Kemendikbud Akan Benahi PAUD | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments
Pendidikan Nasional I Indonesia Mesti Belajar dari Prancis

Kemendikbud Akan Benahi PAUD

Kemendikbud Akan Benahi PAUD

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pendidikan anak usia dini mestinya tidak berfokus pada calistung, tetapi lebih kepada bermain, bersosialisasi, dan komunikasi dengan yang lain.

 

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudaya­an (Kemendikbud) menjalin kerja sama dengan pemerintah Prancis untuk membenahi sektor pendidikan. Sejumlah sektor yang mendapat fokus pembenahan yakni pra-SD atau pendidikan anak usia dini (PAUD), vokasi teknologi, dan kebahasaan.

Sekretaris Jenderal Ke­mendikbud, Didik Suhardi, mengatakan khusus untuk pendidikan PAUD memiliki beberapa tantangan. Salah sa­tunya adalah kekeliruan para­digma orang tua yang meng­inginkan anaknya harus bisa baca, tulis, dan menghitung atau calistung.

“Ini jadi persoalan di kita karena mestinya anak-anak ini (PAUD) usia untuk bermain, bersosialisasi, dan komunikasi dengan yang lain tanpa ada ke­wajiban-kewajiban yang mem­beratkan mereka. Ini juga akan dibahas dalam kerja sama kita dengan Prancis,” ujar Didik da­lam acara Joint Working Group (JWG) bersama pemerintah Prancis, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Didik menyatakan bahwa pihaknya sudah membuat standar pelayanan minimal un­tuk para siswa PAUD. Kendati demikian, pembenahan harus terus dilakukan dan salah satu­nya adalah lewat kerja sama de­ngan pemerintah Prancis itu.

Ia menambahkan, hingga saat ini, Indonesia memiliki 240 ribu lembaga PAUD de­ngan jumlah siswa sekitar 7,5 juta. Didik berkeinginan jumlah yang besar harus diikuti dengan kualitas pendidikan yang ideal.

“Pendidikan PAUD me­rupakan bidang yang besar. Kita juga harus belajar ke Prancis. PAUD di kita lebih ba­nyak calistung, padahal harus­nya mengajarkan komunikasi, sosialisasi sehingga siswa terbiasa dengan berkomunikasi dengan lingkungan dan se­cara psikologis pembelajaran­nya sesuai dengan psikologis anak,” ungkapnya.

Didik menekankan pro­ses pengelolaan pendidikan prasekolah juga perlu komitmen dari pemerintah daerah. Komit­men tersebut untuk menyeleng­garakan standar pendidikan yang dalam hal ini terkait sarana prasarana, kualitas guru, dan proses belajar mengajar.

Fokus Vokasi

Sementara itu, Direktur Hu­bungan dan Kerja Sama Eropa dan Internasional (DREIC), Ke­menterian Pendidikan Nasional Prancis, Hervé Tilly, mengata­kan pihaknya akan memberikan bantuan terutama dari segi vokasi atau sekolah kejuruan. Bantuan tersebut nantinya akan diwadahi dalam bentuk pusat pelatihan dan pengembangan vokasi di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) di Bandung.

Salah satu bentuk bantuan yang akan diberikan adalah pelatihan untuk guru dan pela­jar, juga memberikan program magang di Prancis, mengingat banyaknya perusahaan Prancis yang telah bekerja sama de­ngan Indonesia.

Ia mengatakan pemerintah Prancis memang tengah men­dorong pendidikan vokasi agar sejajar posisinya dengan pen­didikan formal. “Vokasi bukan sekolah yang dipilih karena gagal di SMA umum. Tetapi memang dipilih oleh siswa karena suka dan berminat dan berkeinginan untuk memilih vokasi sebagai jurusan yang unggul,” jelasnya.

Ia menilai pendidikan vokasi tidak hanya menjawab kebutuhan industri, tapi juga sebagai wahana untuk menga­mankan karakter remaja. “Le­wat pendidikan vokasi, para siswa akan mendapat bekal ke­pintaran dan kelincahan seh­ingga mereka bisa menghadapi tantangan,” tandasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordi­nator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Ke­menko PMK), Agus Sartono mengungkapkan setiap tahun jumlah lulusan SMA/SMK le­bih dari 3,5 juta. Dari jumlah itu, yang bisa ditampung di per­guruan tinggi hanya sekitar 1,8 juta. Sisanya 1,6-1,7 juta masuk ke pasar tenaga kerja. ruf/E-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment