Kapan Pingsan Bisa Jadi Tanda Bahaya? | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments

Kapan Pingsan Bisa Jadi Tanda Bahaya?

Kapan Pingsan Bisa Jadi Tanda Bahaya?

Foto : Antara/Pixabay
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Jangan sepelekan pingsan, karena kondisi itu bisa menjadi pertanda terjadi hal buruk di tubuh Anda, salah satunya gangguan irama jantung (aritmia) yang bisa berujung kematian mendadak.

Menurut dokter spesialis jantung dari RS MMC Jakarta, dr Dicky Armein Hanafy, pingsan berulang disertai keluhan jantung berdebar-debar adalah satu ciri yang perlu Anda waspadai. "Pingsan terkadang tidak berbahaya. Tetapi walau hanya sekali, tetapi kalau ada riwayat berdebar sebelumnya, harus segera diperiksakan," kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/1).

Pada dasarnya, pingsan terjadi saat otak kekurangan oksigen apapun penyebabnya. Selain keluhan jantung berdebar, kondisi ini bisa menjadi pertanda bahaya (misalnya aritmia) jika disertai faktor riwayat keluarga mati mendadak.

"Kalau hanya pingsan tidak ada keluhan sebelumnya umumnya bisa saja enggak ada apa-apa. Tetapi ada riwayat di keluarga mati mendadak, nah itu harus segera diperiksakan. Jangan-jangan gejala awal mati mendadak juga," ujar Dicky.

Aritmia merupakan penyakit sistem listrik jantung. Adanya gangguan pada pembentukan atau penjalaran impuls listrik menyebabkan irama jantung tidak berdenyut secara ritmik, bisa terlalu cepat atau terlalu lambat. Normalnya, jantung berdenyut sebanyak 50-90 kali per menit. Denyut jantung disebut berdetak terlalu cepat saat mencapai 200 kali per menit. Sementara denyut jantung dikatakan melambat ketika mencapai 40 kali per menit.

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis jantung dari RS MMC Jakarta, dr Sunu Budhi Raharjo menuturkan bahwa sebelum pingsan, pasien aritmia biasanya terlebih dulu mengalami pusing atau kleyengan akibat pompa jantung tidak optimal. Jika hal ini terjadi, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter terutama spesialis aritmia, khususnya jika Anda sudah berusia di atas 30 tahun untuk mendapat penanganan.

Aritmia yang tak tertangani dengan baik, bisa menyebabkan kerusakan otak permanen hingga kematian mendadak penderitanya. Ant/ils

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment