KPK Geledah Apartemen Tersangka Harun Masiku | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 24 2020
No Comments
Kasus Suap PAW

KPK Geledah Apartemen Tersangka Harun Masiku

KPK Geledah Apartemen Tersangka Harun Masiku

Foto : ANTARA/M RISYAL HIDAYAT
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Ko­rupsi (KPK) menggeledah apartemen tersangka kader PDI Perjuangan, Harun Ma­siku (HAR), yang berlokasi di Apartemen Thamrin Resi­dences, Jakarta Pusat, Selasa (14/1). Penggeledahan ini merupakan bagian dari pe­nyidikan dalam kasus dugaan suap terkait proses pergantian antar waktu (PAW) anggota DPR RI terpilih dari Fraksi PDIP periode 2019–2024 yang turut menjerat komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Wahyu Setiawan.

“Kami belum bisa menyampaikan hasil apa yang didapatkan di peng­geledahan, info semen­tara dari teman-teman (penyidik KPK) yang masih di lapangan didapatkan beberapa do­kumen yang s i g n i f i kan antara lain juga un­tuk men­cari ke­beradaan dari ter­sangka Pak HAR,” kata Pelak­sana Tugas (Plt) Juru Bicara (Jubir) KPK, Ali Fikri di Ja­karta, Selasa (14/1).

Berdasarkan informasi dari Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Ha­run telah melarikan diri ke Singapura sejak Senin ( 6/1) dan belum kembali ke In­donesia hingga saat ini. Ha­run gagal ditangkap oleh KPK pada operasi tangkap tangan pada 8 Januari 2020. Ali mengatakan KPK telah berkoor­dinasi dengan pihak Imi­grasi untuk melakukan pencegahan ke luar negeri terhadap Harun. Surat koordinasi tersebut, kata Ali, sudah diberikan ke Imigrasi pada Senin (13/1).

“Jadi bukan pencekalan ka­lau pencekalan itu orang ma­suk dari luar masuk kembali, itu kan tidak bisa sehingga dilakukan pencegahan untuk memonitor keluar-masuknya lalu lintas orang,” katanya.

Dalam kasus ini, selain Wahyu, KPK turut mene­tapkan tiga orang sebagai tersangka, yaitu Harun Ma­siku, mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fride­lina (ATF), dan pihak swasta, Saeful (SAE), pada Kamis (9/1) lalu.

Wahyu diduga meminta dana operasional 900 juta rupiah untuk membantu Ha­run menjadi anggota DPR RI dapil Sumatera Selatan I menggantikan caleg DPR terpilih dari Fraksi PDI-P dapil Sumatera Selatan I, Nazarudin Kiemas, yang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, Wahyu hanya menerima 600 juta rupiah. ola/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment