Koran Jakarta | November 20 2019
No Comments
JENAK

Gedung dengan Seribu Kupu-Kupu

Gedung dengan Seribu Kupu-Kupu

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font
CATATAN ARSWENDO

Dalam 2 minggu terakhir ini, saya bukan kebetulan berurusan dengan rumah sakit. Periksa biasa, dioper ke dokter spesialis lainnya, dan seterusnya. Sampai akhirnya berada di meja operasi satu dan lainnya. Di sinilah saya merasakan kehangatan keluarga yang mendukung sepenuhnya (ah, itu sih biasa) sampai pelayanan para dokter spesialis (ah, itu sih memang sudah profesional).

Di tengah malam, di waktu yang membeku, di luar gedung-gedung hampir tak ada gerak. Di situlah kita menemukan gerak yang sesungguhnya. Yaitu para perawat yang bahkan sejak sore telah menyiapkan diri, telah bekerja dalam diam. Kehadirannya semata karena bel panggilan atau panggilan karena papasan.

Dalam dua minggu selama dirawat, saya menyaksikan semuanya. Bagaimana di tengah malam mereka menampung permintaan yang tidak pernah ada dalam buku panduan: muntah, mencret, berteriak, di satu pihak sementara di pihak lain para suster, perawat di salah satu sudut tempatnya bekerja mengusap air mata perlahan. Ia menyesali pekerjaan yang bukan sepenuhnya salahnya.

Pasiennya keburu muntah ketika selimut didatangkan. Saya tak tahu persis jam berapa suster tadi bertugas, juga sampai jam berapa, namun ia akan selalu ada bila diperlukan. Saya tak tahu pasti apa kesulitan dan persoalannya:sebagai lajang, atau keluarga muda atau tulang punggung bagi keluarganya.

Jika kita melihat gedung Rumah Sakit baru dan megah jangan hanya dilihat dari gedungnya yang tinggi, peralatannya yang luar biasa, dokternya yang ahli, melainkan juga dilihat dari para perawat, suster yang paling bersentuhan langsung dengan kehidupan. Saya merasakan

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment