Mendampingi Anak Menghadapi Teknologi Informasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 23 2017
No Comments

Mendampingi Anak Menghadapi Teknologi Informasi

Mendampingi Anak Menghadapi Teknologi Informasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Setengah Jalan

Penulis : Ernest Prakasa

Penerbit : BFirst

Cetakan : Agustus 2O17

Tebal : 151 halaman

ISBN : 978-602-426-034-7

Saat ini, lompatan kemajuan teknologi informasi sangat tinggi. Di zaman teknologi radio, memerlukan waktu 30 tahun untuk mencapai 50 juta pengguna. Dengan kehadiran teknologi internet, media informasi semacam Facebook, WhatsApp dan YouTube hanya butuh hitungan bulan mencapai jumlah pengguna yang sama.

Menurut statistik, pengguna internet Indonesia 90 persen memakai YouTube yang lebih ajaib dari televisi. Dia sarana hiburan sekaligus kanal popularitas paling mudah dan murah yang bisa diakses kapan pun. Eskalasi konsumen YouTube semakin meningkat dan akhirnya menimbulkan kekhawatiran orang tua terhadap pengaruh buruk ke anak.

Bocah yang berperangai buruk karena nonton bukanlah kesalahan YouTube. “Seorang creator punya hak berkarya dengan jujur dan berekspresi sesuai dengan keinginannya. Kalau nanti karya mengandung konsekuensi hukum dan moral menjadi tanggung jawab masing-masing. Tapi, mengatur seseorang berkarya bukanlah solusi,” kata Ernest Prakasa, penulis buku ini (hlm 112).

Mengarahkan anak agar menjadi baik tugas utama orang tua, bukan YouTube. Sepanjang kehidupan selalu muncul pengaruh buruk anak. YouTube hanyalah bentuk baru. “Pengaruh buruk akan selalu ada dalam wujud apa pun. Digital ataupun nondigital. Mari jaga anak baik-baik,” katanya (hlm 117).

Untuk menghindari efek buruk YouTube, perlu meriset terus-menerus tentang varian kontens yang bagus. Kemudian, memutus tali kecanduan dengan minta anak lebih dulu mengerjakan game edukatif, sebelum menonton YouTube. Tidak sekadar memberi aturan sehat kepada anak, orang tua juga harus memantau asupan informasi dari teman. Misalnya, tema dan kalimat yang belum selayaknya mereka gunakan.

Fakta tersebut menunjukkan betapa masifnya pengaruh media informasi kepada anak. Ia tidak hanya mudah dinikmati, namun juga sulit dihindari karena fasilitas yang tersedia di banyak tempat. “Itulah era sekarang. Memyembunyikan hal-hal tabu jadi semakin sulit. Satu-satunya yang bisa gue dan istri lakukan menghadapi semua dengan berusaha agar lebih siap ilmu dengan riset. Yang lebih penting lagi, siap mental menghadapi lontaran kalimat-kalimat tidak terduga dari bocah SD,” ujar Ernest (hlm 70).

Seburuk apa pun masalahnya, orang tua adalah kunci segalanya bagi anak. Memang sangat sulit mendidik anak. Namun, Tuhan telah memberi nurani sehingga bisa mengawal anak melewati beragam masalah. Yang penting, orang tua terus belajar dan memperbaiki diri lebih dulu.

Perlu teladan, hormat, dan ruang. Apa pun yang ingin diajarkan kepada anak harus lebih dulu dijalankan orang tua supaya dia melihat. Itulah teladan (hlm 20). Anak adalah replika orang tua. Dia akan banyak meniru teladan orang tua. Semua perilaku positif harus ditampilkan untuk menanamkan nilai utama dalam jiwa. Empati, toleransi, dan integritas menjadi titik berat keluarga.

Anak yang dihormati akan belajar menghormati diri dan orang lain. Hormati pilihannya agar belajar berani memilih dan menghormati pilihan orang lain, walau berbeda, serta memberikan ruang seluas-luasnya untuk meningkat kemampuan diri yang khas. Anak mirip pepohonan yang bisa tumbuh maksimal ketika diberi ruang menghirup udara dan panas matahari. “Prinsip kami coba sebanyak mungkin, lalu pilih yang mau ditekuni,” katanya (hlm 23).

Buku ini ditulis berdasarkan pengalamanya mendidik kedua anak. Kendatipun bukan ahli pendidikan, dia senantiasa belajar mendidik anak dari beragam sumber pengetahuan. 

Diresensi Yudi Prayitno, Lulusan Wearnes Education Centre, Malang

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment