Membangun Kepercayaan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 19 2020
No Comments
PERSPEKTIF

Membangun Kepercayaan

Membangun Kepercayaan
A   A   A   Pengaturan Font

Kasus penyalahgunaan dana masyarakat Asuransi Jiwasraya telah menyita perhatian masyarakat. Betapa tidak, dana triliunan rupiah begitu mudah berpindah tangan ke pihak lain kemudian tak jelas rimbanya. Bukan saja merugikan pemilik dana, pemerintah pun tak bisa lepas tangan sebab tertera sebagai pemegang saham Jiwasraya.

Menyusul Jiwasraya, berkembang pula sejumlah kasus di Asabri dan Taspen. Sekalipun dua lembaga terakhir belum masuk penyidikan aparat hukum, tapi tak menutup kemungkinan bakal menyusul Jiwaraya.

Selain lembaga resmi yang mengangkangi dana masyarakat, terungkap pula praktik investasi bodong miliaran rupiah dengan label MeMiles. Tak tanggung-tanggung, selain melibatkan selebritas, orang-orang terkenal, MeMiles juga memberikan hadiah-hadiah fantastis, di antaranya mobil-mobil mewah dan emas batangan.

Para ahli mengungkapkan, praktik penyalahgunaan dana masyarakat tersebut menggunakan skema Ponzi, yaitu modus investasi palsu yang membayar keuntungan investor dari uang mereka sendiri, atau uang dari investor berikutnya. Secara gamblang, pembayaran atas investasi bukan dari keuntungan yang diperoleh dari lembaga yang menjalankan bisnis keuangan tersebut.

Dengan kata lain, skema Ponzi itu seperti gali lobang tutup lobang dengan cari investor baru untuk bayar keuntungan nasabah lama. Kemudian, untuk menunjukkan performa yang bagus, dilakukan window dressing atau poles laporan keuangan dengan memasukannya sebagai pendapatan, bukan juga dicatat sebagai utang.

Diketahui, skema Ponzi merupakan konsep investasi yang digagas dan dikembangkan oleh seorang berkebangsaan Italia, Charles Ponzi pada tahun 1920. Awalnya, skema Ponzi ini dipraktikkan dalam suatu arbitrase dari kupon balasan surat internasional yang di setiap negara memiliki tarif berbeda.

Perbedaan tarif tersebut menjadi sumber keuntungan dari praktik ini yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi sang penggagas dan membayar keuntungan atau bagi hasil kepada para investor sebelumnya.

Konsep investasi skema Ponzi menjadi cikal bakal investasi bodong yang dipraktikkan di seluruh dunia hingga saat ini. Tidak ada kegiatan usaha apa pun yang didanai dalam investasi berkonsep ini. Investasi dengan skema Ponzi murni perputaran uang dari para anggotanya sendiri.

Artinya, skema Ponzi merupakan modus investasi palsu yang memberikan iming-iming keuntungan lebih besar dibandingkan jenis investasi lain.
Investasi dengan skema Ponzi tidak pernah memiliki keuntungan. Dana yang diklaim sebagai keuntungan yang dibagikan kepada para anggotanya sebenarnya bukanlah keuntungan murni dari kegiatan usaha, melainkan uang yang disetorkan oleh para anggota baru. Ketika tak ada lagi anggota baru yang bergabung, otomatis tidak ada setoran uang masuk yang bisa dibagikan kepada para anggota senior.

Di Indonesia, praktik akal-akalan investasi itu bukan baru terjadi, tapi sudah beberapa kali. Bahkan, sudah banyak yang diganjar hukuman penjara.
Soalnya kemudian, hukuman bagi pelaku praktik nakal investasi ternyata tidak membuat jera. Selalu saja ada pihak yang menjalankan praktik akal-akalan itu. Boleh jadi pula, di tengah masyarakat sekarang ini masih berlangsung investasi model skema Ponzi tersebut.

Apa yang terjadi dalam bisnis investasi tentu saja menurukan kepercayaan masyarakat. Padahal, kita sedang berupaya menjadi bangsa yang maju secara pendapatan maupun pengetahuan.

Kepercayaan adalah kebutuhan bagi manusia. Dengan kepercayaan manusia bisa memiliki pedoman yang diyakininya baik buat hidupnya.
Kini, saatnya membangun kepercayaan. Untuk itu, para pengambil kebijakan mesti konsisten dengan program yang dibuatnya demi kemajuan bangsa. Demikian pula aparat hukum, mesti tegas, berani menindak pelaku kejahatan investasi menjadi jera, dan tidak ada yang berani mengulanginya.

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment