Koran Jakarta | December 11 2017
No Comments

Membaca Warna-warni Kehidupan Turki

Membaca Warna-warni Kehidupan Turki

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul Buku : Kirmizi Beyaz

Penulis : Lia Er dkk

Penerbit : Aura

Cetakan : Cetakan 1, April 2017

Halaman : 218 halaman

ISBN : 978-602-6565-90-7

Tidak dapat dipungkiri, Turki dan Indonesia memiliki banyak kemiripan, mulai dari sistem pemerintahan demokrasi yang dianut, masa kelam rezim represif militer, mayoritas penduduk pemeluk Agama Islam moderat, tergabungnya kedua negara tersebut dalam beberapa organisasi internasional yang sama, hingga kemiripan warna bendara dominan yang sama, yaitu merah putih.

Sisi praktik kehidupan sosial pun demikian, tak sedikit cara hidup, interaksi ditingkat masyarakat, budaya, hingga faktor-faktor lain yang kasat mata memiliki banyak kesamaan. Hal ini menjadi modal berarti kedua negara tersebut membangun sebuah hubungan positif produktif.

Turki dan segala warna-warni kehidupannya termuat secara sempurna dalam buku Kirmizi Beyaz ini. Gambaran Turki semakin nyata dan hidup karena buku ini narasikan langsung oleh para diaspora Indonesia di Turki, mulai dari pelajar, mahasiswa, alumni, juga beberapa yang sudah menetap di Turki karena bekerja atau berkeluarga (hal vi). Proses kebatinan yang dialami para diaspora menjadikan buku ini samakin penuh rasa dan kompleks.

Kumpulan tulisan dalam buku memuat beragam aspek yang berkaitan dengan Turki. Mulai dari tulisan yang mangkaji dominasi maskulin dan patriarkal di Turki, sejarah kudeta yang pernah terjadi, budaya kerja dan pelayanan publik, hingga menyangkut pengadilan konstirusional di Turki yang dibandingkan dengan Indonesia. Tidak luput pula kultus praktik keislaman yang ada di Turki. Aspek pendidikan juga menjadi point penting, mulai dari pendidikan pra sekolah, pemahaman dan ketersediaan layanan publik bagi disabilitas dan difabilitas, serta informasi beasiswa.

Ulasan menarik aspek sosial Turki bisa ditemui pada karya Lia Er, Misafir Perverlik, Keramah-tamahan Khas Bangsa Turki (hal 2). Masyarakat Turki sangat memuliakan tamu, karena mereka berkeyakinan bahwa tamu atau misafir pembawa berkah. Misafir membawa 10 berkah, 9 ditinggalkan di rumah pengundang, 1 keberkahan dibawa untuk dirinya.

Maka, memuliakan misafir bagi masyarakat Turki merupakan bagian dari kultus pengamalan agama. Mereka meyakini, keramah tamahan pada tamu adalah penolong yang bisa memudahkan dalam menjalani hidup, memupuk rasa aman, dan mempererat persaudaraan, tentu harapan utama adalah memperoleh keberkahan hidup (hal 5). Berkah atau bereket, menjadi penghias dalam setiap transaksi masyarakat Turki, baik ditingkat toko modern, maupun pasar tradisional.

Tidak hanya tamu, entitas sosial mereka juga terjadi pada setiap pendatang, lebih-lebih pada pelajar atau santri asing dan imam masjid. Mereka sangat memuliakan golongan tersebut, mereka yakin bahwa menjamu pendatang adalah bentuk lain dari ibadah (hal 8).

Kisah-kisah lain yang berkaitan erat dengan Turki juga dinarasikan dalam buku ini. Kilatan cahaya kesamaan dengan Indonesia sangat tampak dan nyata. Kirmizi Beyaz yang berarti “merah putih” melambangkan Indonesia sekaligus merepresentasikan Turki secara bersamaan. 

Peresensi, Khairul Amin, Alumnus Universitas Muhammadiyah Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment