Lima Tersangka Jiwasraya Ditahan Kejaksaan Agung | Koran Jakarta
Koran Jakarta | January 24 2020
No Comments
Penegakan Hukum I Jiwasraya Banyak Melakukan Investasi Berisiko Tinggi

Lima Tersangka Jiwasraya Ditahan Kejaksaan Agung

Lima Tersangka Jiwasraya Ditahan Kejaksaan Agung

Foto : ANTARA/DHEMAS REVIYANTO
DITAHAN KEJAKSAAN AGUNG I Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, Hendrisman Rahim mengenakan rompi tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (14/1). Hendrisman Rahim ditahan terkait kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya.
A   A   A   Pengaturan Font
Penetapan tersangka dan penahanan atas pertimbangan penyidik Kejagung yang menangani kasus ditaksir merugikan dana nasabah Jiwasraya hingga 13 triliun rupiah.

 

JAKARTA – Lima petinggi kasus PT Asuransi Jiwasraya (Persero) yang telah ditetap­kan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung, kini status­nya menjadi tahanan. Kelima orang itu ditahan di tempat berbeda selama 20 hari ke depan.

“Prosesnya telah dilakukan penahanan lima orang tersang­ka sejak hari ini sampai 20 hari ke depan. Penahanan seperti diketahui juga kita pisah. Ru­tan Salemba cabang Kejagung, KPK Guntur dan Cipinang dan di Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jaksel,” kata Jampidsus Adi Toegarisma di Kejagung, Jakarta, Selasa (14/1).

Kelima orang tersebut adalah Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk, Heru Hi­dayat, Komisaris PT Hanson International Tbk, Benny Tjok­rosaputro, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Harry Pra­setyo, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Asuransi Jiwasraya Syahmirwan, dan mantan Direktur Utama Asuransi Jiwasraya, Hendris­man Rahim.

Disebutkan, tersangka Ben­ny Tjokro ditahan di Rutan KPK, Heru Hidayat di Rutan Salemba Cabang Kejagung, Hary Pra­setyo di Rutan Salemba Cabang Kejari Jaksel, Syahmirwan di Rutan Cipinang, dan Hendris­man Rahim di Rutan Guntur.

Adi mengatakan penetapan tersangka dan penahanan atas pertimbangan penyidik Keja­gung yang menangani kasus ditaksir merugikan dana na­sabah hingga 13 triliun rupiah tersebut.

“Proses berikutnya kami masih terus bekerja mengumpulkan alat bukti guna kesempurnaan berkas perkara dan setiap saat kami evaluasi perkembangan perkara,” ujar Adi.

Kejagung masih mera­hasiakan peran masing-masing para tersangka. Sebab, hal itu dinilai sudah masuk ke dalam materi penyidikan. “Kita masih tahap penyidikan, kami eng­gak mungkin jelaskan peran masing-masing. Itu kan masih st rategi k a m i . Ka l a u nan t i pada saat waktunya di mana tahapanya kita akan secara ter­buka sampaikan. Ini kan ma­sih penyidikan perkara yang bersangkutan masih berjalan secara keseluruhan,” kata dia.

Penyidik Kejaksaan Agung juga memeriksa tiga saksi ka­sus Jiwasraya, yaitu karyawan PT Asuransi Jiwasraya, Agus­tin Widhiastuti, Kepala Seksi Divisi Dana Pensiun Lembaga Keuangan PT Asuransi Jiwas­raya Anggoro Sri Setiaji, dan Kepala Bagian Pengembangan Dana PT Asuransi Jiwasraya Mohammad Rommy.

Pemeriksaan para saksi di­lakukan untuk memperkuat pembuktian. Penyidikan kasus ini terus dilakukan untuk men­cari dan mengumpulkan bukti agar dugaan terjadinya pe­nyalahgunaan investasi yang melibatkan 13 perusahaan tersingkap.

Sebelumnya, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin telah mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan kasus Jiwasraya dengan Nomor: PRINT-33/F.2/ Fd.2/12/ 2019 tertanggal 17 Desember 2019.

PT Asuransi Jiwasraya (Per­sero) telah banyak melaku­kan investasi pada aset-aset dengan risiko tinggi untuk mengejar keuntungan tinggi, di antaranya penempatan sa­ham sebanyak 22,4 persen se­nilai 5,7 triliun rupiah dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 5 persen dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik, sisanya 95 persen dana ditempatkan di saham yang berkinerja buruk.

Selain itu, penempatan rek­sa dana sebanyak 59,1 persen senilai 14,9 triliun rupiah dari aset finansial. Dari jumlah tersebut, 2 persennya dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja baik, sementara 98 persen dikelola oleh manajer investasi dengan kinerja bu­ruk. Akibatnya, PT Asuransi Jiwasraya hingga Agustus 2019 menanggung potensi kerugian negara sebesar 13,7 triliun rupiah. Ant/ola/AR-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment