AS Akhiri Keringanan Sanksi bagi Fasilitas Iran | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 9 2019
No Comments
Krisis Nuklir

AS Akhiri Keringanan Sanksi bagi Fasilitas Iran

AS Akhiri Keringanan Sanksi bagi Fasilitas Iran

Foto : AFP/ATOMIC ENERGY ORGANIZATION OF IRAN
FASILITAS FORDOW | Dokumentasi foto yang dirilis Organisasi Energi Atom Iran pada 6 November lalu, memperlihatkan bagian dalam dari kilang pengembangan nuklir Fordow di Qom, Iran. Pada Senin (18/11), AS mencabut keringanan sanksi terhadap fasilitas Fordow setelah Iran melanjutkan pengayaan uranium.
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC – Pe­merintah Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa mere­ka akan mengakhiri keringan­an sanksi bagi kilang pengem­bangan nuklir di Fordow milik Iran. Hal itu dilakukan setelah Teheran melanjutkan penga­yaan uranium di fasilitas ter­sebut.

“Karena alasan itu, AS a­kan menghentikan sanksi yang terkait dengan fasilitas nuk­lir di Fordow efektif mulai 15 Desember 2019,” kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, dalam jumpa pers pada Senin (18/11). “Tidak ada alasan sah bagi Iran untuk melanjutkan pengayaan di lokasi ini. Iran harus segera membatalkan ak­tivitasnya di sana,” imbuh Men­lu AS itu.

Walau telah diakhiri keri­nganan sanksi tersebut, fasi­litas nuklir Iran lainnya seperti Bushehr, sejauh ini masih men­dapat keringanan sanksi dari AS dan negara-negara kekuat­an dunia lain yang masih ter­ikat dalam kesepakatan nuk­lir 2015 dan bekerja sama di bi­dang nuklir dengan Iran, tak akan dikenai sanksi oleh AS.

Iran pada bulan ini meng­umumkan bahwa mereka te­lah memperkaya uranium di fasilitas Fordow, lokasi kilang sebelumnya disembunyikan oleh Iran dari inspektur non­proliferasi Perserikatan Bang­sa-Bangsa (PBB) hingga akhir­nya keberadaannya diketahui pada 2009.

Pengayaan uranium di For­dow dilakukan setelah Iran mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir 2015 setelah AS secara sepihak hengkang dari kesepakatan itu dan mulai kembali menerap­kan sanksi pada Teheran pada tahun lalu.

Melalui kesepakatan nuklir 2015, Iran diharuskan menye­top program pengayaan urani­um dengan imbalan pencabut­an sebagian besar sanksi inter­nasional, serta mengharuskan fasilitas Fordow diubah men­jadi pusat penelitian nuklir, fisika dan teknologi.

Iran mengurangi komit­men nuklirnya yang dimak­sudkan untuk memberi tekan­an pada negara-negara kekuat­an dari Eropa agar mereka pun melaksanakan komitmennya untuk memberi bantuan pada Iran setelah AS keluar dari ke­sepakatan nuklir 2015.

Laporan IAEA

Sementara itu lembaga pengawas nuklir PBB, Interna­tional Atomic Energy Agency (IAEA), pada Senin (18/11) me­ngatakan bahwa cadangan air berat untuk reaktor Iran telah melampaui batas yang ditetap­kan berdasarkan kesepakatan nuklir 2015.

Dalam pernyataannya, IAEA mengatakan bahwa kilang pro­duksi air berat Iran saat ini cadangannya telah melampaui batasan 130 ton yang diatur da­lam kesepakatan nuklir 2015.

“Pada 17 November, IAEA memverifikasi bahwa kilang produksi air berat dan ca­dangan air berat Iran telah mencapai 131,5 metrik ton,” kata seorang juru bicara IAEA di Wina, Austria.

Air berat sendiri bukan ba­han radioaktif, tetapi diguna­kan dalam reaktor nuklir un­tuk menyerap neutron dari fisi nuklir. Reaktor air berat dapat digunakan untuk memproduk­si plutonium untuk senjata nuklir sebagai alternatif untuk uranium yang diperkaya. ang/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment