Koran Jakarta | September 23 2019
No Comments

Membangun Ketenteraman Batin dengan Memaafkan

Membangun Ketenteraman Batin dengan Memaafkan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Forgiving the Unforgivable
Penulis : Afthonul Afif
Penerbit : Buku Mojok
Cetakan : Cetakan 1, Juni 2019
Tebal : viii + 242 halaman
ISBN : 978-623-7284-03-1

Sebagian orang kerap memaknai pemaafan sebagai kekalahan dan penurunan harga diri. Hal ini membuat orang membiarkan per­masalahan begitu saja tanpa penye­lesaian. Yang bersalah (pelanggar) enggan minta maaf. Sedang yang dirugikan (korban) merasa tidak perlu memaafkan. Kedua pihak mengam­bil sikap bodo amat dengan men­coba melupakan dan berharap waktu berjalan masalah itu selesai dengan sendirinya.

Buku ini menepis bahwa melupa­kan menjadi solusi. Dengan melupa­kan, barangkali akan terbebas dari beban-beban luka. Namun, ini hanya sementara karena luka-luka pada da­sarnya belum tersembuhkan. Ibarat obat, melupakan hanyalah pereda rasa nyeri dan tidak akan bisa me­nyembuhkan penyakit yang menjadi sumber rasa nyeri (hlm 50).

Mungkin tidak semua me­nyadari dan mengakui, dorong­an untuk melupakan sebenarnya penjelmaan dari kegentaran meng­hadapi dampak buruk. Orang ingin semuanya tetap dalam keadaan baik-baik saja. Sementara itu, kehidupan sebenarnya dalam keadaan darurat (hlm 52).

Minta dan memberi maaf adalah wujud tanggung jawab moral terhadap diri sendiri dan orang lain. Pemaafan ideal jika yang bersalah dan korban sama-sama aktif. Kendati demikian, tiada paksaan dalam memaafkan. Lagi-lagi orang dihadapkan pada pilihan: menjalankan atau tidak.

Ketika yang bersalah dan korban sama-sama pasif, tiada perbaikan hubungan. Padahal perbaikan hu­bungan adalah sesuatu yang hendak dicapai dari pemaafan. Kepekaan yang bersalah terkikis dari tanggung jawab seharusnya untuk minta maaf. Sedang yang tersakiti tanpa sadar membi­arkan diri terus dikuasai amarah, dendam, dan kebencian.

Memaafkan memang bukan per­soalan mudah dan tidak mungkin ter­jadi begitu saja. Sebab melibatkan pe­nyembuhan luka batin yang tersakiti. Proses ini membutuhkan waktu (hlm 80). Level penyembuhan luka tiap orang tidak sama. Semua tergantung pada seberapa berat pelanggaran yang terjadi. Hal ini berimbas pada panjang pendek waktu orang tersakiti dalam penyembuhan lukanya.

Buku ini menyebutkan beberapa dimensi pemaafan. Pemaafan palsu, diam-diam, total, dan tiada pemaafan. Buku mengajak merefleksi peng­alaman pemaafan pembaca dengan kesadaran baru. Kepekaan pembaca pada posisi sebagai pelanggar digelitik untuk bertanggung jawab dengan meminta maaf. Sebaliknya jika di posisi korban, berikanlah maaf. Buku mengupas tuntas pemaafan disertai contoh konflik ringan hingga berat bisa menuntun demi kesehatan batin yang pernah terluka.

Penyembuhan luka menjadi proses penting dalam memaafkan. Namun tidak dipungkiri proses inilah yang menjadikan pemaafan berat untuk ditempuh. Memaafkan tidak bisa disebut sempurna jika luka batin masih menganga. Memaafkan de­ngan sungguh-sungguh, meski tidak ada permintaan maaf oleh pihak yang bersalah, seolah-olah yang ada hanyalah kerugian pihak korban. Na­mun memaafkan bukanlah transaksi semacam itu. Semakin tulus memaaf­kan, tambah menunjukkan kualitas kemanusiaannya.

Memaafkan menyadarkan orang bahwa kemenangan sejati tidak selalu bermakna sebagai menaklukkan pihak lain. Tapi justru dengan jalan pengen­dalian diri untuk memaafkan. Me­maafkan merupakan pemberian untuk orang lain. Ini tindakan yang sekilas lebih mengutamakan kepentingan orang lain ketimbang diri sendiri.

Namun, apabila merujuk pada hasil-hasil positif tindakan tersebut, maka yang paling diuntungkan adalah orang yang memaafkan (hlm 145). Memaaf­kan adalah medan uji terbaik setiap manusia. Dengan memaafkan, orang menjadi tahu betapa tinggi kapasitas rasional dan spiritualnya (hlm 149). Diresensi Sitta Zukhrufa, Guru SMK NU Banat Kudus

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment