Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments
JENAK

Indonesia Bangga: Asian Games 2018

Indonesia Bangga: Asian Games 2018
A   A   A   Pengaturan Font

Tepat hari ini, Sabtu, 18.08. 2018 upacara pesta olahraga se-Asia, Asian Games 2018, dimulai. Jakarta juga Palembang menjadi sorotan dunia. Indonesia menjadi tuan rumah pesta akbar yang akan berlangsung hingga 2 September.

Selama itu, setiap menit, setiap saat, akan ada berita, siapa memecahkan rekor apa, siapa memenangkan lawan siapa, dengan segala pernik dan pekik kegembiraan, disertai drama yang layak simak. Ibarat kata, Indonesia berbangga dengan terselenggaranya pesta yang diadakan empat tahun sekali. Kita, semestinya merasakan getaran dahsyat ini.

Sungguh sayang, kalau tidak larut dalam kemegahan, keberhasilan, yang membanggakan. Kita sedang membuat ulang sejarah, dan akan mecatatnya kemudian. Seperti ketika pertama kali menjadi tuan rumah pada penyelenggaraan ke-4. Indonesia yang belum mempunyai stadion utama, belum ada kampung atlet –sebagian baru mendengar istilah ini, dianggap masih kelewat miskin—termasuk sebagai penyelenggara.

Namun Asian Games 1962 sukses. Bukan hanya prestasi di lapangan hijau, melainkan itulah terwujudnya JalanThamrin, Jalan Gatot Subroto, Kampung Senayan, Jembatan Semanggi dan prasarana lainnya. Pertama kali pula ada siaran TVRI—masih hitam putih dan siarannya terputus-putus, hanya untuk beberapa saat.

Tapi itulah yang berlangsung meriah, dan selebihnya adalah sejarah. Sejarah pertama kalinya olahraga bulu tangkis dipertandingkan secara resmi. Adalah Bung Karno yang mengkomandoi langsung segala kegiatan, dengan segala improvisasi dan optimisme yang menggelorakan rakyat. Asiad, Asia Olimpiade, penamaan sebelum menjadi Asian Games, adalah pentas untuk ditonton, dianalisis, direnung, dengan segala persoalan yang menemani.

Kita masih merasakan betapa untuk ini, kita juga mengurusi prasarana lain, termasuk kali bau, termasuk jalan untuk pejalan kaki, termasuk… dan sejenisnya yang tidak terkait langsung dengan prestasi olahraga. Semua harus, dan hanya diselesaikan dengan baik, apik, dan menarik. Pesta olahraga tidak hanya sekadar bertarung di lapangan, dengan angka, atau soraksorai.

Jauh lebih luas dari itu, adalah pameran kemampuan mengorganisir, bagian-bagian yang akan diomongkan. Pembukaan panggung seberat 600 ton, panjang 135 meter, dengan langit-langit tertinggi dari yang pernah ada. Ini semua untuk mewadahi tontonan pada seniman, kreator dengan kerja sama yang utuh.

Dibutuhkan konsep besar, latihan panjang untuk membuat sinkronini semua. Kemegahan, juga kebanggan. Keberhasilan, juga kebanggaan. Prestasi, juga kebanggaan. Karena dari satu titik di satu tempat, semua direncanakan, semua dikontrol. Dan hasilnya bukan hanya untuk hari ini. Bahwa muncul nama-nama besar, pahlawan yang tak terduga sebelumnya, itulah dinamika yang patut dicermati.

Karena dasar utama perlombaan ini adalah sportivitas. Sikap sportif. Tak ada nilai-nilai lain, bahkan nilai identitas sekalipun yang bisa membuat kabur, rancau atau kecurangan. Sportivitas dan transparansi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kita merasakan getaran kebanggaan ini, setelah sekian lama menyatu dalam keinginan menjadi penyelenggara yang baik.

Ya, seharusnya begitulah – juga ketika menyelenggarakan kegiatan bersama dalam negeri, tanpa menjadikan diri buruk, karena mencari kemenangan sendiri, dengan mengorbankan dan mengakali pihak lain. Kita merasakan bangga, dulu, dan juga kini.

Karena semua hasil dari Asian Games ini untuk bangsa, untuk negara, untuk menjadikan kita bangga, danjuga terhormat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Selamat berbangga bersama Asian Games 2018.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment