Komunitas One Day Traveling | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 26 2020
No Comments

Komunitas One Day Traveling

Komunitas One Day Traveling

Foto : DOK. INDEPENDENT SCHOOL
A   A   A   Pengaturan Font

Bisakah wisata ke luar kota hanya dalam satu hari? Ternyata itu bisa dilakukan. Hal tersebut dibuktikan oleh Komunitas One Day Traveling atau komunitas wisata satu hari.

Komunitas tersebut berbasis di Jakarta. Para anggota komunitas kerap melakukan perjalanan wisata bersama-sama ke luar kota Jakarta. “Kami jalan-jalan ke daerah yang maksimal bisa ditempuh dari Jakarta selama lima jam. Jadi bisa pulang pergi dalam satu hari,” ungkap Ragadipa, pendiri Komunitas One Day Traveling.

Bermula dari kesukaan melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata. Setelah menikmati perjalanan dengan waktu tanpa batas, maka dengan kondisi pekerjaan yang hanya menyisakan waktu libur akhir pekan, timbul kesukaan tetap berwisata meski hanya satu hari. Apalagi ketika mengantar istri bertugas ke Yogya dan Medan pada 2009 yang semuanya dilakukan dalam satu hari.

Terbang dengan pesawat paling pagi dan pulang dengan penerbangan terakhir. “Selama menunggu istri yang tengah bertugas, saya habiskan waktu untuk jalan ke beberapa lokasi wisata di kota tersebut, termasuk menikmati makanan khas yang ada di resto atau warung terkenal di sana,” ungkap Raga.

Hal ini sempat terjadi beberapa kali, sehingga semakin membuka wawasannya bahwa ada waktu sehari yang bisa dimanfaatkan bagi mereka yang memang tidak punya waktu luang yang panjang dan suka berwisata, atau mereka yang ingin menjadi pendahulu bagi rombongan wisata yang akan dipandu kemudian.

“Setelah kejadian ini, lalu saya bersama istri dan anak merencanakan perjalanan satu hari. Sasaran pertama yang dicari adalah kota-kota yang bisa ditempuh di bawah lima jam perjalanan, baik dengan kereta api atau bus. Perjalanan dengan pesawat terbang atau kendaraan pribadi memang kami hindari dulu”, jelasnya.

“Tapi kami bukan backpacker,” ungkap Raga di posko komunitas ini yang berlokasi di Mampang Prapatan X, Jakarta Selatan. Pada bulan Juli 2010, kota pertama yang jadi sasaran perjalanan adalah Bandung, lalu Garut, Sukabumi dan Cirebon.

Semua dilakukan dengan menggunakan jasa angkutan umum. Sebelumnya penanggung jawab perjalanan sudah menentukan lokasi wisata dan tempat makan yang akan dituju.

Begitu juga dengan jalur kendaraan umum yang melewati tempat wisata di kota yang dituju. Jalur Garut juga ditempuh dengan memanfaatkan angkutan umum. Lokasi wisata yang dicapai memang tidak maksimal.

“Ini karena di Garut angkutan umumnya agak tersendat, dan kami belum menemukan teman ojek wisata,” kata Raga.

Lalu pada saat perjalanan ke Cirebon, di sana bertemu dengan komunitas ojek wisata. Dengan kendaraan roda dua ini, lokasi wisata yang dituju bisa maksimal, sehingga dalam sehari mendapat berbagai hal menyenangkan. Dari pengalaman tersebut, maka kini di setiap kota, One Day Traveling memiliki kontak dengan ojek wisata setempat.

“Kalaupun belum ada, biasanya kami kontak teman yang kerja di travel dan kami minta untuk menyediakan ojek motor wisata,” jelas Raga.

Dia memberi contoh saat melakukan perjalanan wisata ke Cirebon. Di sana Raga bertemu dengan Venggar, seorang pengusaha travel. Venggar sebenarnya mengelola Pelesir Wisata yang biasa menerima wisatawan untuk jalan-jalan di Cirebon.

Dia sempat kaget saat diminta untuk menyiapkan ojek. Tapi setelah rombongan wisata datang, semuanya jadi jelas. Venggar segera tanggap dengan daftar perjalanan yang diberikan.

Dia katakan bahwa yang membawa motor bersamanya bukan tukang ojek pangkalan, tapi teman-temannya, ada guru, pemandu wisata dan pekerja lainnya. Mereka begitu senang saat menjelaskan tentang jalan-jalan yang dilewati pada penumpangnya. Dengan motor juga semua tempat destinasi wisata bisa dicapai.

“Di awal saya diminta menyiapkan tiga motor, sambil belajar dan melihat peluang,”kata Venggar. Permintaan meningkat, komunitas tersebut pernah membawa 10 orang peserta. Maka Venggar menyiapkan 10 motor ojek wisata.

Kumpulan Komunitas Peserta wisata satu hari ini tidak lagi hanya dari kalangan keluarga, dari teman-teman kerja dan yang tertarik dengan komunitas ini ikut bergabung.

Bahkan belakangan komunitas ini menjadi pengelola untuk perjalanan beberapa komunitas lain. “Jadi kalau ada grup atau komunitas yang mau jalan-jalan satu hari, mereka minta kita yang buatkan jalur perjalanannya dan sampai lokasi wisatanya,” jelas Raga.

Lokasi pemberangkatan dalam satu perjalanan adalah terminal bus atau stasiun kereta api. Kota-kota yang dicapai memang masih di seputaran Jawa Barat. Beberapa komunitas yang sempat jalan bareng dengan One Day Traveling diantaranya ada Kopassos 2977, Gragas Wisata, Himpunan Anak Media, Jalan Jalan Mampang, Vakansi dan Teman Kantor.

Umumnya peserta One DayTraveling tidak mempermasalahkan angkutan yang digunakan. “Bagi kami yang penting adalah bisa sampai di kota tujuan sepagi mungkin, lalu bisa mendapatkan angkutan untuk pulang yang paling akhir.

Jadi kalau dengan kereta api, bisa dengan tiket eksekutif pulang pergi atau berangkat bisnis pulang eksekutif dan sebaliknya,”kata Raga yang juga menyukai olahraga Muaythai.

Tidak ada ikatan formal di komunitas ini. Bagi yang suka dan punya waktu sehari lalu ingin mencoba greget wisata dari sebuah kota, maka dipersilahkan untuk bergabung di One DayTraveling.

Sehari Kulineran ke Cianjur

Ini salah satu perjalanan One Day Traveling untuk wisata kulineran ke Cianjur. Perjalanan untuk menikmati berbagai kuliner itu dimulai dari Jakarta terus melewati Pasar Cipanas dan Istana Presiden.

Saat memasuki wilayah Cianjur, di kawasan Cangklek dan Panembong terdapat dua RM “Mang Nana”, warung nasi Sunda dengan konsep rumahan yang sangat kental. Babat Goreng, sambal terasi dan aneka lalapan Sunda yang tergolong unik bisa dinikmati di sini.

Kalau bukan orang Sunda , mungkin akan merasa asing dengan daun bunut, gandaria, tespong, keresmen dan sejenisnya. Menjelang Tugu Adipura yang menjadi pintu masuk wilayah kota Cianjur, di sebelah kanan jalan ada Kedai Batagor yang menawarkan Batagor, Batagor kuah, Es Cianjur dan aneka jus buah segar. Bersebelahan dengan batagor, ada juga “Mie Ayam Katineung” yang menawarkan menu unggulan Mie Ayam Baso. Dari bundaran Tugu Adipura, melaju ke arah selatan (Sukabumi) bisa menemui dua cabang RM” Sunda Rasa” di Jalan Abdullah Bin Nuh dan Jalan Raya Cianjur-Sukabumi (Pasar Warung Kondang). Menu unggulannya adalah olahan kulit sapi yang dimasak dengan bumbu minimal tapi menghasilkan rasa lezat.

Menu pilihannya adalah paket kulit campur, kikil, lidah, limpa, babat, tulang telinga yang dipadu dengan sambal tomat mentah. Tapi jika yang dicari adalah aneka jajanan pasar, yang lengkap adalah “Toko Shanghai” tepat di persimpangan Jalan Siti Jenab dan Jalan Mangun Sarkoro.

Di toko ini bisa menikmati aneka kue basah seperti Kue Mangkuk, Kue Celorot, Kue Talam Ubi, Kue Talam Suji, Kue Lapis, Bika Ambon Suji, Nagasari, Lemper, dan juga Bacang semacam buras berisi irisan daging sapi berbumbu kecap yang dibungkus daun Hanjuang.

Melanjutkan perjalanan menurun melewati Jalan K.H. Hasyim Ashari (Warujajar) sebelum persimpangan Jalan Arif Rahman Hakim, di sisi kanan jalan akan menemukan spanduk ” Sate Maranggi Warujajar” yang terbilang legendaris di Cianjur.

Pemiliknya adalah generasi kedua dengan konsep cukup sederhana namun paduan bumbunya benar-benar meresap. Pengolahannya dengan cara perendaman yang memadai menjadikan serat daging sapi berwarna kemerahan dengan aroma karamel berpadu dengan aroma ketumbar dan lengkuas. Pengunjung selalu memenuhi tempat ini, jadi harus sabar untuk antri.

Jika perjalanan diwarnai dengan hujan gerimis di wilayah Cianjur, maka jajanan paling sesuai adalah Bubur Ayam Cianjur. Bubur Ayam Cianjur yang paling ramai pengunjungnya adalah “Bubur Ayam Sampurna” di mulut Pasar Bojong Meron Jalan Mangun Sarkoro, Jalan Raya Cianjur.

Pada era tahun 70-an , bubur ayam ini mangkal di depan Toko Sampurna. Kuliner lain yang terkenal di Cianjur adalah Geco, ini terdiri dari irisan ketupat, rebusan tauge, mie sagu, dengan siraman bumbu tauco yang pekat dengan irisan daun bawang , bawang putih dan kecap. Geco paling lama yang ada Cianjur adalah “Geco Nusasari” di pertigaan jalan Siti Jenab dan Jalan Siliwangi.

Begitu akan balik ke Jakarta, coba ikuti jalur sepanjang Jalan Dr. Muwardi di mana terdapat beragam toko oleh-oleh yang menjual Beras Cianjur, Kue Moci, Bandrek Cianjur, Keripik Belut, serta manisan Cianjur. Di jalan HOS Cokroaminoto, ada Toko Manisan “Mulia Sari” (dahulu Ny. Tan) yang terkenal sejak dulu. Manisan yang banyak disukai adalah manisan mangga muda, manisan salak , dan manisan pala. ars/R-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment