Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments
Persatuan Bangsa - Sejumlah Tokoh Memberikan Pernyataan Bersama

Jangan Provokasi Papua Pisah

Jangan Provokasi Papua Pisah

Foto : 3ANTARA/Reno Esnir
TOKOH BANGSA - Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD (keempat kanan) bersama para tokoh bangsa Frans Magnis Suseno (kiri), Alwi Shihab (kedua kiri), Alissa Wahid (ketiga kiri), Simon Morin (keempat kiri), Sinta Nuriyah Wahid (tengah), Beny Susetyo (ketiga kanan), Quraish Shihab (kedua kanan) dan Acmad Suaedy (kanan) berfoto bersama usai menyampaikan pernyataan terkait kerusuhan di Papua di Jakarta, Jumat (23/8).
A   A   A   Pengaturan Font
Situasi keamanan di Papua dan Papua Barat yang sempat panas karena aksi demonstrasi menentang sikap diskriminatif, jangan jadi dalih untuk provokasi memisahkan Papua.

JAKARTA AKARTA AKARTAAKARTA – Ketua Umum Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD, menyatakan bahwa kalau masalah diskriminatif dan rasisme terhadap masyarakat Papua harus diselesaikan dengan kepala dingin. Oleh karena itu, Mahfud berharap tidak ada pihak-pihak yang memprovokasi agar Papua berpisah dari Indonesia.

“Tidak ada jalan untuk itu. Secara konstitusi tidak ada referendum untuk satu daerah. Ada segi psikologis dan sosiologis yang perlu dibenahi kedepan. Mari kita berdamai dulu tenangkan situasi,” ujarnya saat Konferensi Pers di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Jumat, (23/8).

Diketahui, Mahfud MD atas nama Gerakan Suluh Kebangsaan menggelar konferensi pers bersama sejumlah tokoh bangsa untuk menyikapi perkembangan di Papua. Adapun sejumlah tokoh yang hadir diantaranya, istri Abdurahman Wahid atau Gusdur, Shinta Nuriyah Wahid, putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid, cendikiawan muslim, Quraish Shihab, budayawan, Frans Magnis Suseno, serta tokoh papua sekaligus mantan menteri Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia, Manuel Kaissepo.

Mahfud menjelaskan, secara konstitusi yang sekarang memiliki perbedaan makna soal referendum, yang tidak 3bisa dilakukan hanya oleh suatu daerah. Bahkan, menurut Mahfud, hal tersebut sudah diatur oleh Konvesi PBB, di mana suatu negara yang mempunyai kedaulatan yang sah atas wilayah tertentu harus mempertahankan suatu daerah dengan berbagai cara, khususnya menggunakan pendekatan sosial, ekonomi, serta budaya.

“Oleh sebab itu, kita tetap menyerukan pemerintah dan seluruh Indonesia, bahwa Papua dan seluruh rakyatnya, dan seluruh budayanya, dan seluruh bahasa lokalnya yang begitu banyak itu adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” serunya.

Kemudian, Istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, menyebutkan bahwa warga Papua adalah saudara sebangsa dan setanah air. Sebab, ia tidak pernah memandang perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun tampilan fisik. Sinta pun menyesalkan tindakan rasisme yang dialami mahasiswa Papua di Jawa Timur.

 

Martabat Sama

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gerakan Suluh Kebangsaan, Alissa Wahid, mengatakan bahwa semua orang harus dipandang memiliki martabat yang sama dan kedudukan setara sebagai bangsa Indonesia. Selain keharusan menciptakan etika sosial kesetaraan dan kesederajatan tersebut, lanjut dia, yang tidak kalah pentingnya adalah penegakan hukum bagi pelaku rasisme tersebut.

“Kita semua juga harus menyadari dan waspada kemungkinan situasi seperti itu dimanfaatkan oleh orang-orang atau sekelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu untuk keuntungan dirinya dan kelompoknya yang pada gilirannya akan merusak persatuan dan kesatuan NKR I,” tambah dia.

Menurut putri sulung mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu, kepercayaan di antara semua komponen bangsa harus terus-menerus ditingkatkan agar tidak terjadi saling curiga. Dikatakan Alissa, masyarakat Indonesia perlu saling mengenal dan saling peduli terhadap situasi batin dan karakter satu sama lain secara baik dan mendalam.

“Pergaulan dan pendidikan kita perlu dikembangkan secara intensif agar memberikan pengenalan dan kesadaran akan kesederajatan bagi semua orang dan semua komponen bangsa,” ujarnya. 

 

tri/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment