Koran Jakarta | June 23 2018
No Comments

Membangun Budaya Kritis

Membangun Budaya Kritis
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Benny Susetyo, Pr

Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal (Dittipidsiber Bareskrim) menangkap 18 orang terkait ujaran kebencian dan penyebaran berita bohong (hoaks). Hoaks marak mencerminkan kultur bangsa begitu mudah masuk dalam perangkap budaya kematian yang tecermin dalam ketidakmampuan dalam memilah pemberitaan rekayasa dan fakta. Ini karena budaya kristis dalam masyarakat masih rendah. Cara berpikir, bertindak, dan bernalar tidak pernah kritis

Budaya kristis selalu mempertanyakan kebenaran dan sumbernya. Teori kritis mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala sesuatu dan menyediakan cara-cara pengganti untuk menafsirkan peran sosial media massa. Contoh, teoritikus kritis berargumen bahwa media umumnya menyokong status quo. Bahkan, mungkin dalam hal tertentu bisa secara khusus, ketika status quo sedang di bawah tekanan atau mulai retak. Teori kritis sering menyediakan penjelasan rumit dan kecenderungan media untuk secara konsisten berlaku seperti itu.

Teori kritis sering kali menganalisis institusi tertentu, meraba- raba tujuan yang mau dicapai. Media dan budaya massa telah menjadi fokus teori kritis. Para peneliti kritis mengaitkan media dan budaya massa dengan berbagai permasalahan sosial. Bahkan, ketika media massa tidak dilihat sebagai sumber permasalahn, dikritik karena memperparah atau membuat masalah sulit diidentifikasi dan dipecahkan. Pendidikan kristis melahirkan sikap dan cara berpikir tidak mudah dimanipulasi proganda lewat ujaran kebencian dan SARA.

Kecerdasan masyarakat dalam menggunakan media sosial hanya bisa dibangun lewat sebuah kesadaran kritis dengan cara mendidik rakyat lebih bisa memilih berita dan konten bersumber akurat. Di sinilah pentingnya pendidikan literasi media sebagai menerima informasi secara kritis. Juga mengkritisi sisi lain dari informasi tersebut, yang berada di luar teks. Misalnya, pemberi informasi, pemilik medianya, dan pembiaya. Kemudian, tujuan dan untuk siapa informasi disebarkan. Siapa diuntungkan dan dirugikan atas penyebaran informasi tersebut?

Masyarakat harus menyadari, media dewasa ini dibangun berdasarkan kepentingan politis dan ekonomi. Bahkan bahkan dalam kasus tertentu kepetingan tersebut bisa hadir secara bersamaan atas kesepakatan kuasa politik dan pemodal.

Kemampuan masyarakat menyaring berita yang tidak jelas sumbernya, hanya bisa dilakukan dengan cara pendidikan yang melahirkan manusia kritis. Hal ini berualang kali ditekan mendiang Romo Mangunwijaya. Menurutnya, mendidik harus menjadikan siswa berdaya kritis dalam merespons situasi. Orientasi pendidikan untuk memerdekakan dan membebaskan. Tujuannya memanusiakan manusia melalui proses humanisasi dan hominisasi yang secara singkat disebut humaniora.

Tolak Belakang

Tetapi nyatanya, pendidikan selalu bertolak belakang dengan humanism. Ini tidak baru. Dengan konsep demikian terus-menerus, belenggu-belenggu dari sisa feodalisme khas Jawa dan kolonial, siswa hanya akan menjadi kader-kader politik mini. Mereka hanya menjadi manusia pelaksana kepentingan pemerintah dan kaum usahawan melalui indoktrinasi.

Sekolah tempat mendidik anak-anak muda dan penerus bangsa. Berbagai macam idealisme, karakter, dan pola pikir ada di dalamnya. Tugas pendidik melahirkan orang-orang dengan nilai-nilai humanisme. Pendidik berwenang penuh terhadap apa pun yang terjadi di dalam kelas. Paradigma bahwa siswa hanya sebagai objek karena superioritas guru membuat seakanakan kebenaran hanya di tangan pendidik.

Guru menciptakan jurang pemisah dengan siswa. Murid segan karena takut memperoleh nilai buruk kalau tidak sesuai dengan keinginan pendidik. Paradigam dunia pendidikan yang demikian jelas keliru.

Pendidikan yang tidak menghasilkan manusia humanis haruslah ditempatkan di dalam kerangka evolusi, untuk menciptakan murid yang dewasa, emansipatif, merdeka, humanis, dan bertanggung jawab. Menurut Romo Mangun pencarian jati diri tidak boleh berhenti, tapi harus bergerak evolutif agar berujung pada kesadaran akan eksistensi diri.

Pendidikan harus mampu mengantarkan siswa menjadi terbuka akan nilai-nilai kemanusiaan universal, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keindonesiaan. Pendidikan harus menjadikan manusia yang dinamik. Generasi muda harus meluaskan horizonnya dengan berpikir kreatif, eksploratif, inklusif, dan pluralistik.

Hidup adalah multidimensional. Kalau satu cara tiadk bisa, dapat mengambil langkah lain. Hidup selalu banyak kemungkinan selama pikiran tidak terbelenggu hanya pada satu konsep atau paradigma. Setiap sistem pendidikan ditentukan filsafat tentang manusia dan citra manusianya, sehingga tidak pernah netral.

Maka, visi seseorang, pemerintahan, ataupun swasta sangat menentukan arah pendidikan. Misalnya, apakah negara penganut paham pesimististik (Fukuyama dalam The End History and the last Man, 1992), atau optimististik (Fons Elders dalam Humanism Toward the Third Millenium, 1993). Apakah negara bersifat religius atau sekuler dan sebagainya. Maka, , perlu menelisik visi pemerintah atau swasta dalam menyelenggarakan pendidikan.

Dengan ini diharapkan orang menjadi sadar, pengetahuan akan pendidikan memperlihatkan pada era kini penuh tantangan dan harapan, dinamis dan multisentra terhadap peluang kerja sama untuk menciptakan kemanusiaan yang beradab,

Dia juga visioner dan profetis demi masa depan yang lebih terbuka untuk menjadi manusia- manusia baru. Dia memperspektifkan dan mengidealkan humanisme pendidikan. Caranya, berpikir kritis, berani, berpandangan luas, universal, mampu berwacana, danberdiplomasi. Dengan begitu dia akan menghasilkan gagasan-gagasan pembaruan yang segar. Pembenahan dunia pendidikan sangat mendesak untuk mengatasi hoaks dunia sosial yang semakin tak terkendali.

Penulis Seorang Rohaniwan

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment