Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments
Harga Pangan - Masalah Utama, Posisi Tawar Petani Rendah

Harga Beras RI Relatif Mahal, Petani Tak Nikmati Untung

Harga Beras RI Relatif Mahal, Petani Tak Nikmati Untung

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Disparitas harga di pasar dan di tingkat petani bisa mencapai hampir 100 persen. Tata niaga perberasan yang panjang dan kurang efisien itu picu harga beras mahal.

 

JAKARTA - Sejumlah kalangan mengemukakan harga beras di Indonesia dinilai relatif lebih mahal dari harga di sejumlah negara lain.

Akan tetapi, petani nasional tidak menikmati banyak keuntungan dari tingginya harga beras tersebut. Sebab, sebagian besar marjin keuntungan dalam tata niaga beras di dalam negeri justru dinikmati oleh pedagang.


Data Organisasi Pangan dan Pertanian atau Food and Agriculture Organization (FAO) menyebutkan harga beras Indonesia lebih tinggi dibandingkan harga beras internasional.

Pada 2016, harga beras dalam negeri berada di level satu dollar AS per kilogram (kg), sementara harga beras internasional hanya sekitar 0,4 dollar AS per kg. Harga itu mengacu pada harga eceran rata-rata nasional di Indonesia.


Guru Besar Teknologi Pertanian UGM, Masyhuri, mengemukakan relatif mahalnya harga beras di Tanah Air sebenarnya paralel dengan lini produksi rakyat lainnya yang kalah bersaing dengan negara-negara tetangga.

Pasalnya, petani dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dibiarkan jalan sendiri, tidak ada struktur kuat yang menopang mereka.


“Petani kecil paling susah karena tantangan paling besar sementara harga jual yang katanya mahal itu keuntungannya juga tidak sampai ke mereka,” ungkap Masyhuri saat dihubungi, Senin (19/6).


Menurut dia, dari sisi produksi, lahan petani nasional rata-rata hanya 0,5 hektare sehingga sulit untuk efisien.

Dari proses penanaman, pupuk, panen, hingga penanganan pascapanen sangat tradisional sehingga ongkosnya tinggi.

Sementara harga jual di tingkat mereka sebenarnya juga masih rendah karena modal mereka kecil sehingga tidak punya kuasa tawar pada pasar. “Jadi memang posisi tawar petani rendah, itu masalah utamanya. Dibiarkan kecil terus dan sendirian,” tandas Masyhuri.


Hal itu, lanjut dia, berakibat pada terus turunnya kontribusi sektor pertanian pada produk domestik bruto (PDB). “Pada gilirannya, generasi petani juga terancam menyusut drastis.

Akibat yang bisa dibayangkan adalah negara ini akan makin jauh dari cita-cita swasembada pangan.”


Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan mahalnya harga beras Indonesia tidak hanya disebabkan mahalnya ongkos produksi padi petani dalam negeri, melainkan juga karena tingginya marjin dalam tata niaga beras.


“Mahalnya beras Indonesia juga karena disparitas harga yang tinggi dari produsen atau petani hingga ke konsumen. Marjin di tata niaga tinggi. Bahkan, disparitasnya ini bisa hampir 100 persen.

Harga beras yang kita beli di pasar harganya 11.000 rupiah/kg, di petani bisa hanya 6.000 rupiah/kg,” ucap Enny.


Sementara itu, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Syarkawi Rauf, mengemukakan beberapa kemungkinan penyebab harga beras dalam negeri jauh lebih mahal ketimbang beras negeri tetangga.


Pertama, ongkos produksi di negara lain yang lebih rendah atau rantai distribusi beras lokal yang terlalu panjang.

Kedua, semakin panjang rantai distribusi maka semakin mahal harga yang harus ditanggung oleh konsumen untuk membeli beras. Dengan kata lain, inefisiensi proses tersebut merugikan masyarakat secara luas.


Berdasarkan Data FAO, harga beras per Maret 2017 di Indonesia mencapai rata-rata 0,79 dollar AS atau setara 10.499 rupiah per kg.

Harga itu lebih mahal dibandingkan sejumlah negara di Asia Tenggara. Thailand, misalnya, beras dijual dengan harga 0,42 dollar AS per kg. Vietnam berkisar 0,31 dollar AS, Myanmar 0,28 dollar AS, dan Kamboja 0,42 dollar AS


Produktivitas Minim


Pengamat pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Nugroho, mengemukakan penyebab harga beras di Indonesia mahal, antara lain infrastruktur yang belum memadai dan minimnya produktivitas.


“Sekarang ini, kondisi di Indonesia kan baru mencoba mencapai produksi pangan yang mencukupi, sehingga praktis sebenarnya tidak ada kelebihan produksi. Harga turun kalau terjadi kelebihan produksi,” jelas dia.


Dari sisi produksi, Dwi tidak yakin Indonesia mampu memproduksi gabah kering giling 5,3 ton per hektare (ha), walaupun data tersebut resmi disampaikan pemerintah. Sementara itu, Vietnam terus merangkak naik mencapai sekarang 5 ton per ha.


Ia menjelaskan produksi pangan di Indonesia saat ini baru terkonsentrasi di Jawa. Padahal, luasnya hanya 6 persen dari total luasan di seluruh Indonesia. Namun, dari area yang kecil ini harus menyediakan 56 persen pangan. YK/SB/ers/WP

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment