Antisipasi Eks Kombatan Militan Kembali ke RI | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Pencegahan Terorisme

Antisipasi Eks Kombatan Militan Kembali ke RI

Antisipasi Eks Kombatan Militan Kembali ke RI

Foto : BAY ISMOYO/AFP
TERSANGKA TERORIS I Polisi mengawal tersangka teroris pendukung ISIS, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pemerintah melarang anggota ISIS eks WNI kembali ke Indonsia.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Pemerintah melakukan langkah antisipatif terhadap adanya warga negara Indonesia (WNI) eks kom­batan kelompok militan ekstremis, termasuk dari jaringan ISIS di Suriah, Abu Sayyaf di Filipina, dan kelompok teroris dari Afghanistan.

“Kemungkinan-kemungkinan itu kita antisipasi, seperti yang kita lakukan sekarang terhadap kemungkinan masuk­nya bekas-bekas kombatan, baik dari Filipina, Suriah, mau­pun di Afghanistan. Kita tetap melakukan antisipasi,” kata Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Kantor Wapres RI, Jakarta, Kamis (13/2).

Tentang warga Indonesia yang bergabung dengan ke­lompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), Wapres me­ngatakan bahwa keputusan pemerintah untuk mencekal mereka bertujuan melindungi masyarakat di dalam negeri.

Ia menegaskan kembali bahwa status kewarganegaraan mereka juga hilang ketika memutuskan meninggalkan In­donesia dan bergabung dengan kelompok ISIS.

“Kita memang pada prinsipnya mengarah pada tidak memulangkan, alasannya adalah untuk menjaga, menga­wal keselamatan seluruh warga bangsa yang ada, dari pen­garuh-pengaruh radikalisme dan terorisme,” katanya.

Untuk diketahui, di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Pasal 23 Huruf d dijelaskan bahwa WNI ke­hilangan kewarganegaraan jika yang bersangkutan masuk dalam dinas tentara asing tanpa izin terlebih dahulu dari Presiden. Selanjutnya, pada Huruf f disebutkan bahwa kewarganegaraan hilang jika WNI secara sukarela meng­angkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.

Kirim Tim Verifikasi

Sementara itu, Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moel­doko menyatakan pemerintah akan mengirim tim khusus untuk mendata dan memverifikasi data 689 anggota ISIS eks WNI.

“Nanti akan dikirim dari tim dari Indonesia untuk me­lihat, mendata secara detail siapa-siapa itu yang dari jum­lah 689 dari anak-anak, ibu-ibu dan kombatannya, itu nanti akan kita data dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan verifikasi yang dilakukan oleh tim diper­kirakan selesai 3-4 bulan. “Setelah kita data pasti kita akan mewaspadai tempat-tempat yang menjadi perembesan, kita sudah antisipasi dengan baik maka dari imigrasi, dari seluruh aparat yang berada di border di perbatasan itu akan memiliki awareness yang lebih tinggi,” ucap Moeldoko.

Tim yang akan memverifikasi data ISIS eks WNI me­rupakan gabungan instansi terkait. “Nanti bisa gabungan Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Nasional Penanggu­langan Terorisme (BNPT) dan Kepolisian,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko mengatakan bahwa WNI eks ISIS sudah dinyatakan tidak memiliki kewarganeg­araan atau stateless. fdl/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment