Koran Jakarta | February 23 2018
No Comments
Jaminan Sosial

Ahli Waris Korban Crane Dapat Santunan Rp123 Juta

Ahli Waris Korban Crane Dapat Santunan Rp123 Juta

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Badan Penye­lenggara Jaminan Sosial Ke­tenagakerjaan (BPJS Ketenaga­kerjaan) akan memberikan santunan kepada keluarga 4 korban crane jatuh proyek double-double track jalur kere­ta cepat Jakarta-Bandung, di Jatinegara, Jakarta Timur. Total santunan untuk masing-ma­sing keluarga korban 123 juta rupiah.

Direktur Pelayanan BPJS Ke­tenagakerjaan, Krishna Syarif menjelaskan, santunan ter­sebut dengan rincian santun­an Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebesar 115,20 juta rupiah dengan dasar upah 80 ribu ru­piah per hari, biaya pemakam­an 3 juta rupiah, dan santunan berkala 4,8 juta rupiah.

Untuk pencairan santun­an, Krishna meminta kepada pihak keluarga korban segera melengkapi semua persyarat­an. “Setelah semua persyarat­an kelengkapan dokumen lengkap, kami segera berikan santunan tersebut kepada se­mua ahli waris,” ujar dia usai melawat korban Unit Instalasi Kedokteran Forensik Ramah Sakit (RSS) Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur (4/2).

Ia mengatakan keempat kor­ban meninggal dunia ini sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. “4 korban itu terdaftar di cabang kami di Kelapa Gading, dan mereka pe­serta yang tertib iuran.”

Empat korban meninggal adalah Jaenudin (44), Deni Eko Prasetyo (30), Joni Fitrianto (19), dan Jana Sutisna (44). Me­reka pekerja PT Cipta Indone­sia Mandiri yang merupakan sub kontraktor konsorsium Hutama Modern Mitra seba­gai kontraktor proyek double-double track.

”Kami hadir sebagai ben­tuk komitmen memberikan pelayanan dan perlindung­an kepada peserta terutama yang mengalami kecelakaan kerja,” ujar Krishna. Dirinya menyayangkan tragedi ini ter­jadi jutru pada bulan K3 (Kese­hatan dan Keselamatan Kerja) nasional yang dilaksanakan 12 Januari–12 Februari. Untuk itulah pihaknya mengimbau kepada pemberi kerja dan pe­kerja agar sadar terhadap pro­gram perlindungan BPJS Ke­tenagakerjaan.

”Kami juga mengimbau ter­utama untuk perusahaan jasa kontraktor maupun subkon­traktor untuk bersosialisasi dan menerapkan manajemen K3 se­cara terus menerus. Ha ini untuk menghindari kasus kecelakaan kerja seperti ini,” tandasnya.

Berdasarkan data Kedepu­tian BPJS Ketenagakerjaan Wilayah DKI Jakarta, kasus ke­celakaan kerja dari sektor jasa konstruksi mengalami tren meningkat. Tahun 2016 ada 507 kasus menjadi 555 kasus pada 2017 atau meningkat 10 per­sen. ”Meksipun secara nominal pembayaran klaim turun dari 4 miliar rupiah (2016) menjadi 3,4 miliar rupiah (2017) tapi jumlah kasusnya (kecelakaan kerja sektor jasa kontruksi) naik,” paparnya. eko/E-3

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment