Berbagai Upacara Tradisi Menyambut Imlek di Tiongkok | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
MONDIAL

Berbagai Upacara Tradisi Menyambut Imlek di Tiongkok

Berbagai Upacara Tradisi Menyambut Imlek di Tiongkok

Foto : AFP/XINHUA
PILIH DAGING | Pengunjung memilih daging selama festival belanja untuk mempersiapkan Festival Musim Semi di Chengdu, Ibu Kota Provinsi Sichuan, Tiongkok Barat Daya, pada 8 Januari 2020.
A   A   A   Pengaturan Font

CHENGDU – Mungkin Imlek kali ini menjadi salah satu pa­ling berat harus ditanggung warga Tiongkok. Mengapa? Lantaran negeri itu tengah diserang virus Ko­rona yang mematikan. Bahkan dua kota: Wuhan dan Huanggang, telah ditutup pemerintah. Dalam situasi mencekam seperti itulah, warga ha­rus merayakan Imlek.

Meski kondisi tengah tidak nor­mal, warga Tiongkok harus tetap merayakan. Festival Musim Semi pada Tahun Baru Imlek di Tiong­kok secara tradisional tak lengkap jika tanpa salah satu jamuan ber­bagai macam makanan khasnya. Sebab menurut kepercayaan, tanpa itu semua akan menjadi bencana ke depannya.

Meskipun beberapa orang memi­lih untuk bepergian ke luar negeri untuk merayakan liburan, sebagian besar warga Tiongkok yang bekerja di kota-kota besar akan kembali ke kota asal untuk berkumpul bersama kerabat. Perjamuan makan dengan kerabat dan teman adalah bagian tak terpisahkan dari liburan Imlek. Tetapi jika orang tidak membuat kesan baik pada orang lain selama pesta, liburan akan gagal.

Biasanya, tuan rumah atau orang dewasa termuda harus mengambil inisiatif untuk meminta tamu tertua atau tamu paling senior untuk meng­ambil “kursi atas.” Dia langsung menghadap pintu atau pintu masuk, sehingga posisi dan wewenangnya dalam keluarga mudah dikenali.

Jika orang yang lebih tua dengan sopan menolak tawaran itu dan meminta tamu lain untuk duduk, tuan rumah atau orang termuda harus dengan lembut mendesak agar mereka menduduki kursi yang diidamkan. Tuan rumah atau orang dewasa termuda biasanya duduk di seberang kursi atas, dekat dengan pintu. Dia harus memesan hidan­gan, mengatur pola tempat duduk dan memulai proses dengan me­minta para tamu untuk menikmati makanan dan minuman.

Saat makan, hidangan paling segar harus diletakkan di depan kursi atas, sehingga orang terhormat dapat mengambil gigitan pertama. Sering­kali, minum lebih penting daripada makan di jamuan seperti itu. Selain anggur merah dan minuman ringan baijiu-kuat, yaitu minuman keras beras pedas yang menjadi minuman umum Tiongkok. Orang-orang yang lebih muda biasanya harus berdiri, memegang gelas di kedua tangan dan bersulang dengan orang tua me­reka, berharap mereka hidup sehat, bahagia dan panjang umur.

Mereka juga harus mengatakan sesuatu yang menyanjung tentang tamu lain untuk mengakui po­sisi mereka. Tetapi mereka harus menghindari menjadi penjilat. Urutan pemanggangan berjalan searah jarum jam. Jika ada salah satu yang tidak bisa minum banyak anggur, bisa menggantinya dengan minuman lain, tetapi hanya di awal saat makan roti panggang.

“Di kota asalku, laki-laki dan perempuan biasanya perlu minum selama Festival Musim Semi. Ketika Anda bersulang, harus tetap terse­nyum dan mengarahkan baijiu ke ba­wah dengan setiap tamu di meja,” kata Li Yuxiang, penduduk asli provinsi Shandong. Dia menambahkan, se­orang pemuda yang tidak bisa minum cukup akan diejek para penatua.

Selain perjamuan makan, secara tradisional, orang-orang di Tiongkok memberikan amplop merah penuh dengan uang, yang dikenal sebagai hongbao, kepada teman dan kerabat selama perayaan Tahun Baru Im­lek. “Salam hangat untuk Anda. Bi­sakah saya memiliki amplop merah saya?” Atau “Gongxifacai, hongbao nalai?” dalam bahasa Tiongkok, ada­lah ungkapan terkenal untuk me­manen hadiah uang selama Festival Musim Semi. ang/chinadaily/xin/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment