Investasi Berorientasi Ekspor Mesti Jadi Motor Pertumbuhan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Strategi Pembangunan I Perbesar Peran Swasta untuk Mendorong Pertumbuhan Berkualitas

Investasi Berorientasi Ekspor Mesti Jadi Motor Pertumbuhan

Investasi Berorientasi Ekspor Mesti Jadi Motor Pertumbuhan

Foto : Sumber: BKPM – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

>> Harus ada kebijakan yang fokus pada pembatasan impor demi pertumbuhan ekonomi.

>> Pola pertumbuhan yang didominasi konsumsi rumah tangga tidak akan membuat ekonomi tumbuh cepat.

JAKARTA – Kebijakan pemerintah untuk menjadikan sektor investasi seba­gai motor utama dalam menunjang pen­capaian target pertumbuhan ekonomi hingga 2024 mesti dibarengi dengan kegiatan ekonomi berorientasi ekspor. Untuk itu, pengembangan industri da­lam negeri harus menghasilkan produk berdaya saing tinggi agar bisa diterima di pasar global.

Ekonom Institute for Development of Ecomonics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira, mengatakan untuk menjadi­kan investasi sebagai mesin pertumbuh­an tinggi adalah memperbesar peran swasta di dalam pembangunan. “Peme­rataan ke swasta diperbesar dan tenaga kerja di daerah lebih banyak di libatkan untuk mendorong pertumbuhan yang berkualitas,” katanya saat dihubungi, Kamis (19/9).

Bhima menambahkan, selain dengan memperbesar peran swasta dalam pem­bangunan infrastruktur, pemerintah juga mesti bisa membatasi impor. “Ha­rus juga ada kebijakan yang fokus pada pembatasan impor. Kebijakan pemba­tasan impor barang konsumsi ini bisa melalui kebijakan tarif dan nontarif. Se­bab, semakin kecil nilai impor, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro me­nyatakan bahwa pemerintah akan menja­dikan sektor investasi sebagai motor uta­ma dalam menunjang pencapaian target pertumbuhan ekonomi hingga 2024.

Ia menuturkan sebenarnya ada dua komponen yang akan menjadi priori­tas utama dalam membantu menaikkan ekonomi Indonesia yaitu investasi dan ekspor, namun kondisi eksternal yang tidak kondusif membuat tingkat kontri­busi ekspor tidak akan maksimal.

“Ketika bicara ekspor kita harus meli­hat kondisi eksternal yang sedang tidak kondusif karena masih melemah kondi­si global. Berarti kuncinya pada inves­tasi,” katanya dalam acara penyusunan rancangan awal rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 di Jakarta, Kamis.

Selain itu, Bambang mengatakan pertumbuhan ekonomi hingga kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen menunjukkan ada kontribusi antara investasi dan kon­sumsi rumah tangga yang sama-sama berada di level sekitar 5 persen. Namun, pemerintah tidak bisa hanya mengan­dalkan konsumsi rumah tangga sebagai penunjang ekonomi sebab konsumsi rumah tangga tersebut hanya bisa mem­buat ekonomi stabil tapi tidak bisa men­jadikannya tumbuh cepat.

“Kalau kita lihat pola pertumbuhan ekonomi didominasi oleh konsumsi ru­mah tangga dan itu tidak akan membuat tumbuh cepat, hanya tumbuh stabil,” ujar Bambang.

Konsumsi Besar

Pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya, Munawar Ismail, mengata­kan konsumsi rumah tangga memang besar, namun tidak dapat diandalkan untuk mendorong pertumbuhan karena sifatnya sendiri yang statis. Bila peme­rintah ingin mencapai pertumbuhan di atas capaian yang sekarang, harus me­wujudkan ekonomi orientasi ekspor.

“Penggerak ekonomi di mana-mana memang konsumsi rumah tangga, tapi kalau mengandalkan ini tidak akan tinggi, karena karakter konsumsi rumah tangga tidak pernah melonjak, naik tapi pelan. Setiap orang hanya makan tiga kali sehari, tidak mungkin besok naik jadi empat, dan lusanya lima kali. Kon­sekuensinya pertumbuhan ada tapi lam­bat,” kata Munawar.

Menurutnya, kalau ingin pertum­buhan tinggi harus mencari cara yang lebih strategis, yakni investasi swasta dan yang paling cepat lagi adalah eks­por. “Kita harus meniru Tiongkok, ta­hun 80-an masih tertutup, tapi sekarang ekspornya sudah melampaui Korea Se­latan, Taiwan, dan Singapura, karena pemerintahnya menerapkan kebijakan berorientasi ekspor,” pungkasnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Indef, Ahmad Tauhid, mengingatkan perlu­nya ekspansi fiskal pada pembangunan infrastruktur yang menjadi stimulus investasi, seperti ekspansi di kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, dan sebagainya.

“Sekarang yang bisa didorong adalah industri yang berbahan baku nikel di Su­lawesi, kemudian industri batu bara un­tuk kebutuhan energi dalam negeri, ter­masuk pengembalian lagi industri besi dan baja kita,” jelas Tauhid. YK/SB/uyo/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment