BUMN Perlu Perkuat Sektor Pangan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Perusahaan Pelat Merah I Segera Realisasikan “Holding” BUMN Pangan

BUMN Perlu Perkuat Sektor Pangan

BUMN Perlu Perkuat Sektor Pangan

Foto : Sumber: Kementerian Perdagangan – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
Pembentukan holding BUMN Pangan bisa menjadi bentuk kepedulian pemerintah dalam upaya stabilisasi dan kedaulatan pangan yang merupakan sektor strategis.

 

JAKARTA – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung industri substitusi impor, khusus­nya sektor pertanian pangan. Untuk itu, rencana perombakan BUMN semestinya juga meng­arah pada hilirisasi produk pertanian, sehingga mampu memangkas kebutuhan impor pangan, lalu memperkuat kedaulatan pangan nasional.

“Penguatan kapasitas BUMN terkait perta­nian pangan dapat menjadi momentum ke­bangkitan pertanian Indonesia berbasis agro­industri, bahkan kemandirian energi lewat EBT (energi baru dan terbarukan),” jelas Guru Besar Pertanian dari Universitas Pembangunan Na­sional (UPN) Jawa Timur, Surabaya, Ramdan Hidayat, ketika dihubungi, Rabu (4/12).

Ramdan menegaskan ini bisa memangkas kebergantungan pada impor, lewat substitusi impor. “BUMN seperti Perhutani, PN Garam, PTPN, sangat mampu melakukan hilirisasi, kuncinya hanya di koordinasi. Selama ini di­reksi hanya mempertimbangkan profitabilitas, sedangkan yang local wisdom (kearifan lokal) tidak diperhitungkan,” tukas dia.

Menurut Ramdan, banyak potensi yang da­pat dikembangkan dari BUMN, seperti PTPN produsen gula dapat meniru Thailand yang sudah menghasilkan bioetanol. Hasil pemba­karan ketel pabrik juga bisa menghasilkan lis­trik untuk dijual. “Ini yang dilakukan Thailand. Pertamina juga bisa ambil peran dengan pro­gram 20 persen konten hayati. Dengan kelapa sawit yang sulit dijual ke luar negeri karena ada handycap, kita punya alternatif diolah menjadi biodiesel,” ujar dia.

Ramdan menyatakan banyak senjata yang bisa diandalkan untuk hilirisasi. Apabila pe­luang itu tidak diambil, maka akan diisi oleh pemain dari luar. Ini tidak hanya mendukung kemandirian pangan, tapi juga mengarah ke energi bersih, dan kemandirian energi.

“Pada era sebelumnya, menteri jalan sen­diri-sendiri, dan impor terjadi di Kementerian Perdagangan. Makanya dengan perombakan ini dan koordinasi Presiden, diharapkan impor da­pat ditekan, muatan lokal diutamakan,” tutur dia.

BUMN Pangan

Sebelumnya dikabarkan, pemerintah disaran­kan segera membentuk Holding BUMN Pangan yang akan mengonsolidasikan peran dan tugas BUMN Pangan. Saat ini, BUMN Pangan terbagi pada bisnis inti masing-masing, di antaranya PT Berdikari (Persero) bidang peternakan, Perum Bulog untuk penyandang stok pangan pemerin­tah, PT Pertani dan PT Sang Hyang Seri untuk pembibitan, PT Perinus dan PT Perindo bidang perikanan, serta PT Garam bidang garam.

Direktur Utama Berdikari, Eko Taufik Wibo­wo, mengemukakan ide pembentukan Holding BUMN Pangan sebenarnya pernah dilontarkan oleh Kementerian BUMN. Namun, ide itu belum terealisasi. Di sisi lain, saat ini persoalan pangan di Indonesia membutuhkan penanganan dan so­lusi terintegarsi dan terkonsolidasi dengan baik. Selain itu, kuat dan mapan dari hulu ke hilir.

Menurut dia, persoalan itu bisa diatasi me­lalui penguatan kapasitas BUMN Pangan, yang tidak hanya menjadi perusahaan milik negara yang bertugas menghasilkan dividen, tetapi juga mampu menguasai rantai pasok pangan nasional, secara efisien dan efektif. Intinya, te­gas Eko, pembentukan Holding BUMN Pangan sudah harus dipertimbangkan untuk direali­sasikan segera. “Dengan adanya berbagai isu dan tantangan pemenuhan kedaulatan pangan nasional, perlu peran BUMN yang kuat. Tertata dalam satu kesatuan dan saling konsolidasi,” papar dia, belum lama ini.

Secara terpisah, Dewan Pembina Institut Agroekologi Indonesia (Inagri), Ahmad Yakub, mengatakan BUMN pertanian dan perkebunan harus naik kelas, fokusnya sudah tidak lagi di budi daya, tapi pada hilirisasi produk pertanian.

“BUMN pertanian harus naik kelas urus on farm pada sektor teknologi perbenihan dan industri pertanian dengan mekanisasi yang ra­mah petani, energi, dan lingkungan sesuai geo­grafis dan kultur kita,” jelas dia.

Sementara untuk off farm, imbuh Yakub, BUMN mesti fokus pada teknologi pengolahan pascapanen. Jadi, BUMN sudah tidak risau lagi dengan turunnya harga komoditas seperti ka­ret, kopra, dan sawit. “Industri CPO terutama, memiliki aneka ragam turunan komoditas pa­ngan, kosmetik, dan sebagainya,” papar dia. SB/YK/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment