Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments
Kasus Dana Hibah

Imam Nahrawi Pamit

Imam Nahrawi Pamit

Foto : ANTARA/RENO ESNIR
SALAM PERPISAHAN I Menpora Imam Nahrawi menyapa wartawan saat menghadiri acara perpisahan dengan pejabat Kemenpora di Jakarta, Kamis (19/9).
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Presiden Joko Widodo akan segera memper­timbangkan posisi Menteri Pemuda Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, usai ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pertimbangan yang dimak­sud yakni mengganti posisi Imam dengan orang baru atau hanya menunjuk pelaksana tugas (Plt) Menpora.

“Tentu saja akan kita segera pertimbangkan apakah se­gera diganti dengan yang baru atau memakai Plt. Tadi, di­sampaikan saya surat pengunduran diri dari Pak Menpora Imam Nahrawi. Kita pertimbangkan dalam sehari,” kata Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/9).

Presiden lalu mengingatkan kepada jajarannya, ke de­pan agar selalu berhati-hati menggunakan anggaran nega­ra. “Semuanya hati-hati menggunakan anggaran, gunakan APBN karena semuanya diperiksa kepatuhannya perun­dang-undanganan oleh BPK. Kalau ada penyelewengan, itu urusannya dengan aparat penegak hukum,” jelas Presiden.

Saat disinggung terkait penetapan tersangka Imam, Pre­siden menyerahkan semuanya kepada proses hukum yang berlaku. Presiden pun mengaku menghormati keputusan dari lembaga antirasuah tersebut. “Tadi pagi Pak Imam Nahrawi bertemu dengan saya dan saya menghormati apa yang sudah diputuskan oleh KPK bahwa Pak Imam su­dah menjadi tersangka karena urusan dana hibah dengan KONI,” tutup Presiden.

Sementara itu, usai mengajukan diri mundur sebagai Menpora, Imam Nahrawi kemudian berpamitan kepada seluruh pegawai di Kemenpora. “Sejak sore hari ini, saya mohon pamit dari Kemenpora,” kata Imam di kantor Ke­menpora, Jalan Gerbang Pemuda, Jakarta, Kamis.

“Saya sudah menyelesaikan tugas di sini dan setelah ini saya menghadapi tugas baru dan mohon doanya semoga tugas baru ini bisa saya laksanakan dengan kuat, dengan sepenuh hati,” imbuh Imam.

Diketahui, KPK menetapkan Menpora Imam Nahrawi dan asisten pribadinya, Miftahul Ulum, sebagai tersangka dugaan suap penyaluran pembiayaan dengan skema ban­tuan pemerintah (hibah) melalui Kemenpora kepada Ko­mite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tahun Anggaran 2018 dan dugaan penerimaan lainnya. Imam diduga mene­rima suap dengan total 26,5 miliar rupiah.

Diminta Kooperatif

Sementara itu, Wakil Ketua KPK, Laode Muhamad Syar­if, meminta Imam Nahrawi kooperatif dalam memenuhi panggilan penyidik sebagai tersangka. “Kami sangat meng­hargai beliau (Imam), mudah-mudahan dalam pemanggi­lan berikutnya dia datang (pemeriksaan),” kata Laode.

Di samping itu, Laode mengklarifikasi ucapan Imam yang mengaku tidak menerima undangan pemanggilan dirinya. Padahal, kata Laode, pada proses penyelidikan yang dilakukan sejak 25 Juni 2019 lalu, KPK telah memang­gil Imam sebanyak tiga kali, namun Imam tidak mengha­diri permintaan keterangan tersebut. fdl/ola/AR-2

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment