Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Mata Najwa Mengkedip, dan…

Mata Najwa Mengkedip, dan…

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Mata Najwa yang dituan rumahi Najwa Shibab, akhir bulan ini berhenti tayang. Program temu bincang, talkshow, dari Metro TV ini mencapai episode ke 511 dari sudah 7 tahun mengudara.

Nana, nama akrab Najwa, mengarungi perjalanan jurnalistik yang mempesona, memberi inspiratif, serta melegenda sebagaimana ikon pembawa acara ikonik sejak Toeti Adhitama, dan Desi Anwar.

Tak banyak anchorwoman, atau broadcaster yang mampu terus menginspirasi, berani, dan masyarakat penonton mengikuti dengan cermat. Mata Najwa menjawab itu dengan lugas, walau dengan kata – kata puitis dan bersanjak, menukik ke pokok topik utama, dan merumuskan jawaban yang ada.

Ini semua akumulasi pengalaman yang penuh tekad dan rasa terlibat, sejak menjadi wartawati dan menangis dan berteriak ketika bertugas melaporkan bencana tsunami di Aceh—dan kelambatan.

Selama berlangsungnya acara, narsum yang ditampilkan adalah nomor satu pada saatnya, termasuk BJ Habibie, Megawati, atau Jokowi—semasa belum menjabat sebagai presiden.

Di sinilah Najwa mengukuhkan legitimasinya : mampu memposisikan dirinya setara dengan nara sumbernya. Saya merasakan karena pernah menjadi salah satu narsum. Saya sebelumnya menuliskan di awal peluncuran Mata Najwa , bersamaan dengan hut Metro, bisa menjadi alternatif yang ada.

Waktu itu saya mengritik narsum yang “tua-tua umurnya”, juga dekor, termasuk bagian bawah meja jangan dibiarkan terbuka. Dengan keunggulan, dengan kepopularan ini—dan memenangkan beberapa penghargaan utama di negeri ini, kenapa “mendadak” berhenti?

Banyak spekulasi, termasuk penampilan live dengan Novel Baswedan., yang belum diketahui siapa penyiram air keras ke wajahnya. Jawabannya bisa iya bisa tidak.

Yang jelas, dalam banyak hal kasus semacam ini bukan karena alasan tunggal. Sebagai perbanmdingan, urung siaran beberapa kali dari ILC di TV One, juga terbukti karena faktor tunggal.

Ada berbagai alasan, ada berbagai peristiwa , yang menumpuk , yang membuat Najwa mengambil keputusan final. Dengan segala risiko yang masuk dalam perhitungannya. Dan sejak awal Najwa sadar itu—ketika di awal-awal kariernya dipersoalkan kenapa tidak memakai jilbab.

Unsur lain adalah dunia pertelevisian— dibedakan dengan media cetak, putaran kerja sangat besar. Kita tahu tokoh di stasiun tv tertentu, pindah ke stasiun tv lain sangat besar, dan kadang juga berombongan.

Artinya kemungkinan itu juga bisa terjadi, meskipun untuk Najwa rasa-rasanya bukan itu. Artinya untuk nama-nama yang selama ini menyatu dengan stasiun tv, seperti Andy F. Noya sekali pun, bisa menjadi berbeda.

Yang agak merepotkan karena keberadaan Najwa bukan hanya sebagai pemandu acara, melainkan bagian yang selama ikut menentukan arah redaksional. Yang pastilah memerlukan waktu dan penyesuaian.

Pada akhirnya, kebebasan dan dalam menentukan pilihan menjadi yang utama Najwa Shibab bebas menentukan berkarier di mana dengan cara apa. Penglaman selama 17 tahun di satu tempat, sangat mempen garuhi, namun juga bukan segalanya.

Profisionalismenya juga lobi-lobi selama ini—bisa berhubungan dengan tokoh-tokoh utama negeri ini, membuka banyak kemungkinan. Bahwa mata Najwa tak benar-benar tertutup. Hanya berkedip.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment