Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Meditasi Fransiskus Asisi lewat Melayani Sesama

Meditasi Fransiskus Asisi lewat Melayani Sesama
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Meditasi Bersama Fransiskus dari Asisi

Penulis : Joseph M Stoutzenberger dan John D Borger

Penerbit : Sekafi

Cetakan : April 2018

Tebal : 160 halaman

ISBN : 978–602-06-2061-9

Selama berabad-abad, Santo Fransiskus menjadi seorang pembimbing dan teman yang baik bagi orang-orang yang mencari hubungan lebih dekat dengan Allah. Fransiskus menemukan Tuhan secara nyata. Ia menjalani suatu hidup penuh pengabdian yang radikal pada Allah lewat pelayanan orang lain, khususnya kaum papa.

Tidak heran, Fransiskus lebih menarik rakyat biasa daripada kaum terpelajar. Devosi-devosi yang po­puler bagi kebanyakan orang Katolik dihubungkan dengan Fransiskus. “Palungan Natal, perhentian jalan salib, stigmata, patung-patung di kebun yang dikitari burung-burung, dan bunga segera mengingatkan orang kepadanya,” (hlm 13).

Dia menemukan inspirasinya da­lam Injil lewat kisah-kisah Yesus saat Dia berjalan bersama orang-orang di jalan dan bercakap-cakap bersama mereka dengan penuh kasih. Tanpa membeda-bedakan, baik bercakap dengan anak kecil, pemungut cukai, penderita kusta, maupun kaum Farisi. Fransiskus lalu mengalami kabar baik yang menjadi daging dalam diri orang miskin dan melarat.

Baginya, barang-barang di dunia ini menyuarakan kasih Allah. Manu­sia, buku-buku, Gereja, jangkrik, serta cacing tanah adalah tanda kasih dan wahyu Allah yang harus dimasukkan ke dalam hati. Corak spiritualitas Fransis­kan ini mengisi secara alamiah tradisi Kristen dan memantulkan lagi kisah Yesus yang kita temukan dalam Injil.

Fransiskus dilahirkan dalam ke­luarga kelas menengah. Ayahnya seorang pedagang kain yang kaya dan memberinya kemewahan. Pada masa muda, Fransiskus menikmati gaya hidup mewah. Bersama banyak teman dari kota Asisi, Italia, dia turut dalam kelakar -kelakar dan sangat menyenangkan. “Ia memimpin te­man-temannya bernyanyi, menari, dan bersukaria. Dia sopan, jenaka, dan mudah berteman. Ini membuat Fransiskus menjadi terpandang oleh masyarakat kota itu,” (hlm 19).

Pada awal perjuangannya untuk menghayati Injil, dia memberi uang pada orang miskin lebih gampang daripada ketika menghabiskannya dengan teman-teman yang mengejar keuntungan sebelum pertobatannya. Fransiskus dengan gembira hati men­jelajahi diri, melepaskan barang milik ayahnya, dan menyatakan diri sebagai anak Allah.

Dalam kisah-kisah Injil, Yesus mengajari para murid untuk memberi pakaian kepada orang-orang yang telanjang dan merawat orang-orang sakit. Fransiskus menirunya. Dia men­cium orang kusta. Bagi Fransiskus, perawatan penuh kasih bagi seseorang yang dipandang rendah dan terbuang adalah jalan alami untuk membalas kasih Allah (hlm 87).

Pendiri Ordo Fratrum Minorum (Ordo Saudara Dina/OFM) ini meng­anggap rendah uang sebagai sesu­atu yang memisahkan antarsesama. Ia mengakui, uang dapat mengikat orang untuk menjauhi sesama, bina­tang, dan makhluk-makhluk Allah yang berharga. Karena alasan inilah, Fransiskus menasihati para pengikut­nya untuk tidak menyentuh uang.

Dia juga menolak polarisasi antara orang berkuasa dan tidak berdaya, orang kaya dan miskin, serta antara bangsawan dan rakyat jelata. Dia minta pengikutnya untuk tidak me­rasa superior. Baginya, Allah sendi­rilah Bapa. Semua yang lain adalah saudara-saudari.

Karya ini lebih dari sekadar buku tentang spiritualitas. Buku mencoba mengajak untuk bermeditasi seperti cara Fransiskus lewat totalitas peng­abdiannya kepada sesama manusia. Dimulai dari pikiran dan keyakinan bahwa semua manusia sama dan jalan mendekati Allah lewat mengasihi me­reka yang sengsara seperti diteladank­an Yesus dalam Injil (hlm 113).

Buku mengajak untuk mengguna­kan kenangan, imajinasi, dan keadaan seputar hidup sebagai media meditasi. Fransiskus bepesan, Allah berbicara dan menyentuh kita tiada henti-henti. Kita harus belajar mendengar dan merasakan dengan segala sarana yang Allah berikan. Diresensi Moh Zammil Rosi, Alumnus STKIP Sumenep

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment