Korpri Tunggu Konsep dan Simulasi Penyederhanaan Birokrasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Korpri, Zudan Arif Fakrulloh, Terkait Penyederhanaan Birokrasi

Korpri Tunggu Konsep dan Simulasi Penyederhanaan Birokrasi

Korpri Tunggu Konsep dan Simulasi Penyederhanaan Birokrasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah sudah mengebut untuk menyederhanakan struktur birokrasi hanya dua level saja. Penyederhanaan birokrasi cukup dua level ini merupakan perintah langsung Presiden Joko Widodo yang diucapkan saat berpidato usai dilantik jadi Presiden untuk kedua kalinya di Gedung MPR, beberapa waktu lalu.

 

Untuk mengupas itu lebih lanjut, Koran Jakarta berkesempatan untuk me­wawancarai Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Korps Pegawai Republik Indonesia (Kor­pri), Zudan Arif Fakrulloh, di Jakarta. Berikut petikan wawancaranya.

Kemenpan sebagai leading sector-nya sudah mulai melaku­kan penyederhanaan birokrasi. Tanggapan Anda?

Kami tentunya ingin melihat seberapa dalam kajian yang dilaku­kan oleh pemerintah khususnya Menpan, apakah ada jaminan dengan pemotongan eselon ini apa yang diharapkan Pak Jokowi itu akan bisa terwujud dengan baik atau kita memiliki pandangan yang lain, misalnya untuk mempercepat layanan di dalam mempercepat pelayanan publik di bidang investa­si, perizinan dan layanan yang lain itu apakah pemangkasan eselon itu satu-satunya solusi, atau kan kita bisa menggunakan pendeka­tan teknologi, misalnya dengan pelayanan elektronik dengan tanda tangan digital yang mana itu akan memangkas waktu dan akan memudahkan orang bekerja.

Bagaimana dengan pemang­kasan eselon?

Kami dari Korpri khususnya ingin betul-betul pemangkasan eselon itu kajiannya betul-betul men­dalam. Sehingga nanti tidak ada lagi misalnya seolah-olah dibentuk eselon baru, koordinator-koordi­nator karena kalau kajian itu nanti dibutuhkan itu begini, siapa yang akan mengerjakan pekerjaan-pe­kerjaam yang selama ini dikerjakan eselon III dan eselon IV? Kita akan menggeser apakah kepada para pejabat fungsional sebab pejabat fungsional memiliki fungsi tersend­iri dalam kerangka fungsionalnya itu. Berbeda dengan tanggung jawab tupoksi dalam kerangka struktural.

Jadi bagaimana?

Nah oleh karena itu yang harus dilakukan kajian secara mendalam sehingga bisa dilahirkan dalam satu keyakinan dan satu kepastian dengan pemangkasan eselon kualitas layanan publik, kualitas perizinan, kualitas semuanya akan berjalan lebih baik dan harus dipastikan tidak ada pekerjaan yang tidak selalu ada pejabat atau ada orang yang mengerjakan. Ini yang perlu dipikirkan, sehingga tidak ada lagi kelambatan-kelambatan akibat tidak ada orang yang mengerjakan pekerjaan itu.

Dengan adanya pengalihan ke jabatan fungsional, para ASN itu lebih senang atau bagaimana?

Jadi gini kalau peralihan jabatan fungsional ini dilakukan secara konsisten itu para PNS senang banget. Senangnya kenapa? Karena menjadi pejabat fungsional peng­hasilannya sama dengan pejabat struktural, padahal tanggung jawabnya jauh lebih berat pejabat struktural, karena di pejabat fung­sional tidak ada kewajiban untuk tata kelola anggaran. Jadi, mereka akan senang sekali, suka cita.

Jadi, idealnya pejabat fung­sional tidak boleh diberi tugas tambahan jabatan struktural?

Tidak boleh terjadi, kalau fung­sional ya fungsional, kalau struktural ya struktural, kecuali kita akan mix lagi, pejabat fungsional diberi beban tugas tambahan sebagai pejabat struktural, misalnya sebagai koordi­nator pejabat fungsional, ini strukru­ral lagi, ada tugas tambahan, ini kita lihat. Maka kami ini kalau dari Kor­pri sangat ingin melihat simulasinya seperti apa, kita ingin segera melihat ada satu contoh Kementerian atau kabupaten atau kota, jangan banyak-banyak, satu, dua dulu.

Contohnya, lima semster kede­pan seperti apa, kalau dari teman-teman saya para PNS dan Ketua Umum Korpri menyambut baik bila betul-betul murni menjadi pejabat fungsional dengan penghasilan tetap sebagaimana pejabat struk­tural, itu senang bangetagus supriyatna/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment