Koran Jakarta | July 16 2018
No Comments

Masa Depan Pemuda di Bidang Pertanian

Masa Depan Pemuda di Bidang Pertanian
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pemuda dan Pertanian Berkelanjutan

Penulis : Vanda Ningrum & Amorisa Wiratri

Penerbit : Pustaka Sinar Harapan

Cetakan : 2017

Tebal : xvi + 202 halaman

ISBN : 978-979-416-990-2

Buku ini membahas pertanian, lahan, pasar, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pertanian keluarga skala kecil. Buku ini berusaha menggambarkan kondisi pemuda dan pertanian secara umum, secara khusus di Jawa. Sektor pertanian tidak lagi begitu menarik minat para pemuda. Karya ini lahir berdasarkan tim peneliti yang menelusuri desa-desa pertanian padi Jawa selama tiga tahun.

Survei dilakukan di tiga desa pertanian padi Surakarta, Jawa Tengah, tahun 2015 dan 2016. Penelitian menyoroti peran pemuda yang tidak sepenuhnya hilang dalam menunjang sektor pertanian, meskipun minat terhadap dunia pertanian amatlah kecil (hlm 4).

Koning (1997) memandang penting kajian lebih dalam dinamika perdesaan yang menyebabkan pemuda desa tidak tertarik pertanian. Dalam studi ini, pemuda didefinisikan sebagai penduduk berusia 15–35 tahun. Sebab, bicara diskursus pemuda dalam studi sosial sangatlah beragam.

ILO, misalnya, mendefinisikan pemuda sebagai penduduk berusia 15–24. UU No 40 Tahun 2009 mendefinisikan rentang pemuda berusia 16–30. Masyarakat perdesaan mendefinisikan pemuda secara berbeda. Mereka menyatakan kategori pemuda penduduk yang masih bersekolah dan belum menikah (hlm 5–8).

Survei menunjukkan hanya 3 persen anak tinggal bersama orangtua yang bekerja sebagai petani padi berminat melanjutkan bekerja sebagai petani. Tingkat pendidikan pemuda perdesaan yang semakin tinggi mendorong bermigrasi ke kota mencari pekerjaan formal maupun informal. Yang di desa pun memilih menjadi buruh pabrik daripada bertani (hlm13–14).

Kondisi ini tentu menghawatirkan masa depan pertanian skala rumah tangga. Apalagi ada pemberian kesempatan swasta besar multinasional membuka food estate ssebagaimana termaktub dalam PP No 18 Tahun 2010 mengenai Usaha Budi Daya Tanaman. Ini dapat memutus rantai generasi petani desa. Kelak tinggal generasi tua yang kurang produktif. Ini mengancam kedaulatan pangan. Apalagi Sensus Pertanian tahun 2013 menunjukkan, penduduk petani berumur 50–60 (hlm 15).

Data BPS (2016) menyatakan, ada 37,7 juta jiwa bekerja di sektor pertanian atau 31,9 persen dari total peduduk yang bekerja. Penyerapan tenaga kerja ini terkait dengan kontribusi pendapatan ekonomi, mencapai 31,1 miliar tahun 2015. Namun, para pemuda desa enggan memilih pertanian sebagai bidang pekerjaan karena keterbatasan kesempatan kerja. Ada juga ketidakpastian dan rendahnya penghasilan produksi pertanian (hlm 38). Selain itu, dalam kurun waktu satu dekade pemuda yang bekerja di sektor pertanian menurun karena lahan pertanian menyempit (hlm 62).

Tiga aktor utama pembangunan pertanian, khususnya padi adalah petani, pemerintah, dan swasta. Kunci untuk kesetaraan relasi ketiganya keinginan meningkatkan kesejahteraan dan membuka kreativitas petani. Pemerintah minta industri tidak hanya mementingkan keuntungan, namun juga keberlanjutan pertanian masa depan (hlm 69–98).

Ploeg (2008) mengemukakan fenomena depeasantisation, kondisi ruang kosong yang ditinggalkan petani desa. Ini terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Manning (1993) melihat dampak modernisasi Indonesia dengan berkembangnya sektor manufaktur menyebabkan beberapa daerah berkembang menjadi perkotaan dan menyebabkan urbanisasi (hlm 107).

Karang Taruna Manunggal Sleman, Serikat Petani Pasundan Garut, SD Pangudi Luhur Kalirejo Kulon Progo, Sekolah Pagesangan Gunung Kidul, dan Pesantren Ekologi Ath Thaariq Garut serius mengajak pemuda memperhatikan dunia pertanian. Ini upaya mengembalikan produk pertanian kepada petani (hlm 159).

Diresensi Anggi Afriansyah, Peneliti P2 Kependudukan LIPI

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment