Koran Jakarta | June 24 2017
No Comments
Kasus Penyiraman Novel

Kapolri Akan Kirim Tim ke Singapura

Kapolri Akan Kirim Tim ke Singapura

Foto : KORAN JAKARTA/Muhaimin A Untung
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA — Kepala Kepolisian RI, Jenderal Tito Karnavian, segera mengirim tim ke Singapura untuk mengklarifikasi pernyataan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di media asing.

“Kami tanggapi ini tidak over-reactive. Kami akan berusaha kirim tim secepat mungkin untuk menanyakan pada Novel, apakah itu fakta yang ada bukti atau isu kecurigaan,” kata Tito di Gedung KPK, Jakarta, Senin (19/6).


Dalam sebuah wawancara dengan media asing, Novel mengaku curiga ada pihak kepolisian yang terlibat dalam kasus penyerangan terhadap dirinya beberapa waktu lalu itu.

Tito mengatakan siap memproses secara hukum jika benar ada keterlibatan pihak kepolisian dalam peristiwa penyiraman air keras ke wajah Novel.


“Tapi, kalau hanya isu, saya selaku pemimpin Polri menyayangkan. Karena berakibat buruk pada image institusi kepolisian dan menimbulkan situasi kurang baik antar-institusi Polri dan KPK,” ujar Tito.


Menurut Tito, upayanya mengirim tim ke Singapura dan menemui Novel bertujuan agar isu tersebut bisa segera diklarifikasi.

Namun, dia belum memastikan kapan akan memberangkatkan timnya karena pemeriksaan bergantung pada kesiapan Novel dan KPK. Ia berharap Ketua KPK, Agus Rahardjo, bisa mendampingi tim menemui Novel.


”Kami akan selalu berkoordinasi dengan Bapak Ketua KPK kalau Novel sudah siap di sana dari segi kesehatan. Kalau didampingi Pak Ketua, KPK lebih bagus,” tuturnya.


Melihat Langsung


Pada kesempatan itu, Tito juga mengaku telah menemukan saksi kunci yang melihat langsung peristiwa penyiraman air keras terhadap Novel. Saksi tersebut diduga tahu tipologi pelaku seperti postur tubuh atau ciri fisik lainnya.


“Tapi kami tidak bisa sampaikan siapa ya,” kata Tito.


Saat ini, saksi tersebut diberikan pengamanan polisi di rumahnya. Tito mengatakan tak heran saksi tersebut baru muncul sekarang setelah kejadian telah lewat dua bulan lalu. Ada kemungkinan saksi merasa takut dan terancam.


“Saya sering tangani kasus yang berhubungan dengan kekerasan, mereka takut muncul. Takut nanti jadi target juga,” kata Tito.


Apalagi, kasus Novel termasuk upaya meneror dan mengancam keselamatan. Jika saksi dari pihak keluarga, mungkin bisa lebih kooperatif karena ada keterikatan relasi.

Namun, jika dari pihak luar, kemungkinan mereka enggan bersentuhan dengan kasus yang bisa mempertaruhkan keselamatannya.


“Apalagi pikirnya bukan urusan saya, buat apa saya ambil risiko. Tapi, tim tak hentinya datang dari warga ke warga, akhirnya ketemu saksi-saksi,” kata Tito.


Dalam pertemuan 2,5 jam dengan pimpinan KPK itu, Tito juga membahas soal kemungkinan KPK bergabung dalam tim investigasi Polri. Ketua KPK, Agus Raharjo, mengatakan tawaran tersebut diajukan langsung oleh Tito.


“Dalam rapat ditawarkan kalau KPK mau gabung untuk mempercepat, memperkuat penyidikan,” ujar Agus.


Namun, kata Agus, KPK tidak bisa masuk ke dalam tim tersebut. Itu karena kasus Novel masuk ke ranah pidana umum, sementara KPK lembaga yang menangani korupsi. “Tapi, kami secara internal akan evaluasi, back up apa yang bisa kami berikan,” kata Agus. mza/P-4

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment