Koran Jakarta | October 20 2019
No Comments

Melihat Perjalanan Musik Tanah Air

Melihat Perjalanan Musik Tanah Air
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Budaya Musik Indonesia
Penulis : Wisnu Mintargo
Penerbit : Kanisius
Cetakan : 2018
Tebal : 173 Halaman
ISBN : 978-979-21-5747-5

Musik dapat menjadi salah satu cara meleburkan berbagai perbedaan. Musik Tanah Air berakulturasi dengan musik dari luar negeri sebagaimana diperlihatkan buku Budaya Musik Indonesia. Meskipun awalnya beberapa jenis musik lahir sebagai sarana komunikasi manusia dan Pencipta bersifat magis, dalam per­kembangannya, muncul beragam jenis untuk berbagai tujuan.

Salah satu musik yang masih terkait dengan upacara keagamaan, gamelan Bali, yang berfungsi sebagai sarana ritual manusia dengan Tuhan dan upa­cara, seperti perkawinan, kelahiran, dan potong gigi. Gamelan Bali juga berfung­si sebagai sarana hiburan (hal 61–62).

Selain itu, ada pula musik untuk membangkitkan nasionalisme seperti lagu perjuangan yang disebut dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk tujuan nasional. Lagu perjuangan mempunyai berbagai fungsi, di antara­nya fungsi primer sebagai sarana upa­cara dalam kegiatan seremonial ken­egaraan, berisi pesan pembangunan. Contoh lagu kebangsaan, Indonesia Raya, ciptaan WR Supratman.

Sementara itu, fungsi sekunder seba­gai sarana pembangkit semangat cinta Tanah Air guna menghimpun persa­tuan dan kesatuan melawan penjajah. Contoh, lagu Maju Tak Gentar ciptaan Cornel Simanjuntak dan Halo-halo Bandung karya Ismail Marzuki (hal 36 dan 47).

Salah satu musik hasil pencampuran berbagai budaya, musik dangdut, tidak terlepas dari perkembangan orkes Me­layu yang diawali setelah perang kemer­dekaan pada 1950. Saat itu bersamaan dengan membanjirnya film Malaysia dan India di Tanah Air. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian besar masyarakat Indonesia pada musik dan lagu yang terjalin erat dengan cerita pada film tersebut.

Pada 1955 sampai 1960, muncul komunitas penggemar orkes Melayu, kemudian lahir kelompok musik dengan peralatan instrumen musik elektronik yang menjadi tren masa kini. Dalam perkembangannya orkes Melayu memiliki sebutan baru, dang­dut. Hal ini terkait dengan dominasi bunyi dari ketipung (tabla) dalam musik India. Musik ini semakin popu­ler di Indonesia dan selalu mendapat nuansa lokal, melalui penggunaan ba­hasa daerah pada lirik. Ada dangdut Jawa, Minang, Bali, dan sebagainya (hal 77 dan 83).

Buku ini juga mengupas berbagai aliran musik yang masuk Indonesia, seperti pop, rock, dan jazz yang telah mengalami pencampuran ciri khas Indonesia dan menggeliatkan indus­tri musik Tanah Air, selain dangdut. Sayangnya, industri ini sering terkotori dengan aksi pembajakan.

Hal ini berkaitan dengan indus­tri musik yang berkembang dalam berbagai bentuk media. Fenomena pembajakan hak cipta lagu melalui rekaman CD, VCD, DVD, dan MP3 beredar sangat luas. Menurut perhim­punan masyarakat Hak Atas Kekayaan Intelektual, sekitar 30 juta keping ilegal beredar terdiri dari 4.000–6.000 judul di pasar Indonesia.

Tingginya pelanggaran hak cipta tersebut dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya tingkat pemahaman masya­rakat tentang arti dan fungsi hak cipta yang rendah. Juga sikap dan keinginan untuk meraih keuntungan dagang secara mudah. Tetapi dengan adanya Undang-Undang No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, pihak berwenang dapat terjun langsung ke lapangan un­tuk minta para pedagang menghentikan penjualan musik bajakan. Razia secara kontinyu aparat hukum dilanjutkan da­lam bentuk sanksi hukum (hal 155–159).

Melalui buku ini, pembaca akan mengetahui sejarah perkembangan musik Tanah Air dan teknik dasar bermusik. Hal ini terkait dengan pro­fesi penulis sebagai akademikus dan musikus. Diresensi Yatni Setianingsih, Lulusan Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment