Hilirisasi Industri Berpeluang Selamatkan Ekonomi RI | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 24 2020
No Comments
Antisipasi Krisis I Jangan Terlena Penguatan Rupiah, Tetap Dorong Substitusi Impor

Hilirisasi Industri Berpeluang Selamatkan Ekonomi RI

Hilirisasi Industri Berpeluang Selamatkan Ekonomi RI

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Pemerintah harus jamin kepastian hukum agar industri bisa tenang berbisnis.

>> Presiden optimistis hilirisasi hasil tambang bisa memacu penciptaan lapangan kerja.

JAKARTA – Sejumlah kalangan me­nilai pemerintah perlu melakukan lang­kah konkret untuk mendorong industri substitusi impor maupun orientasi eks­por dengan cara mewujudkan hilirisasi industri manufaktur.

Langkah tersebut berpeluang me­nyelamatkan ekonomi Indonesia karena akan mengurangi impor serta memacu ekspor, sehingga bisa membenahi masa­lah struktural ekonomi, yakni defisit nera­ca perdagangan dan defisit transaksi ber­jalan atau current account deficit (CAD).

Direktur Program Indef, Esther Sri Astuti, mengingatkan yang perlu diper­hatikan dari hilirisasi industri antara lain industri manufaktur Indonesia ha­rus menjadi bagian dari global value chain atau rantai nilai global.

Selain itu, lanjut dia, perlu diberikan insentif bagi pertumbuhan industri antara yang memproses bahan mentah men­jadi bahan setengah jadi. Misalnya nikel, maka pemerintah harus mendorong tum­buhnya industri smelter di Indonesia agar nikel bisa diolah sebelum diekspor.

Kalo langkah ini berhasil maka beri ruang untuk tumbuhnya industri yang memproses final product,” papar Esther, di Jakarta, Selasa (14/1).

Dia menambahkan infrastruktur dan sarana transportasi harus dibangun un­tuk menjamin kelancaran pasokan dan distribusi barang. Industri harus mem­peroleh sumber energi yang murah agar bisa menekan biaya produksi sehingga harga jual produknya kompetitif

Di samping itu, industri juga harus mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan pabriknya. Untuk itu, kurikulum per­guruan tinggi, seperti politeknik, mesti disesuaikan dengan karakteristik indus­tri. “Terakhir, kepastian hukum dan pemberantasan korupsi harus dijamin pemerintah agar industri bisa menjalan­kan usaha dengan tenang,” tukas Esther.

Terkait hilirisasi hasil tambang, Pre­siden Joko Widodo (Jokowi) mengajak pengusaha yang tergabung dalam Indo­nesia Mining Association (IMA) untuk hilirisasi komoditas tambang, guna me­ningkatkan ekspor dan membuat neraca perdagangan surplus.

Presiden mendorong pengusaha hi­lirisasi hasil tambang mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi. Alhasil, nilai ekspornya lebih tinggi. “Dengan begitu, negara kita memiliki nilai tam­bah dan dampak berganda (multiplier effect),” kata Jokowi, beberapa waktu lalu.

Selain meningkatkan ekspor, Jokowi optimistis hilirisasi hasil tambang bisa memacu penciptaan lapangan kerja serta berpeluang mendorong neraca per­dagangan surplus dan mengurangi CAD.

Berdasarkan perhitungannya, hiliri­sasi nikel bisa mengatasi persoalan de­fisit transaksi berjalan kurang dari tiga tahun. “Ini belum berbicara masalah timah, batu bara, copper. Banyak se­kali yang bisa dilakukan dari sana,” kata Jokowi.

Menurut Presiden, hilirisasi hasil tam­bang bakal memuluskan rencana peme­rintah untuk mendorong pengembangan mobil listrik. Sebab, hilirisasi copper dan nikel dapat menghasilkan bahan baku baterai lithium pada mobil listrik.

“Kalau bahan dan barangnya ada, kenapa diekspor?” kata Jokowi. Kepala Negara menjelaskan perusahaan bisa menggandeng korporasi lain yang me­miliki teknologi untuk hilirisasi hasil tambang.

Jangan Terlena

Ekonom Universitas Atma Jaya Yog­yakarta, Aloysius Gunadi Brata, me­ngemukakan investasi di sektor ma­nufaktur substitusi impor dan hilirasi tambang harus segera diperkuat sebab tanda-tanda membaiknya ekonomi du­nia justru makin suram. Tidak ada jalan lain, kecuali pemerintah membuka ke­mudahan bagi investasi di kedua sek­tor tersebut agar ekonomi dalam negeri terselamatkan.

“Kita butuh bertahan tumbuh di atas 5 persen. Perdagangan global tidak bisa diandalkan maka kurangi impor mela­lui industri subtsitusinya dan tambang harus sebesar-besarnya diolah di da­lam negeri untuk menopang industri turunannya,” papar dia.

Dia mengingatkan agar dunia usaha tidak terlena dengan penguatan kurs ru­piah terhadap dollar AS belakangan ini karena hal itu tidak mencerminkan kon­disi riil kekuatan ekonomi Indonesia.

“Jangan terlena rupiah menguat saat ini, dan jangan terlena dengan masih bergeraknya sektor riil saat ini. Semua harus disiapkan antisipasinya yakni in­vestasi substitusi impor dan hilirisasi tambang,” jelas Gunadi. YK/SB/ers/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment