Koran Jakarta | August 18 2018
No Comments
Proyek Bakamla - Diduga Terima “Fee” 12 Miliar Rupiah

Anggota DPR Fayakhun Ditetapkan Jadi Tersangka

Anggota DPR Fayakhun Ditetapkan Jadi Tersangka

Foto : ANTARA/Hafidz Mubarak A
Anggota Komisi I DPR Fayakhun Andriadi meninggalkan ruang sidang seusai bersaksi dalam sidang kasus suap proyek pengadaan satelite monitoring Bakamla dengan terdakwa Nofel Hasan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/1). Dalam sidang itu Jaksa Penuntut Umum KPK menghadirkan saksi yakni Kepala Bakamla Laksamana Madya Arie Soedewo dan Anggota DPR Fayakhun Andriadi.
A   A   A   Pengaturan Font
Pemberian suap ini dilakukan secara bertahap, empat kali, dari tersangka Fahmi Darmawansyah melalui anak buahnya, Muhammad Adami Okta.

Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK menetapkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) fraksi Partai Golkar, Fayakhun Andriadi, sebagai tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan satelit monitoring di Badan Keamanan Laut atau Bakamla.

“KPK menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan ke tahap penyidikan dan menetapkan seorang lagi sebagai tersangka, yaitu FA (Fayakhun Andriadi), anggota DPR periode 2014– 2019,” ujar Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (14/2).

Dalam proses penetapan, tim penyidik KPK mendapat beberapa alat bukti berupa keterangan saksi, surat, barang elektronik, serta fakta persidangan. Alat-alat bukti tersebut, kata Alex, menunjukkan bahwa Fayakhun diduga memuluskan anggaran Bakamla. Alex mengatakan Fayakhun diduga menerima fee 1 persen atau 12 miliar rupiah dari total anggaran Bakamla 1,2 triliun rupiah.

Pemberian suap ini dilakukan secara bertahap empat kali dari tersangka Fahmi Darmawansyah melalui anak buahnya, Muhammad Adami Okta. Selain itu, ia diduga menerima 300 ribu dollar AS.

Fayakhun diduga terlibat dalam korupsi terkait dengan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun anggaran 2016, yang akan diberikan kepada Bakamla. Atas perbuatannya, kata Alex, Fayakhun disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana.

Dalam kasus ini, Fayakhun merupakan tersangka keenam. Sebelumnya, KPK telah menetapkan lima orang lain sebagai tersangka, yaitu Deputi Bidang Informasi, Hukum, dan Kerja Sama Bakamla, Eko Susilo Hadi; Fahmi Darmawansyah, Hardy Stefanus, dan M. Adami Okta dari pihak swasta; serta Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla, Nofel Hasan.

Saat ini, Nofel masih menjalani proses persidangan. Adapun empat orang lain telah divonis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Nama Fayakhun disebut dalam dakwaan Nofel. Fayakhun Andriadi diduga menerima imbalan 927.756 dollar AS atau sekitar 12,8 miliar rupiah dari Direktur PT Merial Esa Fahmi Darmawansyah untuk membuka blokir penganggaran drone dalam proyek pengadaan satelit monitoring di Bakamla.

 

Diminta Membantu

 

Saat bersaksi untuk terdakwa mantan Kepala Biro Perencanaan dan Organisasi Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/1), Fayakhun mengaku pernah dikenalkan kepada staf ahli Kepala Badan Keamanan Laut, Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi. Dia pertama kali dikenalkan kepada Habsyi oleh politisi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin.

“Awalnya saya enggak kenal, sampai dikenalkan oleh Bapak TB Hasanuddin, anggota Komisi I DPR,” kata Fayakhun. Menurut Fayakhun, saat itu TB Hasanuddin merupakan senior dan temannya sesama anggota Komisi I DPR. Adapun Habsyi juga merupakan kader PDI Perjuangan. Fayakhun mengatakan, saat berkenalan dengan Habsyi, sedang berlangsung rapat dengar pendapat Komisi I DPR dan Bakamla.

“Lalu, dia (Habsyi) minta nomor telepon dan agresif sekali ingin sekali hubungi saya,” kata Fayakhun. Setelah itu, menurut Fayakhun, Habsyi pernah memintanya bertemu. Saat itu, Habsyi meminta Fayakhun membantu Bakamla. 

 

mza/Ant/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment