Koran Jakarta | June 24 2018
No Comments

Kualitas Pendidikan di Lamongan Terus Ditingkatkan

Kualitas Pendidikan di Lamongan Terus Ditingkatkan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

 

 Lamongan yang terle­tak di sebelah barat Surabaya merupakan salah satu daerah yang masuk dalam kawasan metro­politan di Jawa Timur (Jatim), Gresik–Bangkalan–Mojokerto– Surabaya–Sidoarjo–Lamongan (Gerbangkertosusila). Secara umum, Kabupaten Lamongan merupakan daerah agraris yang sebagian besar pendu­duknya bergerak di sektor pertanian.

Jumlah penduduk Kabu­paten Lamongan pada tahun 2008 mencapai 1.439.886 jiwa. Berdasarkan data per­kembangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) La­mongan, struktur perekono­mian daerah itu masih belum banyak mengalami perubah­an. Masih ditopang utamanya oleh sektor primer, khususnya pertanian.

Dengan visi “Terwujud­nya Masyarakat Lamongan yang Sejahtera, Berkeadilan, Beretika, dan Berdaya Sa­ing”, Pemkab terus berupaya meningkatkan kualitas hidup dan daya saing masyarakat dengan menekan kemiskinan. Kemiskinan di Lamongan dari tahun 2011–2015 turun, dari angka 206.675 turun men­jadi 178.470. Salah satu faktor penyebab kemiskinan adalah pendidikan. Untuk itu, Pem­kab menggenjot sektor pendi­dikan melalui beberapa cara.

Untuk mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan jajaran Pemkab Lamongan dalam upaya meningkat­kan prestasi pendidikan di wilayah tersebut, wartawan Koran Jakarta, Selocahyo, berkesempatan mewawanca­rai Bupati Lamongan, Fadeli, di Lamongan, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Kenapa Anda memilih meningkatkan sektor pendi­dikan untuk mengentaskan kemiskinan di Lamongan?

Kami yakin bahwa pen­didikan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan keluar dari kesulitan ekonomi. Kami berupaya membawa generasi muda Lamongan agar semakin berkarakter, berkua­litas, dan punya daya saing.

Bisa dijelaskan kondisi pendidikan di Lamongan se­karang ini?

Secara prestasi, anak-anak Lamongan cukup membang­gakan, mampu bersaing dari daerah lain, bahkan negara lain. Mulai sering masuk sepuluh be­sar ujian nasional (Unas), sam­pai siswa SMAN 2 Lamongan yang menang di International Young Inventors Project Olym­piad (IYIPO) di Georgia, pada 2016. Kami ajak terus semua pihak bergerak, dan terlibat memperluas dampak pendidik­an. Anak harus punya karakter agar dapat berprestasi.

Apa kendala untuk melaksanakan itu semua?

Seperti keba­nyakan dialami para orang tua, kemajuan teknologi sekarang membuat semuanya jadi mudah. Namun harus diakui juga gelombang informasi, terutama dari media elektronik dan internet, meng­hadapkan dunia pendidikan kita pada tantangan yang berat. Pengaruh televisi dan penggu­naan beragam gagdet berdam­pak pada efektivitas belajar.

Upaya apa yang dilakukan untuk mengatasinya?

Untuk menjadikan keluarga sakinah mawaddah warrah­mah, perlu dilakukan dengan 3B, berjamaah, belajar, dan berkomunikasi. Untuk itu, kami lakukan aksi nyata lewat instruksi Bupati Lamongan Nomor 2 Tahun 2016, kami memprakarsai program Ge­rakan 1821 yang pertama kali di Jatim.

Gerakan ini bertujuan mengajak para orang tua un­tuk berperan aktif menjalan­kan perannya dalam mendidik anak, dengan hadir mendam­pingi mereka. Karena menurut penelitian, intensitas komu­nikasi orang tua-anak, sangat berpengaruh pada kualitas tumbuh kembang anak.

Seperti apa bentuknya?

Gerakan 1821 adalah me­matikan semua gadget (gawai), apakah ponsel televisi, tablet, dan semacamnya, yang bisa mengganggu konsentrasi anak saat mengulang pelajaran di rumah, mulai pukul 18.00 sam­pai 21.00. Jadi, anak diarahkan orang tua mereka lebih fokus belajar, berinteraksi, dan ber­sosialisasi dengan keluarga.

Orang tua diharapkan mengajak anaknya bermain atau sekadar berbagi peng­alaman yang dialami hari itu. Awalnya memang tidak mudah karena kondisi tiap keluarga berbeda. Belum lagi untuk memisahkan anak yang sudah kecanduan bermain ponsel. Tapi gerakan ini terus kami galakkan.

Upaya sosialisasi?

Ada beberapa upaya, mulai lewat pertemuan dengan wali murid se-Lamongan, pe­masangan poster, dan dalam sejumlah kesempatan lain, seperti pelaksanaan SKJ Lamongan 1821 dan perkemahan pra­muka Gerakan 1821. Ada juga sosialisasi yang kami kemas dalam bentuk lomba agar menarik. Ada lom­ba pembuatan animasi 1821, paduan suara, dan lain-lain.

Hasilnya bagaimana?

Sangat terasa, anak jadi biasa berdiskusi dengan orang tuanya, kenakalan remaja juga turun.

Adakah dukungan dari pihak lain?

Kami bermitra dengan Usaid Prioritas, di mana salah satu programnya untuk se­kolah mitra adalah pendam­pingan budaya baca, sehingga ketemu (cocok) dengan 1821. Banyak sekolah yang sudah berhasil menerapkan budaya baca hasil pendampingan Usaid Prioritas. Kami juga mengalokasikan anggaran untuk menyuport budaya baca, untuk pembelian buku-buku bacaan, dan dukungan Ge­rakan 1821 lainnya.

Upaya lain?

Pengentasan kemiskinan menjadi salah satu priori­tas. Kemiskinan dan kualitas lingkungan tentu berpengaruh terhadap kondisi belajar anak di rumah. Tentu rumah yang sehat akan menunjang anak. Untuk itu, kami ingin semua rumah di Lamongan berklasifikasi sehat, lewat program plesterisasi.

Lantai rumah dari tanah bisa sangat berpengaruh bagi kondi­si kesehatan semua penghuni. Tahun lalu sudah ada 41 ribu rumah yang dibantu Pemkab, dan sisanya 21 ribu rumah akan dituntaskan tahun ini. n N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment