Koran Jakarta | June 24 2018
No Comments

Bu Dendy…. Lala-lala....

Bu Dendy…. Lala-lala....

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Bu Dendy — istri Pak Dendy, atau Dandhy, atau Dendi, masih muda, nampak sangat emosional, suaranya gemetar, memaki perempuan yang duduk tersipu di depannya. Perempuan yang juga muda itu bernama Nylla, atau Nilala sebagaimana yang terdengar ketika disebutkan namanya oleh Bu Dendy. Nylla adalah sahabat Bu Dendy. Namun ternyata, ia melakukan “sleding”—sebagaimana pemain bola, yang dalam hal ini mengambil “bola” Pak Dendy. Kisah selingkuhan ini diketahui, dan adegan kemarahan itu yang viral di media sosial. Sebagian dalam ungkapan Jawa yang kasar yang menyamakan Nylla sebagai pelacur, sebagai pelakor—perebut suami orang, sebagai sahabat yang berkhianat. Adegan bersambung: Nylla ditaburi uang. Dalam artian sebenarnya, karena terlihat uang yang dihamburkan lumayan banyak. Bu Dendy bahkan menantang kalau ada perempuan lain yang “mepet”, ke suaminya karena harta, akan dikasih. “Nyoh” yang berarti nih—ikut menjadi viral.

Istri resmi marah ke perempuan selingkuhan zaman now tidak lagi tarikmenarik rambut, tidak juga bergelut di lumpur. Cukup dengan lemparanlembaran uang. Apakah ini kisah sebenarya, atau rekayasa, atau gabungan dari keduanya, tidak jelas. Tapi agaknya kekesalan Bu Dendy mewakili perasaan ibu-ibu atau para istri. Yang dalam sekejap jadi viral. Bahkan kisah itu sendiri, dan terutama variannya yang menandai sukses ditonton dan dikomentari serta disebar ulang. Ada kisah lain, model Naylla, cuma kali ini yang ditebarkan ke arahnya hanyalah daun—bukan uang. Ada sekuel lain, ketika Bu Dendy sedang mencari rumah Naylla—itu yang menyebabkan Naylla ingin dibelikan rumah Pak Dendy. Ada juga adegan ala Naylla, tapi kali ini duitnya tak dibiarkan beterbaran, melainkan disimpan di dada. Yang lain lagi: gugatan bahwa sebenarnya Bu Dendy yang marahmarah ini sebetulnya juga pelakor. Ada yang bertanya, bagaimana reaksi Pak Dendy. Ada yang mempersoalkan apakah ini Dendy L... atau Dendy C..., nama yang beken di medsos.

Yang mana pun, kehadiran Bu Dendy ini menjadi kocak, lucu, menghibur, dan masih menyedot perhatian. Kurang dari seminggu, sudah lebih 80.000 twit berkenaan dengan Bu Dendy dengan segala variasinya. Termasuk nasihat pembenaran, yang dijadikan pembenaran: jadi istri bukan harus hanya pinter nyimpen duit, juga harus pinter ngabisin duit. Dan pengingkaran ucapan utama yang berbelok, berbalik, dan berlawanan dengan makna sebelumnya. Karena, seperti kasus Lulung, atau, apa lagi, Vicky Prasetyo… muncul jenis humor baru. Misalnya, kasur tempat tidur Bu Dendy itu berisi kapas, melainkan uang lembaran seratus dan lima puluh ribu.

Berapa harga dirimu? Adalah pertanyaan menggugat harga diri perempuan yang bisa dibayar yang berarti merendahkan, namun itu bukan satu-satunya tafsiran yang ada. Bahkan bukan yang utama. Dalam dunia cyber seperti ini, kebenaran—dan bukan kebenaran, kewajaran—dan ketidak wajaran, berbaur, berkelindan menjadi satu-satu.

Hanya dengan hati-hati, waspada, kita bisa menikmati kisah Bu Dendy. Atau bisa ikut prihatin dan juga ikut tertawa. Sosok Bu Dendy di dunia maya ini bisa berarti tokoh politik, bahkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh terhormat, yang bisa dibelokkan, dibalik-balik, diputar, dan dinihilkan harganya atau posisinya, atau keberadaannya. Maka tak ada siasat lain selain berhati-hati, waspada, tidak mudah ikut emosional atau bereaksi. Untuk jenis apa pun beritanya. Lebih baik ikut menyanyi— dalam hati, lagu Bu Dendy yang dipasukan dengan lagu “Baby Shark” yang juga ngehit dengan gerak kedua tangan membuka-menutup.... Bu Dendy lala-lala.... Bu Dendy...

Akan halnya tokoh sebenarnya yang bernama Bu Dendy, atau kemudian Pak Dendy juga, atau Nellya atau tokoh lain lagi bisa dimunculkan dalam layar televisi karena di sana ada rubrik yang menangkap hal-hal yang viral. Kalau sudah demikian makin kaburlah kemarahan Bu Dendy itu. Marah sungguh-sungguh atau setting (yang diatur), untuk menarik perhatian agar menjadi bagian dari seletwit.

Yang mana pun tak mengurangi kegembiraan gratis atas kemunculan Bu Dendy....

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment