Koran Jakarta | November 17 2018
No Comments

Bersiteguh Memperjuangkan Harmoni lewat Perjumpaan

Bersiteguh Memperjuangkan Harmoni lewat Perjumpaan
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Indahnya Pelangi di Langit Nusantara

Penulis : Felix Supranto SS. CC

Penerbit : Obor

Cetakan : Mei 2018

Tebal : xvii + 150 halaman

ISBN : 978 979 565 819 1

 

Menghadapi fonomena benturan sosial akibat perbedaan, Romo Felix Supranto berprinsip untuk tidak mengeluh. Mengeluh itu rapuh, bagian dari masalah, bukan solusi. Berjuang untuk memperbaikinya merupakan jalan terbaik. Sekecil apa pun kontribusinya tidak jadi soal. Berawal dari anggitan kecil, asal dilakukan secara kontinyu, perpecahan sosial bisa disulam ulang hingga utuh kembali.

“Karena itu, daripada selalu mengeluhkan persolan tentang intoleransi, kita lebih baik menjadi cahaya kecil kerukunan. Menjadi cahaya kerukunan akan melahirkan harapan dan kebahagiaan, sedangkan terus mengeluhkan persoalan akan melumpuhkan,” katanya (hlm 27).

Buku ini manifestasi prinsip tersebut yang berisi kumpulan reportase perjalanannya menghadiri beragam kelompok. Bagi instruktur retret tersebut, tanpa kehadiran, akan ada jarak, rasa asing, dan curiga. Namun, hadir saja tidak cukup. Ia mesti dibarengi dengan keteladanan kebaikan, moral, dan etika. Pelayanan demi memenuhi hajat sesama, penting diprioritaskan untuk membedakan dengan kehadiran politis yang bertendensi personal.

Ia kadang bersilaturahmi karena kehendak pribadi. Di saat lain hadir karena diundang, tidak mungkin ide brilian bertabur kebaikan akan diterima kelompok lain jika tidak disalurkan lewat silaturahmi. Yang namanya kelompok berbeda, secara instingtif mengandaikan ancaman dari kelompok lain karena ketidaktahuan mereka akan fakta.

Beretorika hingga berbusa tentang kebaikan diri sendiri akan dianggap apologi. Mereka hanya paham dan yakin dengan penyaksian. Hadir, menyapa, berbincang dengan santai dan terbuka, serta menyingsingkan baju untuk saling membantu adalah cara ideal untuk membuktikan kebaikan.

Ketika hadir di acara sebuah pesantren dan berbaur dengan santri, Romo Felix mendengar mereka baru tahu fakta sebenarnya tentang agama lain. “Romo, terima kasih sudah sering mengunjungi kami. Kunjungan ini sangat baik bagi kami karena kami dapat mengenal pemeluk agama lain secara nyata. Kami juga sudah menyampaikannya kepada orang tua kami, dan mereka mengatakan kepada kami bahwa kami harus hidup rukun dengan siapa pun,” kata mereka (hlm 26).

Kunjungan berbalas kunjungan, lahirlah sinergi kerukunan dalam perbedaan. Di satu waktu, Romo Felix diundang menghadiri acara umat Islam untuk memberikan wawasan kebangsaan. Di saat lain, tokoh umat Islam diundang menghadiri acara umat Katolik untuk melakukan serupa. Memperluas wawasan penting dilakukan agar fokus pada perbedaan bisa dialihkan pada titik-titik persamaan (hlm 60).

Bagi Romo Felix, jika titik persamaan tidak bisa didapat dalam kesamaan akidah, maka carilah pada kesamaan bangsa. Jika belum didapat, sadarilah bahwa semua manusia sama-sama keturunan Adam dan sama-sama ciptaan Tuhan. Sebagai sesama ciptaan Tuhan, senantiasa ditumbuhkan kesadaran bahwa beragam perbedaan sosial, fisik, akidah, ras, dan lain sebagainya merupakan desain Tuhan juga. Tujuannya bukan untuk saling menegasikan, melainkan merapat, berbagi potensi dan energi demi kebaikan muka bumi.

Berkat jalinan silaturahmi yang intens, Romo Felix bisa santai membicarakan tentang persoalan umat. Saat lagi ramai penganiayaan tokoh-tokoh agama di penghujung tahun 2017, dia dengan kelompok umat Islam justru merapatkan barisan agar sindrom tersebut tidak membias lewat aura ketakutan. “Perjumpaan yang terus-menerus akan mengikis kecurigaan sehingga melahirkan kepercayaan. Ia akan mengubah pikiran yang negatif menjadi positif,” tegas Romo Felix (hlm 35).

Buku ini dilengkapi foto-foto untuk semakin menguatkan aura kerukunan yang diperjuangkannya. Ini layak dicontoh agar tidak menjadi rapuh di depan intoleransi karena hanya mengeluh.

 


Diresensi Habibullah, Alumnus Panscasarjana UIN Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment