Kepedulian Yesus Cerminan Hati Allah | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 24 2020
No Comments
PERADA

Kepedulian Yesus Cerminan Hati Allah

Kepedulian Yesus Cerminan Hati Allah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Empat kitab pertama dalam Perjanjian Baru disebut “Injil” karena bermakna kabar baik tentang kisah dari pribadi terbesar yang pernah hidup. Ia menceritakan kepada umat manusia bahwa Firman yaitu Yesus telah menjadi manusia dan diam di antara mereka untuk menanggung duka cita, kesedihan, dan mengampuni pelanggaran manusia.

Yang terpenting, manusia dapat melihat di dalam Injil kisah nyata tentang Yesus saat menjalankan misi-Nya untuk mengungkapkan Allah Bapa kepada mereka. “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa. Dialah yang menyatakan-Nya,” (Yohanes 1:14).

Yesus datang untuk melakukan bagi manusia yang paling mereka butuhkan. Dia datang untuk menjelaskan Bapa yang tampak jauh dan tidak terjangkau. Dia datang untuk menunjukkan Sang Bapa yang kasih-Nya bagi dunia hanya bisa dipuaskan dengan menyerahkan Putra-Nya sebagai pembayaran atas dosa-dosa dan keburukan manusia. Dialah Allah yang menyatakan kembaran diri-Nya sendiri dalam hati setiap manusia. Namun, siapa pun tidak bisa bersekutu dengan-Nya, tanpa pengorbanan Putra-Nya.

Yesus telah mendeklarasikan isi hati Bapa dengan cara menunjukkan hati itu. Itulah misi yang diungkapkan dalam Injil bahwa barang siapa telah melihat-Nya, telah melihat Bapa. Saat mengamati Yesus berinteraksi dengan orang-orang yang terluka dan menderita pada zaman-Nya, kita melihat bahwa Dia bukan sekadar meredakan penderitaan dan pergumulan laki-laki dan perempuan yang bergelut dalam kehidupan yang terlalu berat untuk mereka tanggung sendiri. Yang tidak kalah penting, kita melihat dalam setiap kasus ada sesuatu tentang Diri Bapa yang dinyatakan Yesus.

Orang bukan hanya mengagumi karya Yesus sebagai Allah dan manusia sejati, tetapi juga belajar tentang hati Bapa yang diungkapkan Kristus dalam interaksi-Nya dengan setiap orang yang memerlukan pertolongan. “Kepedulian Yesus kepada manusia menderita adalah cerminan hati Allah Bapa. Itu benar-benar kabar baik,” (hlm 13).

Buku menjelaskan, pada zaman Yesus, bangsa Israel mempunyai kelompok masyarakat dijauhi karena mengidap kusta. Di Israel abad pertama, penderita kusta dianggap perwujudan dari segala sesuatu yang buruk dalam diri manusia. Mereka menjadi kaum terbuang.

Kusta menghalangi penderitanya memasuki Bait Allah karena dianggap tidak suci secara ritual agama. Ada 61 bentuk pencemaran ritual agama yang terdaftar dalam hukum Yahudi, termasuk kusta termasuk. Menyentuh mayat hanya dinilai lebih najis dari menyentuh orang kusta. Maklumlah, kusta diyakini sebagai hukuman langsung dari Allah. Penyakit ini menggerogoti tubuh. Pengucilan masyarakat meruntuhkan harga diri penderita kusta.

Saat itu, mereka hanya memiliki sejumput iman bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penderitaan mereka. Orang-orang memberi jalan selebar-lebarnya bagi si kusta untuk datang kepada Sang Penyembuh. Yesus menunjukkan belas kasihan. Dengan satu sentuhan dan beberapa kata, Dia menyembuhkan jiwa raga si penderita (hlm 239).

Selain penderitaan karena kusta, banyak orang tersisih dan menderita, tetapi mengalami kasih Yesus secara nyata. Kitab-kitab Injil menyajikan kisah demi kisah tentang sentuhan Yesus atas jiwa-jiwa yang sangat membutuhkan pertolongan. Mereka seakan tak ada harapan lagi. Dia hadir memberikan harapan pemulihan dan pengampunan para penderita.

Kisah dalam buku ini mengantarkan pembaca berjumpa dengan Tuhan yang penuh belas kasih. Buku akan membuat mata pembaca melihat kasih Sang Juruselamat sekaligus menyadarkan, manusia memerlukan Dia. Teladan belas kasih-Nya yang sempurna menguatkan setiap individu untuk sanggup juga menguatkan sesama. 

 


Diresensi Salman Alfarisi, alumni Unair

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment