Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Ancol Memang Pernah Jadi Impian

Ancol Memang Pernah Jadi Impian

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Ancol, daerah di pesisir Jakarta Utara yang berpantai, lebih dikenal dengan Taman Impian Jaya Ancol, agak tiba-tiba mengusik perhatian. Adalah Gubernur Djarot Saiful Hidayat, yang Oktober nanti menyerahkan jabatan ke penggantinya, mewacanakan masuk pantai Ancol akan gratis.

Artinya masuk ke pantai, ke wilayah itu, sementara parkir dan masuk wahana masih harus bayar. Perbedaan pendapat apakah masuk ke pantai harus bayar atau gratis sudah lama diperdebatkan, dan alot, dan seperti diduga, akan susah melawan korportasi.

Ancol sekarang ini, atau sudah sejak lama, dalam soal “melihat pantai” tidak memihak kepentingan masyarakat banyak. Lebih memihak masyarakat kelas menengah dan atas—dalam pengertian jumlah pengeluarannya.


Ancol punya riwayat panjang, baik oleh kenyataan, impian, maupun tambahan. Daerah itu pernah didirikan rumah peristirahatan gubernur Belanda, di abad 17. Pernah menjadi sarang nyamuk dan dianggap sumber malaria.

Pernah menjadi daerah pelesiran, dengan kisah melegenda “Si Manis Jembatan Ancol”, hantu cantik yang konon menolak diperkosa dan menemukan kematian. Kisah tragis, tapi juga mengisyaratkan adanya harga diri. Daerah rawa-rawa dan semak yang direncanakan sebagai daerah industri, sebelum menjadi daerah hiburan.


Baru kemudian di tahun 1966, ketika Bang Ali, gubernur Ali Sadikin, bersama pengusaha Ciputra, Ancol menjadi taman sekaligus impian. Proses pembangunan wahana sangat cepat, masyarakat terpikat, bahkan seolah menjawab apa yang dibutuhkan.

Masyarakat haus hiburan, dan bermanfaat. Masyarakat butuh kegiatan kesenian yang sumpek dan buntu di gedung-gedung kesenian karena syaratnya terlalu berat. Ancol memberi kesempatan, memberi panggung untuk itu.

Memberi peluang dan menampung. Bukan wahana seperti Dufan, atau Sea Word, atau sejenis wahana edukasi, melainkan juga yang kemudian dikenal sebagai Pasar Seni.

Untuk pertama kalinya di Indonesia, ada “pasar” dan sekaligus ada “seni”. Ada karya-karya lukis—juga keramik, juga patung, juga barang kerajinan—yang selama ini angker karena harga tak terjangkau, sekarang bisa dijual-belikan dengan harga “pasar”.


Mereka adalah pelukis-pelukis dengan nama besar, pematung terkenal, dan sekaligus juga bakat-bakat baru yang mempesona—yang kemudian akan dikenal luas. Pasar Seni merupakan jawaban, merupakan oase dari kesumpekan Ibu Kota Jakarta dengan cara terhormat.

Dari Pasar Seni pula lahir berbagai jenis karya pentas dan diskusi-diskusi yang lebih “berani”, lebih lugas dari yang ada di gedung kesenian. Keterbukaan ruang seakan menandai keleluasaan untuk terjadinya komunikasi. Termasuk adanya Festival Reog dan diskusinya, model lawakan “stand up comedy”, dan jenis-jenis karya yang memprotes keadaan.


Bahwa di tempat itu juga menjadi tempat pacaran—atau lebih dari itu di tenda-tenda, atau dalam mobil, di tempat terbuka atau tertutup—tak menyurutkan tetap menjadi tujuan untuk keluarga. Ancol saat itu bukan hanya pantai, bukan hanya wahana-wahana, melainkan juga ruang kebebasan, ruang kreatif, benar-benar pasar dan benar-benar seni dalam dialog.


Maka ketika wacana menengok kembali Ancol, agaknya hal-hal semacam ini yang terlupakan. Yang kini dibahas adalah yang berat “apakah hak publik melihat pantai” ataukah “ada pelanggaran”.

Yang melalui sidang pengadilan yang panjang, dan berhenti di pembahasan. Ada yang hilang dari pembahasan yaitu bahwa Ancol pernah menawarkan ruang, pernah mewadahi impian, dan memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat. Dalam hal ini, peran Ancol belum akan tergantikan berdirinya mal, water park, atau tempat-tempat hiburan lainnya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment