Asia Tenggara Rentan Mengalami Pelambatan Ekonomi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Ancaman Krisis

Asia Tenggara Rentan Mengalami Pelambatan Ekonomi

Asia Tenggara Rentan Mengalami Pelambatan Ekonomi

Foto : ANTARA/MUHAMMAD ADIMAJA
EKSPOR ANJLOK I Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Bongkar Muat Tanjung Priok, Jakarta, Senin (16/9). Separuh dari ekonomi Asean telah jatuh ke defisit neraca berjalan akibat ekspor yang anjlok.
A   A   A   Pengaturan Font

SINGAPURA – Para ahli dari lem­baga konsultan global Bain & Compa­ny mengatakan kawasan Asia Tengga­ra lebih rentan terhadap pelambatan ekonomi selama krisis keuangan glo­bal dibanding satu dekade lalu.

Laporan lembaga itu menyebut­kan, dampak lebih besar dirasakan oleh Tiongkok yang mengalami per­lambatan dan pergeseran ekonomi struktural sehingga membuat seba­gian besar pasar Asean berada dalam posisi yang lebih berbahaya daripada sebelumnya.

Bain & Co yang bermarkas di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), juga mengungkapkan separuh dari ekonomi kawasan telah jatuh ke defi­sit neraca berjalan akibat ekspor yang anjlok. Hanya Vietnam dan Filipina yang tidak mengalami perlambatan di­banding 2018. Sektor komoditas tidak akan mampu menahan pukulan eko­nomi karena harga dan penjualan yang turun. Sementara utang perusahaan dan rumah tangga telah melampaui dari tingkat tahun 2008 dan 2009 atau menyamai utang sektor swasta dari pa­sar yang lebih maju seperti AS.

“Pertumbuhan ekonomi yang kuat di kawasan itu, pada kenyataannya ti­dak melindunginya dari bahaya sean­dainya bagian dunia lain tenggelam atau bahkan mengalami resesi,” kata laporan itu seperti dikutip bussines­times, Jumat (20/9)

“Banyak ciri struktural yang melin­dungi kawasan ini satu dekade lalu, seperti pertumbuhan kuat Tiongkok dan permintaan global untuk komo­ditas, sekarang menawarkan lebih se­dikit penyangga,” tulis para pakar.

Sejak penurunan global yang ber­langsung dari 2007 hingga 2009, eko­nomi Asia Tenggara yang memiliki per­tumbuhan tinggi telah berubah.

Laporan itu mencatat, posisi nera­ca berjalan kawasan itu mendukung dan leverage yang rendah. “Bentuk penurunan di seluruh wilayah dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan penyebab resesi glo­bal di negara-negara yang membeli sejumlah besar minyak kelapa sawit, batu bara, komputer, dan barang-ba­rang lainnya,” paparnya.

Kehancuran Finansial

Rekanan Bain & Co, Thomas Ol­sen, yang juga menulis laporan itu, mengatakan penurunan selanjutnya diperkirakan akan meluas dan tidak terbatas pada kehancuran finansial yang akut. “Karena akan menjadi ko­reksi ekonomi yang lebih khas di ak­hir siklus,” ujarnya.

Laporan itu mencatat, paparan regional terhadap ekonomi Tiongkok telah tecermin dalam peningkatan lima poin persentase dalam porsi ekspor Asean-Tiongkok antara 2006 dan 2018. Pangsa ekspor Malaysia naik dua kali li­pat, tumbuh dari 7 persen menjadi 14 persen, sementara untuk Vietnam, naik dari 8 persen menjadi 16 persen.

Namun dalam periode yang sama, pertumbuhan produk domestik bru­to Tiongkok telah berkurang dari 12,7 persen menjadi hanya 6,6 persen se­hingga menjadikan Asia Tenggara terdepan dalam perlambatan. bussinestimes/SB/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment