Alam Lereng Semeru yang Menakjubkan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments

Alam Lereng Semeru yang Menakjubkan

Alam Lereng Semeru yang Menakjubkan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kabupaten Lumajang yang terletak di Kaki Gunung Semeru (Lereng Semeru) memiliki berbagai wisata alam yang indah dan menakjubkan

Wisata alam yang dimaksud adalah ‘Air Terjun Tumpak Sewu’ yang ada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Air terjun ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.

Meski berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, wisata Air Terjun Tumpak Sewu dapat dijangkau melalui beberapa rute. Bisa dengan menggunakan kereta api dari Surabaya dan turun di Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, selanjutnya menggunakan jalan darat menuju Kecamatan Pronojiwo.

Saat ini disediakan Halte di depan Polsek Pronojiwo untuk memudahkan para wisatawan. Rute berikutnya bila menggunakan trasportasi darat perjalanan dari Surabaya langsung masuk tol dan keluar di Leces, Kabupaten Probolinggo , lalu masuk wilayah Lumajang dengan perjalanan terus sampai ke Pronojiwo. Sedangkan, rute lainnya jika berangkat dari Malang, wisatawan bisa memilih rute perjalanan Bululawang-Dampit -Tirtomoyo -Pronojiwo.

Setelah sampai di Desa Sidomulyo, Kecamatan Pronojiwo, wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum berupa minibus, bus dengan rute Lumajang - Malang atau sebaliknya yang beroperasi mulai pukul 07.00 WIB dan berakhir sekitar pukul 16.00 WIB. Air terjun yang memiliki ketinggian sekitar 120 meter ini tidak diragukan lagi keindahannya, dimana pesona air terjun tersebut bagaikan kepingan surga yang jatuh ke bumi. Air terjun ini menyajikan panorama alam yang sangat indah seperti 1000 air terjun yang membentuk tirai.

Selesai memandang keindahan tirai air terjun tersebut, wisatawan lalu ditawarkan turun ke dasar air terjun. Nantinya akan menemui banyak destinasi wisata lainnya seperti air terjun bening, goa bidadari, kolam bidadari, stalaktit dan stalagmit (adalah pembentukan goa secara vertikal yang tumbuh dari bawah ke atas) yang berusia ribuan tahun, serta goa tetes yang di dalamnya memiliki labirin dan sungai dalam goa sedalam 8 meter.

Selain itu, ada tebing perawan dan terakhir yang menjadi tujuan utama adalah seputaran sungai tempat berkumpulnya 1000 mata air yang membentuk tirai air terjun.

“Untuk turun ke dasar jurang, kita harus mempersiapkan fisik yang prima karena kurang lebih 1000 anak tangga harus dilewati dengan kemiringan antara 70-90 derajat,” kata salah seorang wisatawan, Muhammad Arsal Sahban kepada Koran Jakarta. Menurut dia, saat menuruni tebing terkadang wisatawan harus berjalan mundur untuk memudahkan berjalan karena jalan yang terjal. Karenanya, diperlukan kehati-hatian. “Sampai di pertengahan tebing, kita akan disuguhi air terjun bening.

Para wisatawan biasanya akan mencuci muka dan meminum sedikit airnya. Selain memiliki kadar mineral tinggi, juga dipercaya membuat awet muda dan menyembuhkan berbagai macam penyakit,” ucap putera asli Makassar ini.

Selanjutnya, wisatawan terus diajak menurunin tebing berair yang merupakan jalur dari air terjun tersebut. Di sini, disiapkan sepatu khusus yang dapat disewa di information guide.

Goa Bidadari Sesampai di dasar air terjun, terlebih dahulu para wisatawan bisa menuju ke Goa Bidadari. Goa ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya para bidadari.

Di atas goa terdapat stalaktit, air yang menetes yang menggantung dari langit-langit gua kapur yang panjangnya sekitar 20 meter dan juga ada stalagmite yang semuanya masih tumbuh dan berkembang, dan diperkirakan usianya mencapai ribuan tahun.

“Di bawahnya terdapat kolam air yang sangat jernih yang dikenal sebagai kolam bidadari yang dipercaya sebagai tempat pemandian para bidadari,” tutur Arsal yang juga perwira menengah Polri ini. Goa Tetes Bergeser sambil menyusuri tebing, wisatawan juga akan melihat goa tetes yang di dalamnya berbentuk labirin dan memiliki sungai di dalam goa dengan kedalaman 8 meter.

Disebut goa tetes karena tetesan air tidak pernah berhenti di dalam dan sekitar goa, air tidak mengalir namun menetes secara terus menerus. “Setelah menikmati spot gua tetes, kita akan kembali menuju jalur yang berbeda sambil menyusuri tebing sampai kita menemukan tebing perawan. Disebut tebing perawan karena berbentuk ‘V’,” jelas Arsal.

Tebing ini sendiri memiliki ketinggian 120 meter sehingga posisi kita terlihat kecil diantara tebingtebing yang menjepit. Para wisatawan berjalan terus menyusuri pinggiran tebing V tersebut sampai akhirnya sampai di 1000 mata air yang membentuk tirai air terjun yang bermuara ke sungai.

“Itulah kenapa disebut Tumpak Sewu yang berarti 1000 mata air,” ujarnya. Untuk menikmati keindahan Air Terjun Tumpak Sewu, para wisatawan hanya dikenakan biaya masuk sebesar 5.000 rupiah. 

Menikmati “Negeri di Atas Awan”

Selain Air Terjun Tumpak Sewu, Kota di Lereng Semeru ini juga memiliki wisata alam berupa Bukit 29 (B29) atau akrab disebut dengan ‘Negeri di Atas Awan’ yang berada di ketinggian 2900 mdpl. B29 yang berada di Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur ini mulai populer sebagai tempat wisata sejak 2015. Untuk tiket masuk menuju kawasan Bukit B29 Lumajang hanya dibandrol sebesar 5.000 rupiah.

“Negeri di Atas Awan Lumajang ini menyuguhkan panorama yang sangat indah. Bersama pasangan ke tempat ini pasti akan membuat hati menjadi lebih sejuk dan akan menambah benih-benih cinta,” kata Arsal.

“Bagi orang yang pacaran, dijamin akan cepat menikah, dan bagi orang yang sudah menikah dijamin akan semakin langgeng seumur hidup. Hal ini karena diyakini mereka sudah berada di negeri kayangan yang berada di atas langit,” sambung pria yang saat ini menjadi Wakapolresta Bogor ini.

Seperti kepercayaan masyarakat di zaman dahulu, menurut dia, di atas awan adalah sebuah simbol tempatnya langit dimana langit adalah tempatnya para dewa. Karenanya, bagi wisatawan yang naik diibaratkan berada di negeri para dewa.

Ia lalu menjelaskan, puncak B29 adalah bagian dari kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). TNBTS masuk ke dalam program pengembangan destinasi wisata unggulan yang biasa disebut 10 Bali Baru.

Medan yang ditempuh untuk datang ke wisata tersebut cukup menantang, yaitu melewati jalanan aspal, paving block, dan tanah dengan kemiringan 10 hingga 40 derajat serta beberapa tikungan tajam khas wilayah pegunungan. Sementara itu, wisatawan yang mengunjungi B29 akan disuguhi pemandangan khas pedesaan yang samping kanan dan kirinya berupa ladang sayuran milik warga suku Tengger. Namun, berbeda dengan ladang umumnya, lahan yang mayoritas ditanami kubis, bawang daun, dan kentang itu berada di kemiringan sekitar 70 derajat.

Tak hanya itu, barisan bukit dan lembah menghijau disertai kabut dengan udara dingin yang “menggigit” mewarnai perjalanan penuh sensasi selama kurang lebih sekitar 15 menit. Begitu sampai di gerbang Bukit 29, satu per satu motor berhenti dan diparkir. Para pengunjung kemudian mendaki sekitar 100 meter ke puncak bukit yang sudah terlihat di depan mata.

Wisatawan langsung bisa menyaksikan sunrise atau matahari terbit,” tuturnya. Momen terbaik untuk bisa melihat sunrise itu dengan menunggu di atas bukit sejak pukul 04.00 WIB. Agar tidak ketinggalan, tak sedikit pengunjung yang berkemah atau di atas bukit yang dahulu disebut Songolikur (sebutan angka 29 dalam bahasa Jawa). Jika hal itu dilakukan, wisatawan dapat menikmati detik-detik matahari terbit di ufuk timur.

Selain itu, pemandangan awan “tumpah” pun juga dapat dilihat baik dari sisi timur dan barat. Untuk pemandangan ini paling menarik adalah dari arah barat atau lautan pasir Gunung Bromo yang puncaknya setinggi 2.392 mdpl, lebih rendah dari puncak B29.

Tiga Wisata Mantan Kapolres Lumajang ini lalu mengungkapkan bahwa di Kota Lumajang juga menyimpan potensi Pariwisata yang sangat besar. Sebab, Kota yang terletak di wilayah Tapal Kuda ini memiliki banyak jenis wisata seperti wisata religi, wisata budaya dan sejarah. Selain juga wisata alamnya yang sudah terkenal yaitu Air Terjun Tumpak Sewu, Air Terjun Kapas Biru, Negeri Diatas Awan, Pendakian Gunung Semeru, berbagai Danau, dan Gua.

Untuk wisata religi, ada Pura Mandara Giri, salah satu pura tertua di Lumajang, sehingga bisa menjadi tujuan bagi pemeluk agama hindu untuk bersembahyang di Pura tersebut.

Selain itu, ada juga makam Arya Wiraraja yang di yakini sebagai makam Islam tertua di pulau Jawa sehingga banyak yang berziarah ketempat tersebut. Sedangkan, untuk wisata budaya dan sejarah yakni adanya budaya suku Tengger yang diyakini merupakan nenek moyang masyarakat Bali.

Selain itu, ada juga sejarah tentang kisah kebesaran kerajaan Lamajang Tigang Juru dengan rajanya Prabu Arya Wiraraja yang kala itu membantu berdirinya kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto. Bagi wisatawan dari Jabodetabek untuk ke sini bisa menggunakan penerbangan Garuda dari Bandara Soekarno Hatta ke Juanda Surabaya.  fadloli/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment