Halimah Memilih Tetap Tinggal di Rusun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 23 2017
1 Comment
Presiden Singapura

Halimah Memilih Tetap Tinggal di Rusun

Halimah Memilih Tetap Tinggal di Rusun

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Halimah Yacob akan dilantik di Istana Kepresidenan Singapura, Kamis (14/9), setelah resmi ditetapkan menjadi Presiden ke-8 Singapura pada Rabu (13/9) siang waktu setempat. Halimah menjabat sebagai Presiden Singapura setelah empat kandidat lainnya dinyatakan tidak memenuhi syarat. Pemungutan suara yang rencanakan akan digelar 23 September mendatang terpaksa dibatalkan.


Halimah akhirnya terpilih sebagai Presiden Singapura tanpa pemungutan suara. Tapi bukan sekali ini saja pilpres Singapura berlangsung walkover . Pilpres 1999 dan 2005 juga pernah dimenangkan mantan Duta Besar Singapura untuk Amerika Serikat, SR Nathan, tanpa kontes.


Anak paling bungsu dari lima bersaudara itu kini mencetak sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi Presiden Singapura. Perempuan berusia 63 ini menjadi orang Melayu kedua yang menjadi presiden setelah Yusof Ishak yang merupakan presiden pertama Singapura dari 1965–1970.

Saat ini, populasi Singapura terdiri atas 74 persen komunitas Tiongkok, 13 persen komunitas Melayu, 9 persen komunitas India, dan 3,2 persen komunitas lainnya.


Halimah lahir di Queen Street, Singapura, pada 23 Agustus 1954. Ayahnya yang seorang muslim keturunan India dan bekerja sebagai penjaga keamanan, meninggal dunia saat Halimah masih berusia 8 tahun. Dia dibesarkan oleh ibundanya, Maimun Abdullah, wanita keturunan Melayu yang saat itu bekerja di kedai makanan milik kerabatnya. Ibunda Halimah saat itu berjualan nasi padang.


Halimah, yang masih sekolah, mengaku kerap membolos demi membantu ibundanya berjualan. Dia mencuci piring, membersihkan meja, dan melayani pembeli. Karena terlalu sering membolos untuk membantu ibundanya, Halimah sempat akan dikeluarkan dari sekolahnya di Singapore Chinese Girls’ School.


Halimah menceritakan bagaimana momen dia hampir dikeluarkan itu sebagai masa terburuk dalam hidupnya. “Memang masa SMP dan SMA ini sangatlah sulit. Uang sekolah sering tertunggak karena keterbatasan ekonomi. Saya harus mengerjakan tugas sambilan dengan membantu ibunya berjualan,” kata Halimah.


Halimah berhasil melewati masa sulit itu, dan puncaknya masuk ke Fakultas Hukum Universitas Singapura (sekarang National University of Singapore) yang sangat bergengsi. Kecerdasannya membuat Halimah dianugerahi beasiswa dari Islamic Religious Council of Singapore.

Ibu dari lima anak ini menyelesaikan perkuliahannya di tahun 1978. Dia kemudian bergabung dengan National Trades Union Congress (NTUC) atau organisasi perburuhan Singapura.


Halimah menyatakan dia akan menjadi presiden untuk semua orang. “Meskipun ini adalah pilpres khusus, saya bukan presiden khusus. Saya presiden untuk semua orang,” ucap Halimah.


Meski telah secara resmi terpilih menjadi Presiden Singapura yang baru, Halimah ingin tetap hidup sederhana. Halimah mengatakan akan tetap tinggal di rumah susunnya, di Yishun, yang selama lebih dari 30 tahun menjadi tempat tinggalnya.

“Saya akan tetap tinggal di Yishun. Area ini tempat yang sangat nyaman dan saya sudah tinggal di sini selama bertahun-tahun,” kata Halimah. Rtr/P-4ANTARA

View Comments

Benny
Kamis 14/9/2017 | 10:51
Semoga bisa jadi pemimpin amanah ya ibu.

Aamiin.

Submit a Comment