Koran Jakarta | December 11 2017
No Comments

Dalam Ketupat, Tersirat Pengakuan Bersalah

Dalam Ketupat, Tersirat Pengakuan Bersalah

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Ketupat, atau kupat (atau katupa bagi orang Makassar, atau katupat bagi orang Banjar, atau ucapan yang mirip-mirip untuk se Asia Tenggara) menjadi bagian dalam kehidupan budaya di Indonesia.

Bukan hanya sebagai makanan—terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa, atau janur), melainkan juga sebagai pertanda Hari Lebaran, Idul Fitri yang mengakhiri sebulan berpuasa.

Tapi juga menjadi simbol, idiom, atau gambar ketupat sudah dimunculkan dalam kartu ucapan, atau bagian yang dipajang di toko-toko.Bahkan di Jawa ada hari dinamai Hari Raya Ketupat—8 hari sesudah Hari Raya Lebaran.

Dan bukan hanya Jawa dengan berbagai suku, melainkan juga daerah budaya lain di Indonesia. Bahkan sampai Filipina juga mengenal ketupat dengan anyaman yang ukurannya lebih besar.


Ketupat di hari-hari biasa bisa disandingkan mendampingi sate, atau gado-gado atau ketoprak. Meskipun dalam bentuk balutan janur, hanya disajikan pada Hari Raya Lebaran. Pada beberapa tempat, hanya pada hari keramat ketupat dibuat.

Dengan keberadaan yang menempel pada hari tertentu di masyarakat, ditemukan kisah-kisah yang menyertai. Baik kisah yang bisa ditemukan hubungannya, atau sekadar “menurut tradisi”.

Misalnya pilihan untuk janur harus daun kelapa yang tidak terlalu muda, juga tidak terlalu tua. Agar tidak getas, mudah patah. Jumlah beras yang dimasukkan pun perbandingan harus tepat :

tidak terlalu keras, dan juga tak terlalu lembek. Lebih dari itu ketika dibelah harus bewarna putih bersih—dan bukan terkena warna janur—sebagai tanda, atau simbol hati yang bersih.


Kupat sendiri juga banyak diartikan dari unsur kata dasar. Ada berbagai pemaknaan. Intinya sama, sebagai bagian dari “mengaku lepat”, atau mengakui bersalah, berdosa. Sebuah sikap rendah hati, mengaku bersalah, dan karenanya mohon maaf, kepada Sang Pencipta, juga kepada sesama.


Maka sebenarnya, tidak berlebihan kalau nenek moyang kita pada masanya begitu arif, begitu bijaksana, begitu memperhatikan hubungan sesama dalam menerjemahkan, atau barangkali menciptakan, contoh nyata, juga dari materi kuliner.

Bagaimana sebuah makanan–dalam hal ini kupat, juga bisa ditafsir menyimpan ajaran tentang kebaikan, keluhuran, tentang tahu diri, tentang mengaku bersalah.


Ini yang saya ingatkan, bahwa sesungguhnya ada nilai-nilai, ada makna-makna, yang telah dengan sadar diupayakan ditanamkan untuk generasinya—dan generasi berikutnya.

Bahwa “ngaku lepat” adalah sikap rendah hati, adalah baik—apa pun kriterianya, dan berlaku ketika diungkapkan, atau kemudiannya.

Seperti saat ini pun, kita akan diingatkan bahwa ada riwayat dan asal usut ketupat, dan kita mendengarkan kembali dengan bahagia.


Menurut saya inilah sikap yang baik dan tepat dalam situasi sekarang ini. Situasi yang kadang menakutkan, suasana yang kadang untuk membicarakan pun enggan—kalau bisa berakibat beda dengan yang dimau.

Akankah, misalnya ada pihak-pihak atau perorangan, sekarang yang memulai mengatakan : ya salah telah berkirim berita hoax.

Atau menyebar fitnah asal usul seseorang. Atau melakukan korupsi—baik dari pelaku atau keluarganya. Misal dan misal yang lain lagi, yang rasa-rasanya tidak mungkin ada yang melakukan.


Atau ada?


Atau akan ada?


Entahkah. Saya juga tidak terlalu berharap akan ada gerakan kupat—mengaku lepat, karenanya. Namun itu tidak mengurangi keinginan untuk mengingatkan.

Bahwa kita ini sebenarnya diturunkan dari orang tua yang baik, yang berjiwa satria lahir batin. Bahwa bentuk anyaman janur sebagai ketupat sampai sekarang masih memberi rejeki kepada pembuatnya—di mana kita membayangkan saja sulit.


Selamat menikmati ketupat, sahabat.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment