Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments
PERADA

Arti Kemerdekaan bagi Bung Karno

Arti Kemerdekaan bagi Bung Karno

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Sebagai pejuang dan proklamator, Bung Karno sangat memahami arti kemerdekaan. Buku ini menuturkan peristiwa menarik yang terjadi sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan. Tanggal 16 Agustus 1945 dini hari, Bung Karno “diculik” pemuda Kelompok Menteng 31 (KM 31) dan dibawa ke Rengasdengklok.

Awalnya, Bung Karno ditempatkan di rumah camat setempat, lalu dipindah ke sebuah pondok di daerah persawahan. Karena ada tentara Jepang berpatroli, Bung Karno dipindah lagi ke asrama PETA, menyeberangi sungai. Setelah itu, sang Proklamator dititipkan di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong.

“Penculikan” bertujuan agar Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan sebab Jepang telah bertekuk lutut pada Sekutu setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom pada tanggal 14 Agustus 1945. Namun Bung Karno menolak. Wikana, salah satu pemuda dari kelompok itu, sempat mengancam akan menggorok leher Bung Karno.

“Menerima ancaman itu, Bung Karno malah menyodorkan lehernya untuk digorok. Ia bergeming, tidak bersedia dipaksa memproklamasikan kemerdekaan,” (hlm 236). Lalu, dia berusaha memberi pengertian kepada kelompok pemuda tersebut alasan proklamasi tidak dapat dilakukan mendadak. Sebab ada banyak yang harus dipersiapkan dulu.

Akhirnya, mereka sepakat proklamasi dikumandangkan keesokan harinya, bukan hari itu. Pascakemerdekaan, Bung Karno membela martabat Indonesia sepenuh jiwa. Apabila ada yang berusaha melecehkan, dia sangat marah. Dia pernah membentak artis film Inggris, Jean Simmons, karena perkataannya dianggap melecehkan Indonesia.

Peristiwa itu terjadi tahun 1956, saat resepsi untuk menghormati Bung Karno di Amerika. Dia menggelorakan aksi untuk mengganyang Malaysia saat Garuda Pancasila diinjak-injak demonstran yang menyerbu KBRI di Kuala Lumpur (hlm 210). Baginya, penjajahan adalah pelecehan. Tak heran, dalam keadaan dibuang atau dipenjara, dia tetap berjuang melawan penjajah.

Saat diasingkan ke Ende, Flores, polisi Belanda menjaganya dengan ketat. Bung Karno dilarang keluar dari radius 5 km. Namun demikian, Bung Karno tetap berjuang. Bersama 90 warga Ende, dia kemudian menyusun sebuah rencana untuk melawan lewat teater. Bung Karno mendirikan kumpulan tonil bernama Kelimutu.

Sebanyak 12 naskah dia tulis dan berhasil dipentaskan di Gedung Immaculata dalam kompleks Gereja Katolik salah satu paroki di Ende. Seorang pastor Belanda menjamin semua naskah karya Bung Karno, sehingga polisi Belanda tidak dapat melarang pementasan. Untuk menonton pementasan harus membayar, termasuk orang Belanda.

Padahal isi pertunjukan tersebut berisi olok-olok terhadap mereka (hlm 144). Pengalaman dipenjara dan diasingkan berkali-kali membuat Bung Karno memahami arti kebebasan dan kemerdekaan secara autentik. Itu tidak hanya bagi diri dan rakyatnya, tapi juga semua makhluk hidup. Sebab itu, dia sangat menyayangi semua binatang.

Ketika dipenjara di Banceuy, Bandung, dia selalu menyediakan sisa makanannya untuk cicak yang ada di pojok kamarnya. Di lain waktu, dia pernah mendapati seekor cacing menggeliat kepanasan di tepi sawah. Dia segera meminta pengawalnya mengembalikan cacing tersebut ke sawah. Dia selalu memeriksa asrama para pengawal yang terletak di belakang Istana.

Apabila dia mendapatkan ada pengawal yang memelihara burung, sangkar burung itu langsung dibuka dan burungnya dibiarkan terbang. “Aku tidak tega membiarkan burung terkurung di dalam sangkar.

Alasannya sederhana, seekor burung juga ingin merasakan alam bebas terbang tinggi mengepakkan sayap di angkasa,” (hlm 181). Buku ini ditulis Eddi Elison, wartawan Istana era Bung Karno. Tulisan ini hasil liputan pribadi. 

 

Diresensi Mamang Hariyanto, Alumnus Universitas Madura

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment