Berjuang Dari Titik Terendah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Ren Zhengfei, Pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Huawei Technologies Co. Ltd

Berjuang Dari Titik Terendah

Berjuang Dari Titik Terendah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Usai menjadi tentara dan bergabung di perusahaan jasa logistik, Ren Zhengfei memulai usaha sendiri di bidang suku cadang elektronika dan telekomunikasi cikal bakal Huawei Technologies, hingga akhirnya menjadi perusahaan raksasa di Tiongkok dan global.

Huawei Technolo­gies adalah raksasa teknologi telekomu­nikasi asal Tiongkok yang berdiri sejak 1988. Produk dan servis dari perusahaan yang menginvestasikan 10 persen dari pendapatan tahunannya untuk litbang ini, telah menjangkau lebih dari 140 negara, dan digunakan oleh 45 dari 50 perusahaan operator telekomunikasi terbesar dunia.

Pada 2018, Huawei men­catat rekor pengiriman 200 juta unit produknya, dan meraih laba bersih sebesar 8,656 miliar dollar AS, dengan total aset 97,109 miliar dollar AS, dan total ekuitas sebe­sar 33,994 miliar dollar AS. Huawei juga memiliki pusat litbang di Stockholm, Swedia; Dallas dan Silicon Valley, Amerika Serikat (AS); Banga­lore, India; Ferbane di Offaly, Irlandia; dan Moskwa, Russia.

Namun, saat ponsel anda­lan terbaru Huawei, Mate 30, diluncurkan di Munich pada September tanpa perincian spesifikasiya, telah men­egaskan bagaimana raksasa telekomunikasi terbesar dunia itu harus berjuang di bawah tekanan perang dagang AS. Penjualan ponsel cerdas itu di pasar terbesarnya di luar Tiongkok, dan Eropa, juga harus tertunda karena produk itu tidak memiliki akses ke aplikasi dan layanan Google.

Ini terjadi, setelah Presiden Donald Trump me­masukkan Huawei ke daftar hitam perusahaan yang dilarang memiliki teknologi dari AS. Bahkan putri Ren, Meng Wangzhou, yang juga CFO Huawei, ditangkap di Kanada atas permintaan AS. Ia dikenakan tuduhan peni­puan perbankan dan transfer bank yang melanggar sanksi AS terhadap Iran.

Walaupun terancam, pendiri sekaligus CEO Hua­wei, Ren Zhengfei, optimistis perusahaannya akan mampu bertahan dan selamat melewati tekanan itu. Dia memperkirakan tekanan AS hanya bersifat sementara dan penjualan akan kembali pulih pada 2021.

Sebagai sosok pebisnis ulung, Ren Zhengfei lahir pada 25 Oktober 1944, dari pasangan Ren Moxun dan Chen Yuanzhao. Ia meng­habiskan masa sekolah di sebuah kota pegunungan terpencil di Guizhou. Sete­lah SMA, ia melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi di Institut Teknik Sipil dan Ar­sitektur, Universitas Chongq­ing, pada 1963.

Pasca­lulus, ia mendaftar menjadi Tentara Pem­be­basan Rakyat atau People’s Liberation Army (PLA) pada tahun 1974, dan ditempatkan di Korps Teknik militer. Sete­lah sembilan tahun mengabdi, pemerintah Tiongkok melaku­kan pengurangan jumlah tentara demi penghematan, sehingga berdampak pada pemberhentian 500.000 ten­tara aktif. Ren menjadi warga sipil, lalu pindah ke Shenzen dan bekerja sebagai pegawai jasa logistik di Shenzhen South Sea Oil Corporation.

Kurang puas dengan pe­kerjaan itu, Ren memutuskan untuk keluar dan dengan mo­dal 21.000 yen, mulai mem­bangun bisnis suku cadang elektronika dan telekomu­nikasi, yang sekarang dikenal dengan nama Huawei.

Pada awal 2000, Huawei mempekerjakan kurang dari 20 ribu pegawai di selu­ruh dunia. Dalam 10 tahun, jumlah pegawai perusahaan meningkat hampir 500 persen yaitu mencapai 95 ribu orang, 27 ribu di antaranya tersebar di luar Tiongkok. Teknologi Huawei sendiri telah diap­likasikan di lebih dari 100 negara, termasuk di Jerman, Prancis, dan Swedia.

Sebagai pendiri Huawei, Ren menyerahkan kepe­milikan perusahaan pada karyawan untuk menjamin kelanjutan Huawei. Pada kuartal I-2018, Huawei me­ngeluarkan 39,3 juta unit ponsel pintar, setara dengan 11,8 persen persentase pasar ponsel pintar di dunia. Kini, Huawei menjadi produsen ponsel pintar terbesar nomor ketiga, di bawah Samsung dan Apple. Ia pun menjadi orang terkaya nomor 1.028 di dunia dengan total kekayaan 2,2 miliar dollar AS atau 29,26 triliun rupiah.

Pengagum Amerika

Meski menjadi salah satu korban perang dagang yang dilancarkan AS, Ren mengaku tetap mengagumi kebesaran negar adidaya tersebut. Da­lam sebuah wawancara de­ngan CNN, ia mengaku sejak muda hingga sekarang salut akan kebesaran AS.

“Hari ini, saya masih percaya bahwa AS adalah negara yang hebat. Institusi canggih Anda, mekanisme inovasi yang fleksibel, hak properti yang jelas, dan penghor­matan serta perlindungan hak individu telah me­narik bakat terbaik dunia un­tuk berin­vestasi dan berinovasi di AS. Miliaran orang telah berpartisipasi dalam proses ini. Tanpa ke­terbukaan, Anda tidak akan bisa berkembang menjadi kekuatan paling unggul di dunia hanya dalam lebih dari 200 tahun,” tuturnya.

Terkait tekanan perda­gangan AS kepada Huawei, Ren mengaku telah mencoba agar perusahaannya tetap menjaga profil, seperti domba yang diam. Tanpa memeduli­kan apa yang orang lain kata­kan, perusahaan selalu tetap diam dan tidak menyangkal apa yang dikatakan.

“Ketika kami bereks­pansi ke pasar luar negeri, beberapa orang mengatakan kami komunis. Kemudian, ketika kami kembali ke Tiong­kok, orang lain mengatakan kami kapitalis, karena kami membagi keuntungan kami dengan karyawan kami dan banyak dari karyawan kami memiliki pendapatan tinggi. Kita tidak tahu apakah kita komunis atau kapitalis, dan kita tidak membuang waktu untuk menjelaskan siapa diri kita. Sebagai gantinya, kami menghabiskan waktu kami untuk memperbaiki manajemen internal kami dan menyediakan produk dan layanan yang lebih baik, sehingga pelanggan akan memahami dan menerima kami,” tuturnya.

Menurutnya, AS mulai me­nyerang Huawei sejak lebih dari 10 tahun yang lalu kare­na curiga ketika perusahaan mulai berekspansi ke pasar luar negeri. Upaya itu diang­gap sebagai langkah-langkah komunis memperluas pengaruh. Akhirnya, Huawei menggugat pemerintah AS karena pembatasan yang dit­erapkan. Selocahyo/E-12

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment