Dorong Produktivitas Pertanian untuk Pangkas Kemiskinan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Antisipasi Perubahan I Diperlukan Reformasi Sistem Inovasi Pertanian Dalam Negeri

Dorong Produktivitas Pertanian untuk Pangkas Kemiskinan

Dorong Produktivitas Pertanian untuk Pangkas Kemiskinan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

>> Bank Dunia baru menyadari terlalu menganakemaskan perbankan dan melupakan kebutuhan pangan.

>> Meningkatkan produktivitas sektor pertanian dapat menambah lapangan pekerjaan lebih banyak dan lebih baik.

JAKARTA – Pemerintah sebaiknya memprioritaskan pembangunan ke­tahanan pangan melalui peningkatan inovasi pertanian dan produktivitas se­hingga bisa menekan jumlah penduduk miskin serta mampu mengatasi dampak buruk perubahan iklim. Selain itu, pe­merintah juga harus memberikan jalan bagi petani kecil dalam skema pembia­yaan agar tidak beralih ke sektor lain.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan harga produk pangan yang relatif sangat rendah dibandingkan pro­duk manufaktur membuat petani jadi kurang accesable ke industri.

“Oleh karena itu, perlu ada harga yang layak bagi produk-produk perta­nian jika ingin menyejahterakan petani. Sebab, jika harga produk pertanian ba­gus maka petani mampu untuk mengak­ses produk nonpertanian guna kebutuh­an hidupnya. Nah, soal harga ini bisa melalui pe­ningkatan produktivitas, memberikan subsidi per­tanian, baik langsung-tidak langsung, dan ja­minan pembelian,” kata Dwijono saat dihubungi, Jumat (20/9).

Sebelumnya, Bank Dunia melaporkan ne­gara-negara berkembang perlu secara dramatis meningkatkan inovasi pertanian dan produk­tivitas pertanian untuk menghilangkan kemis­kinan ekstrem dan meng­atasi dampak buruk perubahan iklim.

“Dua pertiga dari kaum miskin eks­trem global mencari nafkah di perta­nian dan pertumbuhan produktivitas di pertanian memiliki dampak terbesar ke sektor mana pun terhadap pengurangan kemiskinan,” kata Bank Dunia.

Bank Dunia kemudian mencontoh­kan Tiongkok dan negara-negara Asia Timur yang berhasil meningkatkan pro­duktivitas pertanian yang berkontribusi pada pengurangan kemiskinan.

“Meningkatkan produktivitas sektor pertanian dapat menambah lapangan pekerjaan lebih banyak dan lebih baik. Untuk itu, diperlukan reformasi kom­prehensif sistem inovasi pertanian da­lam negeri, pengeluaran publik yang lebih efektif dan pengembangan rantai nilai pertanian inklusif dengan meningkatkan peran swasta,” kata Wa­kil Presiden Kelompok Bank Dunia untuk Per­tumbuhan, Keuangan, dan Lembaga yang Berkeadilan, Ceyla Paz­arbasioglu.

Pazarbasioglu menyatakan pendorong utama untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan pening­katan pendapatan ada­lah adopsi teknologi dan praktik inovatif oleh petani.

“Teknologi baru bisa meningkatkan akses dan informasi ke sektor keuangan dan asuransi. Kebijakan ini juga dapat membantu petani berketerampilan ren­dah meningkatkan produktivitas,” pa­parnya.

Menurut Dwijono, laporan tersebut mengindikasikan selama ini sektor per­tanian terabaikan karena Bank Dunia terlalu fokus pada perbankan. “Bank Dunia baru menyadari kalau pertum­buhan produktivitas di pertanian me­miliki dampak terbesar ke sektor mana pun,” katanya.

Dwijono menegaskan subsidi un­tuk sektor pertanian menjadi salah satu pilihan untuk meningkatkan produkti­vitas petani. Sebab, di beberapa negara telah menerapkan skema mirip subsidi yang disebut dengan direct payment.

“Intinya, pemerintah ikut memban­tu secara langsung memberi sejumlah dana untuk petani. Di Tiongkok, peme­rintah menanggung hampir 50 persen biaya produksi sehingga harga produk di petani menjadi lebih murah,” katanya.

Mengubah Cara Produksi

Sementara itu, sebuah studi yang di­buat Koalisi Penggunaan Pangan dan Lahan (Food and Land Use Coalition) menyatakan negara-negara di dunia harus mengubah cara produksi dan konsumsi pangan sehingga semakin beragam. Jika tidak, maka akan terjadi gangguan pasokan pangan yang dapat memicu krisis dan kerusuhan sosial.

Studi global itu juga menemukan manfaat kesehatan dan lingkungan de­ngan mengubah cara dalam pertanian. Para penyusun studi itu mendorong ber­bagai negara bertindak lebih banyak un­tuk mendukung agrikultur berkelanjutan.

“Gangguan kecil dalam pasokan akan mengakibatkan kerusakan besar dan memicu kenaikan harga yang sangat tinggi,” ungkap Per Pharo dari Koalisi Penggunaan Pangan dan Lahan (FLUC) yang menyusun studi itu.

Laporan aliansi global para ekonom dan ilmuwan itu juga menyebutkan, krisis pangan akan menciptakan penderitaan dan keresahan sosial. “Dan juga kemung­kinan besar akan menyebabkan kelaparan dan ketidakstabilan,” kata Pharo. FT/AFP/SB/YK/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment