Koran Jakarta | November 19 2017
No Comments

Mencermati Jebakan dalam Bisnis Digital

Mencermati Jebakan dalam Bisnis Digital

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : The Content Trap A Strategist’s Guide to Digital Change

Penulis : Anand Bharat

Penerbit : Penguin Random House

Terbit : 2016

Kualitas produk sering kali dianggap satu-satunya kunci keberhasilan persaingan bisnis. Pendapat ini tidak salah bila menilik pemahaman, produk unggul akan selalu dicari konsumen. Namun, ketika persaingan bisnis sudah sangat keruh dengan model-model serupa, hanya berpegang pada pendapat itu bisa mispersepsi yang justru menggagalkan strategi perusahaan.

“Jika hanya berpikir, kualitas produk menjadi segala-galanya untuk meraih sukses, sebuah perusahaan sudah terjebak content trap” (hlm 361). Ini jebakan isi atau kualitas. Ahli Harvard Business School, Anand Bharat, menulis hasil penelitian dan pengalaman pribadinya seputar dunia bisnis digital berjudul The Content Trap, Strategist’s Guide to Digital Change. Isinya memotret user, product, dan functional connection yang mempengaruhi sukses bisnis digital.

Bharat menjabarkan user connection sebagai pentingnya sebuah hubungan antarpengguna atau konsumen. Ketika masyarakat memiliki persepsi serupa, itu dapat dimanfaatkan menjadi kunci sukes produk. Ia mencontohkan Apple pada medio 1980-an. Ketika itu Apple meluncurkan Macintosh generasi pertama yang dianggap akan mengguncang Microsoft. Satu dekade berlalu, tidak terjadi perubahan signifikan terhadap penjualan Macintosh.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ketika suatu komunitas telah nyaman berbicara dalam suatu bahasa, ketika muncul bahasa yang berbeda, perlu effort luar biasa untuk mengubahnya. Apalagi bila bahasa yang baru itu tidak bisa berhubungan langsung secara lancar. Hal ini menyebabkan Apple kesulitan menjual produk, bukan karena jelek, tapi tidak meningkatkan user connection.

Bharat menganalisis product connection yang lebih tepat diterapkan di bidang media dan entertainment. Kesuksesan didapat bukan dari memfokuskan bisnis pada suatu produk, tetapi mengelola berbagai produk atau product portfolios. Memahami cara kerja product connections akan membuka peluang baru perusahaan baik secara infrastruktur maupun hasil penjualan barang. Kerugian di satu produk bisa dimaklumi asal bisa membantu produk lainnya. Misalnya dalam industri musik. Berkembangnya internet membuat pembajakan semakin marak sehingga membuat record label khawatir.

Kenyataannya, kemudahan mengakses musik secara online justru membuat konsumen lebih rela membeli fisik dari record label. Bharat mengamati, walaupun penjualan CD menurun, penonton dan jumlah live concert justru meningkat.

Pakar ekonomi, Alan Krueger, mencoba menemukan alasan harga tiket konser meningkat, sedang penjualan CD menurun. Dia setuju dengan rockstar, David Bowie. “Di tahun 2002, Bowie mengatakan, musik akhirnya akan sama seperti air dan listrik karena semua orang memilikinya. Akan tetapi untuk dapat datang ke sebuah konser adalah satu-satunya situasi unik yang akan membedakan satu artis dengan lainnya” (hlm 358).

Sedangkan menyangkut functional connections, Bharat mengatakan kecenderungan pebisnis era digital selalu mencari pendekatan universal untuk memecahkan masalah ketimbang berpikir kontekstual (hlm 352).”

Suatu keputusan mematikan bisnis atau mengembangkan, bisa dilihat perusahaan go online atau tidak di bisnis media. Bharat melihat, New York Times (NYT) berhasil meluncurkan program langganan digital karena strategi tepat. Ketika perusahaan lain membuka portal digital berita cuma-cuma, NYT justru membatasi pembaca dengan menawarkan program langganan. Bharat menemukan dilema dalam bisnis e-Book dengan buku versi cetak. Banyak perusahaan akhirnya memfokuskan diri menjadi penerbit e-Book guna menekan biaya. 

Diresensi Resa Christian, lulusan Fakultas Ekonomi Bisnis UGM

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment