform Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS), Kota Surakarta, Jawa Tengah, Senin (19/8).
A   A   A   Pengaturan Font
Seluruh elemen rakyat Indonesia harus dapat mencegah upaya-upaya untuk “mengganggu” Pancasila yang dapat berdampak perpecahan di masyarakat.

 

SURAKARTA – Saat ini ada upaya-upaya dari pihak tertentu untuk “mengganggu” Pancasila dengan mempertentangkan antar-anggota masyarakat. Kon­disi tersebut dapat dirasakan dengan dimunculkannya uja­ran kebencian, fitnah, hingga gerakan intoleransi.

“Bangsa Indonesia harus dapat mencegah upaya-upaya untuk ‘mengganggu’ Pancasila yang dapat berdampak per­pecahan di masyarakat,” kata Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin Maimoen, pada seminar nasional, di Audi­torium Universitas Negeri Sebe­las Maret (UNS), Surakarta, Se­nin (19/8). Seminar ini digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan UNS.

Menurut Taj Yasin, Pancasila sebagai ideologi bangsa dan sebagai landasan filosofi nega­ra, berisi nilai-nilai luhur yang menjadi norma bagi masyara­kat Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai luhur yang terkandung da­lam Pancasila sudah lengkap dan sejalan dengan kehidupan bernegara maupun beragama.

Pancasila bukan berisi nilai-nilai semu, tetapi nilai-nilai luhur yang sudah diterapkan oleh bangsa Indonesia sejak lama. Putra almarhum KH Maimun Zubair ini menyebut Pancasila adalah fondasi bangsa Indonesia. Ibarat bangunan maka semua bangunan Indone­sia fondasinya adalah Pancasila, sehingga Pancasila menjadi sa­ngat prinsip.

Harus Bersatu

Pancasila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk karakter bangsa agar Indonesia menjadi maju dan berkualitas. “Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus bersatu untuk mencegah pihak tertentu yang berupaya meng­ganggu Pancasila,” kata Taj Ya­sin.

Taj Yasin dalam seminar de­ngan tema Pancasila sebagai Platform Pembangunan Manu­sia dan Kebudayaan ini menye­but ada juga upaya untuk me­mecah-belah masyarakat yang dahulu sudah komitmen pada Bhinneka Tunggal Ika. Masya­rakat Indonesia itu beragam, menjadi satu sebagai bangsa Indonesia.

Akhir-akhir ini, kata Taj Ya­sin, juga berkembang feno­mena politik uang dan politik identitas terutama pada proses pemilu. “Politik uang dan poli­tik identitas ini kalau tidak dire­dam, dapat terus berkembang,” katanya.

Secara khusus, Taj Yasin me­nyampaikan apresiasi atas sem­inar kali ini. Pancasila adalah ideologi terbuka yang harus di­sikapi dengan baik agar Indone­sia berkembang. Pancasila plat­form pembangunan. Pancasila sesuai dengan karakter bangsa yang terdiri dari berbagai suku yang hidup dan berkembang di Indonesia.

Plt Kepala BPIP, Hariyono, menegaskan pembangunan bangsa sesuai Pancasila di masa depan bukan hanya milik orang tua tapi juga anak muda. “Kami punya program Mutiara Pancasila. Salah satunya saat meninjau apa yang dilakukan oleh penemu ikan mujaer yang melakukan eksperimen seba­nyak 11 kali sebelum sukses,” ujarnya.

Seminar nasional itu dise­lenggarakan di 13 titik di kam­pus UNS yakni di 12 fakultas dan auditorium. Kemudian, enam titik lain diselenggara­kan di Taman Budaya Jateng di Surakarta. Menurut Hariyono, penyelenggaraan seminar na­sional Pancasila secara seren­tak ini baru pertama kali digelar BPIP yang bekerja sama dengan UNS.

“Kalau uji coba sosialisasi Pancasila melalui seminar na­sional seperti ini berhasil maka BPIP akan menjadikannya se­bagai kegiatan rutin dan jang­kauannya lebih luas,” kata Hari­yono.

Rektor UNS, Jamal Wiwoho menyambut baik forum ini karena UNS adalah kampus pelopor dan pengusung Pan­casila. Kampus Benteng Pan­casila ini sudah menerapkan Pancasila di wilayah kampus UNS. SM/ang/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment