Koran Jakarta | December 11 2017
No Comments
Ideologi Negara

Kehidupan Berpancasila Mulai Luntur

Kehidupan Berpancasila Mulai Luntur

Foto : Koran Jakarta / eko sugiarto putro
Nilai-nilai Pancasila - Warga berfoto di depan hasil karya seniman mural, di dinding Stadion Kridosono Yogyakarta, Minggu (18/6). Sekitar 50 seniman Yogyakarta menyampaikan pesan akan pentingnya kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
A   A   A   Pengaturan Font

YOGYAKARTA – Sekitar lima puluh seniman rupa Yogyakarta menumpahkan kegelisahan dan pesan terkait kehidupan berpancasila yang mulai luntur. Kegelisahan mereka lakukan dalam aksi Ngabuburit Mural Pancasila, di dinding Stadion Kridosono Yogyakarta selama dua hari hingga Minggu (18/6) malam.

“Pesan dalam mural di dinding Kridosono ini lebih bertahan lama daripada kita hanya berkata-kata di media. Gambar punya kekuatan dahsyat untuk menggerakkan publik. Kita lihat, warga sudah banyak yang selfie. Artinya, dari karya seni di dinding ini, pesan menyebar ke seluruh Indonesia bahkan dunia,” kata Koordinator Gerakan Rakyat Pancasila, Widihasto Wasana Putra, di Yogyakarta, kemarin.

Gerakan Rakyat Pancasila yang menginisiasi Ngabuburit Mural Pancasila sebelumnya, yakni pada 1 Juni lalu juga menyelenggarakan Peringatan Hari Lahir Pancasila yang berhasil menghimpun ribuan warga Yogyakarta, di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Widihasto menekankan seperti halnya Gerakan Rakyat Pancasila pada 1 Juni lalu, gerakan ini mengutamakan keterlibatan penuh warga dari sisi pembiayaan sampai para pelakunya adalah warga. Ruh dari Pancasila adalah gotong royong sehingga kampanye Pancasila haruslah selalu bergerak dengan metode gotong royong.

“Jadi, Pancasila akan bisa kembali menjadi pandangan hidup bersama kalau ini menjadi gerakan dari bawah. Benar-benar warga sangat peduli terhadap nasib Pancasila. Buktinya, Gerakan Rakyat Pancasila ini yang benar-benar dari dan oleh warga,” paparnya.

Seluruh cat untuk acara tersebut, sebagaimana nasi bungkus untuk berbuka puasa saat peringatan Hari Lahir Pancasila, merupakan sumbangan warga, baik dari toko cat, principal cat, maupun para perupa sendiri. Saat ini, warga sudah bisa melihat tumpahan karya seni di dinding stadion legendaris Yogyakarta itu yang berupa simbol Garuda Pancasila hingga kata-kata bernuansa pentingnya Pancasila bagi hidup berbangsa.

Pancasila Dilupakan

Wakil Ketua DPD, GKR Hemas, mengatakan persoalan-persoalan kebangsaan di Indonesia terus terjadi karena Pancasila justru seperti dilupakan sejak gerakan reformasi melengserkan Soeharto. Nilai-nilai luhur Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum di negeri ini, tidak teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Munculnya persoalan kebangsaan ini disinyalir karena Pancasila ditinggalkan,” terang Hemas di hadapan ratusan pengurus Karang Taruna kabupaten/kota se-DIY dalam acara sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, di Kraton Kilen Yogyakarta.

GKR Hemas mengatakan sejak era reformasi 1998, Pancasila tidak lagi menjadi pembahasan serius, mulai dari masyarakat bawah sampai elite politik. Mulailah muncul ancaman-ancaman disintegrasi bangsa, terutama dari daerah-daerah yang memiliki potensi sumber daya alam melimpah, namun tidak puas dengan distribusi ekonominya. Lepasnya Timor-Timur dari pangkuan Ibu Pertiwi, juga karena Pancasila tidak mendapat tempat di hati masyarakatnya. YK/N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment