Dengan Struktur Baru, Pelayanan Bidang Kebudayaan Akan Lebih Fokus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Terkait Perubahan di Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud

Dengan Struktur Baru, Pelayanan Bidang Kebudayaan Akan Lebih Fokus

Dengan Struktur Baru, Pelayanan Bidang Kebudayaan Akan Lebih Fokus

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) banyak melakukan perubahan, baik dari segi kebijakan maupun struktur kelembagaan. Salah satu perubahan yang terjadi adalah penggantian di tubuh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud.

 

Terdapat beberapa direk­torat yang hilang, terma­suk direktorat-direktorat yang berbasis pada objek budaya, seperti kesenian, sejarah, cagar budaya. Adapun direktorat yang baru, antara lain Direk­torat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, serta Direktorat Pembinaan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat.

Tidak sedikit seniman dan budayawan yang keberatan dengan perubahan tersebut. Untuk itu, Ko­ran Jakarta mewawancari Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendik­bud, Hilmar Farid. Berikut rangkuman wawancaranya.

Bisa dijelaskan latar belakang perubahan tersebut?

Perubahan ini sudah didiskusi­kan sejak keluarnya Undang-Un­dang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. UU terse­but punya banyak amanat untuk memajukan kebudayaan dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan. Cuma selama ini direktorat dibagi kompartemen berdasarkan objek yang ditangani, seperti kesenian, cagar budaya, dan seterusnya.

Kalau saat ini bagaimana?

Sekarang kalau direktorat mau disusun ber­dasarkan objek yang ditangani tidak bisa jalan. Makanya harus dipikirkan cara lain. Caranya dengan memperha­tikan objek itu ditangani atau alur kerja seperti melindungi, meman­faatkan, mengembangkan, dan membina.

Pegiat seni dan budaya merasa mereka tidak diperhatikan karena tidak ada direktoratnya. Tanggapan Anda?

Tetap kita tangani, cuma cara pengerjaannya berbeda dengan sebelumnya. Kalau dulu, banyak kebingungan karena terkadang urusan kebudayaan melibatkan direktorat di luar Dirjen Kebudayaan, tapi esensinya ada di kita, misalnya program-program lebih strategis terkait kuriku­lum berbasis budaya atau urusan perguruan tinggi.

Bukan berarti dengan hilangnya direk­torat berbasis objek itu tidak akan diurus. Tetap akan diurus bahkan lebih efektif dengan cara mengubah organisasi kerjanya. Kalau berbasis objek seperti dulu, ada objek-objek kebudayaan yang tidak masuk. Di sisi lain, objek-objek pemajuan kebudayaan juga sudah jelas ada dalam UU. Kalau sekarang semua jenis budaya bisa kita layani.

Tapi, masih ada Direktorat Film, Musik, dan Media Baru. Bukankah itu berorientasi pada objek?

Kalau itu, memang janji dari Presiden Joko Widodo yang ingin memajukan perfilman dan per­musikan kita. Adapun media baru adalah penyalurannya melalui me­dia yang lebih baru yang berkem­bang sekarang. Kalau kita tidak ikut, ya akan ketinggalan.

Untuk objek budaya lain bagaimana?

Sekarang kita urusi semua jadi satu dalam direktorat, tergan­tung kebutuhannya. Lalu, harus diingat ada janji Presiden Jokowi bahwa akan ada Dana Abadi Kebudayaan. Nah, dana abadi ini yang nantinya akan melayani permintaan-permintaan kerja sama dan pendukungan yang selama ini diberikan melalui direktorat. Kalau masyarakat yang ingin dukungan bingung, surat atau proposalnya bisa langsung ditujukan ke saya, untuk nanti ditujukan ke direktorat yang bersangkutan.

Apa upaya yang akan dilaku­kan agar tidak bingung?

Sosialisasi dan audiensi akan kami lakukan dengan stakeholder-stakeholder terkait. Tentu itu di­lakukan secara bertahap dan cepat. Memang akan perlu waktu saya kira untuk memahami proses ini agar bisa diikuti dengan baik. aden marup/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment