Koran Jakarta | November 20 2019
No Comments

Internet, Pintu Teroris Sebarkan Paham

Internet, Pintu Teroris Sebarkan Paham
A   A   A   Pengaturan Font

Judul      : Teroris Gak Punya Cinta
Penulis   : M Sabilul Alif
Penerbit : Global Press
Cetakan  : November 2018
Tebal      : 140 halaman
ISBN       : 978–602- 565-320-9

Insiden penusukan terhadap Menko Polhukam, Wiranto, serta dua korban luka lainnya, gamblang untuk dikategorikan sebagai aksi terorisme. Aparat telah mengidentifikasi dua pelakunya. Mereka bagian dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Pelaku sudah terdeteksi sejak mukim di Kediri, Jawa Timur.


Peristiwa berdarah itu menguatkan analisis buku ini. Aksi terorisme yang harus diantisipasi yang kategori lone wolf, yang dilakukan secara individual. Pelaku melancarkan aksinya tanpa dukungan secara langsung organisasi teroris. Pelaku bekerja sendirian untuk menjalankan aksi, tanpa komando langsung. Mereka terafiliasi secara ideologis, minimal bersimpati.


Penusuk Wiranto terdeteksi anggota JAD. Tetapi aksi yang dijalankan bersifat reaktif individual, menyusul ditangkapnya ketua JAD Bekasi beberapa hari lalu. Buku ini mengutip Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, di Indonesia aksi terorisme lone wolf muncul sejak 2014. Target mereka mulai “naik kelas”, tidak lagi sekadar polisi, tetapi pejabat sekelas menteri.


Buku yang ditulis Kapolres Kota Tangerang ini menjadi penting dan relevan sebagai pisau analisis pencegahan terorisme. Kemunculan lone wolf sebagai konsekuensi logis perkembangan teknologi informasi. Orang bisa melakukan aksi terorisme karena terpapar paham teroris yang disemai melalui jejaring internet melalui website atau media sosial.
Perkembangan teknologi informasi memungkinkan penyebaran ideologi terorisme merasuk di mana saja, sehingga lone wolf makin meluas. Tanpa disadari, orang dekat diam-diam bersimpati pada ISIS. Pada titik tertentu timbul keberanian untuk melakukan aksi terorisme. Sebelum insiden penusukan Wiranto, Pos Polisi Sukoharjo diserang bom bunuh diri. Polisi Polsek Wonokromo Surabaya diserang menggunakan celurit.


Buku ini merangkum sejumlah peristiwa mutakhir aksi terorisme. Data diulas untuk menggambarkan pola dan motif terorisme. Dari sejumlah data dan peristiwa terorisme sepanjang tahun 2018, motifnya dominan dipengaruhi faktor ideologi yang disemai ISIS.
Buku ini melihat beberapa faktor pemicu aksi terorisme, seperti ideologi, ekonomi, frustrasi, dan ketidakpuasaan atas perilaku negara-negara barat. Faktor ideologi paling dominan (hlm 25).


Terkait potensi terorisme dan kelompok usia milenial terlihat, target persemaian ideologi terorisme dari segi usia mulai beragam, tidak hanya dewasa. Para milenial mulai banyak terpapar.
Sosok Dita Siska Mellenia (18) dan Siska Nur Azizah (21) dalam insiden Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jabar, sebagai bukti. Keduanya datang ke Mako Brimob untuk membantu narapidana teroris. Mereka ingin ISIS eksis di seluruh dunia.


Terorisme tidak melulu diperankan kaum Adam. Di Indonesia, ada tren peningkatan keterlibatan perempuan dalam sejumlah aksi terorisme. Beberapa tahun terakhir dilakukan satu keluarga yang melibatkan istri. Keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme harus menjadi perhatian khusus. Peran perempuan bervariasi, bisa sebagai pelaku, simpatisan, penyokong kebutuhan, serta memberi perlindungan. Bahkan ada yang bertugas sebagai agen penyebar ideologi (hlm 51).


Dari buku ini, pembaca bisa menemukan simpulan, penanggulangan terorisme membutuhkan skema yang koheren. Penting memperhatikan perkembangan teknologi. Siapa saja dan di mana saja bisa terpapar paham terorisme. Ideologi radikal menjadi rahim terorisme. ISIS itu nyata di sekitar kita. Mereka tak punya cinta pada orang lain.
Diresensi Fathor Rahman MD, Lulusan Sunan Kalijaga

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment